Akademisi Apresiasi Pemprov Lampung Keluarkan Kereta Babaranjang di Kota Bandarlampung

Bandarlampung,- Akademisi Universitas Lampung (Unila) Dedy Hermawan, mengapresasi hasil momorandum of understanding (MoU) Pemprov Lampung dengan Ditjen Perkeretaapian mengeluarkan jalur kereta Babaranjang di Kota tapis Berseri .

“Saya pikir ini sudah menjadi aspirasi warga Kota Bandarlampung, karena itu membawa sumber kemacaten dan polusi yang dibawa oleh babaranjang. Sekali lagi saya sangat sepakat jika perlintasan itu dipindahkan ke pinggiran kota,” papar Dedi.

Lanjutnya, Pemprov juga harus cepat mengimplementasikan hal ini, karena banyak kawasan-kawasan strategis yang terhalang oleh lalu-lintas babaranjang tersebut.

Menurut Dedi, sebagai pengguna, perlintasan kereta babaranjang benar-benar mengganggu. Karena, banyak muncul dampak-dampak negatif. Seperti, muncul prilaku tidak tertib dari pengguna jalan itu sendiri, kecelakaan, hingga polusi udara.

“Saya benar-benar merasakan dampak dari babaranjang itu sendiri. Belum lagi penumpukan kendaraan dari arah berlawanan, semua trabas oleh pengguna jalan,” ungkapnya.

Dari segi yang lain, secara tidak langsung juga mengganggu aktifitas ekonomi, karena selisih waktu yang terganggu. “Memang ini harus segara digeser karena sudah lama sekali. Dan untuk Pemprov, haru bisa mendorong dan terjdwal dengan baik. Tidak lupa sosialisasi kepada masyarakat, agar masyarakat juga paham,” tukasnya.

Baca Juga:  Gubernur Ridho Keluarkan Kereta Babaranjang dari Kota Bandarlampung

Sebelumnya, Gubernur Lampung M Ridho Ficardo, bersama Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Perkertaapian (Ditjen), akhirnya sepakat mulai tahun anggaran 2018, memprioritaskan pembangunan jalur shortcut Rejosari-Tarahan.

Dengan demikian, keberadaan Kereta Api Batu bara rangkaian panjang (KA Babaranjang), yang melintas di Kota Bandarlampung, otomatis keluar dari Kota Tapis Berseri.

Hasil ini, dituangkan dalam bentuk nota kesepahaman bersama (momorandum of understanding/MoU) antara Pemprov Lampung dan Ditjen Perkeretaapian. Dalam MoU itu juga, tertuang antara lain percepatan pembangunan jalur KA Rejorasari-Tarahan dan kewajiban Pemprov Lampung ikut membantu pembebasan lahan.

Pada rapat tersebut, Gubernur menyampaikan, keluhan warga Bandarlampung atas makin tingginya frekuensi perjalanan Babaranjang. Sambil bergurau, Gubernur menyampaikan jika KA Babaranjang lewat, bisa habis sebatang rokok untuk menunggunya.

Baca Juga:  Bandarlampung Bebas Babaranjang

“Saya menyampaikan aspirasi warga Bandarampung, agar seluruh KA industri tidak lagi lewat kota,” kata Ridho, di Kantor Kemenhub Jalan Medan Merdeka Barat No.8, Jakarta, Senin (10/7).

Pemprov Lampung dan Ditjen Perkeretaapian juga sepakat, shortcut Rejosari-Tarahan, tidak lagi wacana dan rencana, tapi di TA 2018, benar-benar terwujud di lapangan. Dengan terbangunnya jalur sepanjang 37 km tersebut, nantinya KA Babaranjang tidak lagi lewat di Stasiun Gedung Ratu, Labuhan Ratu, Tanjungkarang, Garuntang, dan Pidada.

“Seluruh KA industri tidak lagi memasuki Bandar Lampung. Jadi, dibuatkan jalur lingkar luar. Lahannya sebanyak mungkin menggunakan lahan yang dibebaskan tim Jalan Tol Trans Sumatera, agar biaya pembebasan lahan tidak terlalu besar,” kata Gubernur Ridho.

Jalur KA dalam kota sepenuhnya menjadi angkutan penumpang dengan konsep KA commuter jalan layang (elevated) antara Garuntang dan Natar sepanjang 8,8 km.

Baca Juga:  Warga Sambut Baik Kereta Babaranjang Tak Melintas Lagi di Kota Tapis Berseri

“Sehingga kereta api tidak memotong perlintasan kendaraan. Pada tahap awal tetap memakai rel yang ada. Ke depan jalur ini harus elevated atau harus naik,” kata Gubernur.

Rapat yang berlangsung 1,5 jam itu juga secara khusus membahas pembangunan Stasiun Khusus KA Bandara Radin Inten II yang bakal dilaksanakan Balai Teknik Pengembangan Perkeretaapian Sumbagsel di TA 2018. Stasiun ini dibangun di seberang Bandara Radin Inten II dan sebagai penghubung dibangun jembatan atas (sky bridge) sebagai akses dari dan ke Bandara.

Konsep ini, kata Gubernur, seperti Bandara Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara. “Kebetulan di depan Bandara Radin Inten II ada stasiun, itu digunakan untuk angkutan penumpang dari Bandar Lampung ke Branti dan ini termasuk jalur commuter, sehingga para mahasiswa yang ingin kuliah di sekitar Gedongmeneng, dapat memanfaatkannya,” kata Gubernur Ridho. (ZN)

Kereta Babaranjang

Posting Terkait