Agus Istiqlal Cegah Konflik SARA

KRUI – Bupati Pesisir Barat (Pesibar) Agus Istiqlal membuka dialog pencegahan konflik suku, agama, ras dan antar golongan (SARA), di GSG Slalaw, Labuhanjukung, Kamis (24/5/2018).

“Sebagai mana kita ketahui bersama bahwa bangsa indonesia merupakan negara yang berasaskan bhinneka tunggal ika yang artinya walaupun berbeda-beda tetap satu kesatuan Indonesia dan itu merupakan kekayaan tak ternilai,” kata bupati.

Namun, perbedaan tersebut mengandung potensi terjadinya konflik kepentingan antar kelompok yang berbeda-beda. Permasalahan yang paling sering terjadi adalah konflik antar pemeluk agama yang menyebabkan timbulnya kerawanan hubungan antar umat beragama.

Bersumber dari berbagai aspek,  diantaranya adalah sifat dari masing-masing agama yang mengandung tugas dakwah atau misi dari agamanya masing-masing seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha, kurang adanya komunikasi antar pemimpin masing-masing umat beragama, dan kecenderungan fanatisme yang berlebihan yang mendorong munculnya sikap kurang menghormati bahkan memandang rendah pihak lain.

Suatu konflik sosial bernuansa agama biasanya terjadi karena bertemunya empat elemen utama dalam waktu yang bersamaan, yaitu  konteks pendukung, akar konflik, sumbu dan pemicu. Sehingga, di dalam masyarakat yang memiliki keberagaman, apabila empat elemen itu sudah menyatu akan menjadi bom waktu atau potensi konflik yang siap meledak sewaktu-waktu.

Salah satu kabupaten yang memiliki masyarakat plural dan permasalahan atau potensi konflik antar agama yaitu di Pesibar. “Seperti permasalahan yang baru-baru ini terjadi. Yaitu, sengketa pendirian rumah ibadah di Pekon Wayjambu, Kecamatan Pesisir Selatan, Januari lalu.

Jika tidak ditindaklanjuti, dikhawatirkan permasalahan tersebut akan terus berkembang dan berdampak pada konflik fisik, sehingga mengganggu stabilitas keamanan.

Bupati mengharapkan acara kegiatan dialog itu dapat memberikan gambaran pencegahan konflik terhadap masyarakat. “Saya mengajak kita semua untuk saling mendoakan, saling membantu dalam ketulusan, saling menghormati dan menghargai dalam berbagai perbedaan,” ujarnya.

Turut hadir, wakil bupati, anggota DPRD Pesisir Barat,  Polres Lambar, Kodim 0422 Lambar, Kejari, OPD, para tokoh agama, adat, dan warga.(AG)

KRUI – Bupati Pesisir Barat (Pesibar) Agus Istiqlal membuka dialog pencegahan konflik suku, agama, ras dan antar golongan (SARA), di GSG Slalaw, Labuhanjukung, Kamis (24/5/2018).

“Sebagai mana kita ketahui bersama bahwa bangsa indonesia merupakan negara yang berasaskan bhinneka tunggal ika yang artinya walaupun berbeda-beda tetap satu kesatuan Indonesia dan itu merupakan kekayaan tak ternilai,” kata bupati.

Namun, perbedaan tersebut mengandung potensi terjadinya konflik kepentingan antar kelompok yang berbeda-beda. Permasalahan yang paling sering terjadi adalah konflik antar pemeluk agama yang menyebabkan timbulnya kerawanan hubungan antar umat beragama.

Bersumber dari berbagai aspek,  diantaranya adalah sifat dari masing-masing agama yang mengandung tugas dakwah atau misi dari agamanya masing-masing seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha, kurang adanya komunikasi antar pemimpin masing-masing umat beragama, dan kecenderungan fanatisme yang berlebihan yang mendorong munculnya sikap kurang menghormati bahkan memandang rendah pihak lain.

Suatu konflik sosial bernuansa agama biasanya terjadi karena bertemunya empat elemen utama dalam waktu yang bersamaan, yaitu  konteks pendukung, akar konflik, sumbu dan pemicu. Sehingga, di dalam masyarakat yang memiliki keberagaman, apabila empat elemen itu sudah menyatu akan menjadi bom waktu atau potensi konflik yang siap meledak sewaktu-waktu.

Salah satu kabupaten yang memiliki masyarakat plural dan permasalahan atau potensi konflik antar agama yaitu di Pesibar. “Seperti permasalahan yang baru-baru ini terjadi. Yaitu, sengketa pendirian rumah ibadah di Pekon Wayjambu, Kecamatan Pesisir Selatan, Januari lalu.

Jika tidak ditindaklanjuti, dikhawatirkan permasalahan tersebut akan terus berkembang dan berdampak pada konflik fisik, sehingga mengganggu stabilitas keamanan.

Bupati mengharapkan acara kegiatan dialog itu dapat memberikan gambaran pencegahan konflik terhadap masyarakat. “Saya mengajak kita semua untuk saling mendoakan, saling membantu dalam ketulusan, saling menghormati dan menghargai dalam berbagai perbedaan,” ujarnya.

Turut hadir, wakil bupati, anggota DPRD Pesisir Barat,  Polres Lambar, Kodim 0422 Lambar, Kejari, OPD, para tokoh agama, adat, dan warga.(AG)

 

611 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Agus Istiqlal Cegah Konflik SARA

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan