Ada Hubungan Apa Jaksa Adi Dalam Kasus Mantan Wakil Ketua DPRD Bandar Lampung Khairul Bakti?

Ada Hubungan Apa Jaksa Adi Dalam Kasus Mantan Wakil Ketua DPRD Bandar Lampung Khairul Bakti?

Foto jaksa Adi Mulyawan dalam momen serah terima jabatannya sewaktu menjabat Kasi Intelijen Kejari Menggala.

Bandar Lampung – Seorang petugas kejaksaan di Kejari Tanggamus bernama Adi Mulyawan berkunjung ke Kantor Redaksi Fajar Sumatera.

Ia tidak sendiri, Adi Mulyawan ditemani seorang wartawan bernama Aan Anshori.

Kedatangan mereka pada Senin (21/1/2020) diketahui untuk meminta menurunkan produk jurnalistik yang terbit di media online Fajar Sumatera.

Produk jurnalistik yang ia minta untuk diturunkan adalah pemberitaan dengan judul Ada Rekayasa Sidang Khairul Bakti dan Reynold Manurung Dalam Kasus Senpi dan Narkoba.

Permintaan itu disampaikannya sembari menyodorkan amplop berisi uang sebesar Rp500 ribu. Singkat cerita, permintaan Adi itu tidak dipenuhi redaksi Fajar Sumatera.

Sebab, permintaan Adi tidak logis. Karena secara langsung pemberitaan tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan dia.

Keesokan harinya, sejumlah orang terlihat berkeliaran di kawasan kantor Fajar Sumatera di Tanjung Gading, Kecamatan Kedamaian.

Tak lama kemudian, dua orang pria bertamu ke kantor Fajar Sumatera. Salah seorang pria dari mereka menyatakan maksud dan tujuannya.

“Kami disuruh sama Adi. Jaksa di Kejari Tanggamus,” ujar pria berkemeja hijau dengan topi hitam. Kejadian ini berlangsung pada Selasa (21/1/2020) malam.

Tujuan mereka masih sama dengan Adi yang sebelumnya sudah datang. Meminta untuk menurunkan produk jurnalistik tentang sidang perkara senpi dan narkoba yang menyeret nama Khairul Bakti dan Reynold Manurung.

Hal yang sama juga dilakukan kedua pria ini, menyodorkan amplop berisi uang sebesar Rp500 ribu. Tetapi permintaan mereka tidak dapat dipenuhi.

Kami sudah melakukan penelusuran terhadap Adi. Sumber di Kejari Tanggamus membenarkan Adi sebagai pegawai kejaksaan. Adi disebut sebagai pemeriksa di Kejari Tanggamus.

Asisten Intelijen pada Kejati Lampung, Raja Sakti Harahap mengatakan segera melakukan pencarian terhadap jaksa bernama Adi. “Terimakasih informasinya,” ucapnya saat dihubungi, Rabu (22/1/2020).

Tindakan yang dilakukan Adi ini sangat disayangkan. Oleh karenanya, bagian pengawas di Kejaksaan Agung RI diminta untuk segera bertindak.

Hal yang dilakukan Kejaksaan Agung terhadap Kejari Bandar Lampung Yusna Adia yang diduga menerima aliran uang dalam kasus korupsi di Lampung Utara harus juga dilakukan terhadap Adi.

“Semua perlakuan jaksa yang mencoba menurunkan marwah Kejaksaan Agung harus ditindak. Kemarin saya dapat informasi yang langsung dibenarkan Kapuspenkum, bahwa ada pemeriksaan secara internal kepada jaksa. Kepada Adi ini juga harusnya diberlakukan juga,” tegas Pengamat Hukum Yusdianto Alam.

Yusdianto menilai, jaksa Adi tidak paham dengan tugasnya sebagai jaksa dengan tugas jurnalis.

Antara aparatur Kejaksaan Agung dan Pers menurut Yusdianto, seharusnya dapat bersinergi. Sebab, keduanya mendapat amanat dari UU.

“Sebagai aparatur Kejaksaan Agung, jaksa beraktivitas dilindungi UU Kejaksaan. Begitupun jurnalis, ia juga beraktivitas sesuai amanat yang tertuang di dalam UU Pers. Dalam konteks ini keduanya harusnya bisa bersinergi. Bukan malah saling menaklukkan dalam tanda petik,” ujarnya.

“Saya kira dalam hal ini seharusnya jaksa memahami tupoksi jaksa dan jurnalis pun memahami tupoksi jaksa,” tambahnya.

Yusdianto pun mempertanyakan bagaimana prosedur perekrutan dan pengawasan Kejaksaan Agung terhadap kejaksaan.

“Kita juga mempertanyakan proses rekrutmen dan pengawasan Kejagung terhadap aktivitas jajarannya baik ketika beraktivitas di luar tupoksi jaksa dan di luar itu,” imbuhnya.

Yusdianto berharap, kejadian seperti ini tidak lagi terulang. Sebab, masih ada kelakuan jaksa yang diduga menyalahgunakan narkoba, memiliki senpi ilegal, menerima aliran uang di dalam kasus korupsi.

“Harapan saya ke depan, kejadian seperti ini tidak ada lagi. Saya harap tidak ada peristiwa yang menyimpang dari aparatur kejaksaan,” ucapnya.

“Jangan lagi ada tindakan yang begini, sampai-sampai aparatur kejaksaan melakukan tekanan terhadap kerja-kerja jurnalistik seperti yang terjadi di jaman Orde Baru,” pungkasnya.

Berdasarkan penelusuran kami, Adi punya hubungan keluarga dengan Khairul Bakti, mantan Wakil Ketua DPRD Kota Bandar Lampung yang terseret dalam kasus narkoba dan senjata api (senpi) ilegal ini.

Ia sempat bertugas selama 2 tahun 11 bulan di Kejari Menggala sebagai Kasi Intel sejak tahun 2014.

Sempat juga bertugas sebagai Kasi Pidum di Kejari Metro pada tahun 2018.

Untuk diketahui, sidang kasus Khairul Bakti ini ditangani Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Kejati Lampung Roosman Yusa. Dalam putusan majelis hakim yang diketuai Yus Enidar, Khairul Bakti divonis rehab selama 10 bulan.

Khairul Bakti dinyatakan bersalah dengan tuduhan menggunakan narkotika. Reynold Manurung divonis 2 tahun penjara karena dinyatakan bersalah atas kepemilikan senpi.

Padahal, saat kasus ini diungkap di awal Direktorat Reserse Narkoba Polda Lampung, Khairul Bakti dituding sebagai pemilik senpi. (Ricardo)

Posting Terkait