50 Pemuda Dilatih Menjadi Pejuang Iklim Pada YLCCC

(ist) 
BANDARLAMPUNG, FS – The Climate Reality Project Indonesia, bekerja sama dengan UNESCO Office Jakarta dan UNITAR, mengadakan Youth Leadership Camp on Climate Change 2017 (YLCCC), sebagai bagian dari pelaksanaan fase kedua UN CC Learn, yang didukung oleh Pemerintah Swiss dan mitra Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Pelatihan ini akan berlangsung selama 3 hari sejak hari Sabtu hingga Senin, tanggal 24 hingga 26 Februari 2017 di Hotel Asoka, Bandarlampung, dan akan melakukan site visit ke Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Provinsi Lampung, Bengkulu, dan Sumatera Utara.
Manager The Climate Reality Project Indonesia, Amanda Katili Niode, mengatakan, bahwa kegiatan ini merupakan wadah bagi pemuda Indonesia untuk mendalami isu perubahan iklim sekaligus belajar bagaimana komunikasi pada masyarakat.
“Pemuda Indonesia merupakan segmen penduduk yang sesuai sekali untuk menjadi pelopor di masyarakat. Mereka punya semangat membara untuk jadi agen perubahan dan punya kemampuan teknologi informasi yang relatif tinggi. Kita harus wadahi itu,” kata Amanda, saat ditemui disela-sela acara kegiatan, Jumat (24/2).
Sementara itu, Eva Juniar Andika (21), dari Jurusan Kehutanan, Universitas Bengkulu yang juga merupakan Ketua Komunitas Perempuan Penyelemat Situs Warisan Dunia serta penyiar radio UNIB ini, berharap, agar materi yang disampaikan pada YLCCC 2017 ini dapat menunjang kegiatan komunitasnya nanti.
“Komunitas kami berfokus pada perubahan iklim dan dampaknya bagi Situs Warisan Dunia dan juga bagi perempuan yang tinggal di sekitar hutan. Ketika banyak bencana alam, korban utama adalah perempuan. Sepulang dari sini, saya dan tim bisa menyampaikan penyebab, dampak, dan solusi perubahan iklim bagi masyarakat sekitar. Ini penting sekali untuk dilakukan oleh pemuda terutama kami yang sudah dilatih dan menjadi Pejuang Iklim,” ujar Eva.
Kepala Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) Timbul Batubara, menambahkan para pemuda harus menjadi leadership untuk dapat menjaga kelangsungan kawasan konservasi hutan. “Barisan para pemuda ini, nantinya akan menjadi pemimpin dan kader konservasi alam. Mereka akan menjadi orang terkemuka dalam kepimpinannya dan memiliki aksi nyata untuk menggerakkan masyarakat disekeliling untuk turut peduli dengan lingkungan,” kata dia.
Timbul juga menyatakan, UNESCO juga sudah menetapkan TNBBS sebagai warisan dunia. “Jadi, taman nasional ini butuh dijaga untuk warisan anak cucu kita nanti,” tegasnya.
Selain itu, menurutnya, sikap perilaku masyarakat harus sejalan antara kultur dan budaya yang ada. Sehingga perusakan lingkungan juga dapat dicegah. “Taunya selama ini, untuk kepentingan ekonomi, rakyat merambah merubah bentang alam hutan menjadi ladang. Beruntung lahan kita masih berupa tanaman kopi,” kata dia.
Ditempat yang sama, Ray Nayoan, sineas muda Indonesia, yang beberapa kali memproduksi film tentang perubahan iklim, menyatakan, bahwa perubahan iklim itu isu yang kompleks, sangat menantang untuk disampaikan melalui film. “Jika berhasil mengemas dengan baik, hasilnya adalah masyarakat jadi lebih mudah mencerna dan harapannya mereka mau mengubah gaya hidup menjadi lebih rendah karbon,” kata Ray, yang menjadi salah satu trainer dalam camp tersebut.
Terpisah, melalui tele conference, Cristina Rekakavas, UN CC Learn Secretariat, menyampaikan, selamat kepada seluruh mahasiswa dan pemuda/i atas partisipasinya dalam acara ini. Acara ini berkontribusi terhadap pelaksanaan National Climate Change Learning Strategy of Indonesia, yang diluncurkan pemerintah Indonesia pada tahun 2013 lalu.
“Pembinaan pemuda/i merupakan investasi yang penting untuk dilakukan guna dapat mewujudkan masa depan yang berkelanjutan. Upaya tersebut diimplementasikan melalui UN CC Learn Partnership yang mendukung penuh pemuda/i seluruh dunia untuk meningkatkan pengetahuan dan kapasitas untuk mengatasi perubahan iklim, menghadapi tantangan dan menjajagi kesempatan yang tersedia. Pemuda/i merupakan pemimpin, pengambil keputusan dan konsumen di hari esok. Jadi, mulailah dari sekarang dengan menularkan antusiasme kalian dan berpikir kreatif,” papar Cristina.
Untuk diketahui, setelah pelatihan, peserta akan dikukuhkan menjadi Pejuang Iklim dan diwajibkan untuk menerapkan aksi pengendalian perubahan iklim secara langsung di lingkungan sekitarnya. Peserta terbaik akan disponsori oleh UN CC Learn untuk mengikuti Tribal Climate Camp 2017 di Amerika Serikat, pada tanggal 31Juli hingga 4 Agustus 2017, yang akan diikuti pemuda/i, kaum profesional pegiat perubahan iklim dan masyarakat adat dari Amerika Serikat dan Kanada.(ZN)

151 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Berita Terkait

Leave a Comment