4 Masalah Gizi yang Sering Dialami Banyak Remaja di Indonesia

Ilustrasi. (Ist)

Jakarta – Remaja merupakan calon pemimpin dan penggerak dalam pembangunan di masa depan. Remaja merupakan masa yang sangat berharga, terlebih bila mereka berada dalam kondisi kesehatan yang baik.

Namun di Indonesia, banyak remaja yang mengalami masalah kesehatan gizi. Hal ini disampaikan oleh Plt. Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI, dr. Pattiselano Robert Johan, MARS dalam sebuah seminar kesehatan dan gizi remaja di Gedung Kemenkes, Jakarta Selatan pada Selasa (15/05/2018).

Berikut ini adalah empat masalah gizi yang sering dialami oleh remaja di Indonesia, seperti yang dilansir dari detikHealth:

1. Kekurangan zat besi

Anemia dikalangan remaja perempuan lebih tinggi dibanding remaja laki-laki. Padahal dari segi dampak, anemia bisa menimbulkan penurunan imunitas, konsentrasi, prestasi belajar, kebugaran remaja dan produktivitas.

Baca Juga:  Ini Tips dari Pakar untuk Penuhi Gizi Harian Anak

“Anemia yang dialami remaja putri berdampak lebih serius, mengingat mereka adalah calon ibu yang akan hamil dan melahirkan seorang bayi, sehingga memperbesar risiko kematian ibu melahirkan, bayi lahir prematur dan berat bayi lahir rendah (BBLR),” ujarnya.

2. Stunting (kurang gizi kronis)

Remaja Indonesia banyak yang tidak menyadari bahwa mereka memiliki masalah stunting. Stunting sendiri merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Gejala biasanya nampak pada usia dua tahun dan salah satu dampaknya adalah tinggi badan yang tidak sesuai dengan umur (pendek).

Baca Juga:  Ini Tips dari Pakar untuk Penuhi Gizi Harian Anak

“Stunting dapat menimbulkan dampak jangka pendek, diantaranya penurunan fungsi kognitif, penurunan fungsi kekebalan tubuh, dan gangguan sistem metabolisme tubuh yang akan menimbulkan risiko penyakit degeneratif seperti diabetes melitus, jantung koroner, hipertensi dan obesitas,” paparnya.

3. Kurus atau Kurang Energi Kronis (KEK)

Remaja yang kurus bisa disebabkan karena kurang asupan zat gizi, baik karena alasan ekonomi maupun alasan psikososial contohnya penampilan.

“Kondisi ini meningkatkan risiko berbagai penyakit infeksi dan gangguan hormonal yang akan berdampak buruk pada kesehatan,” paparnya.

4. Kegemukan atau obesitas

Pola makan remaja yang tergambar dari data Global School Health Survey tahun 2015 menyatakan bahwa 42,5 persen remaja cenderung menerapkan pola hidup sedentari, sehingga kurang melakukan aktivitas fisik. Sebagian besar remaja yaitu 93,6 persen kurang mengonsumsi sayuran dan buah-buahan, dan 75,7 persen remaja sering mengonsumsi makanan yang mengandung penyedap. Hal-hal tersebut meningkatkan risiko remaja menjadi overweight bahkan obesitas.

Baca Juga:  Ini Tips dari Pakar untuk Penuhi Gizi Harian Anak

“Obesitas dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti hipertensi, penyakit kardiovaskuler, diabetes melitus, kanker, osteoporosis dan lain-lain yang berimplikasi pada penurunan produktivitas dan usia harapan hidup,” tambahnya.

Hal ini menunjukkan bahwa pentingnya para remaja di Indonesia untuk memahami tentang kesehatan gizi dalam menjalani kehidupan dan menjalani pendidikan di sekolahnya. (net/hp)

 

 

265 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Gizi Anak

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan