Alumni SMP N 2 Purworejo Prihatin Nasib Layla

Purworejo – Keprihatinan terhadap Layla siswi SMP Negeri 2 Purworejo yang mengalami mata buta permanen diduga terkena handy talkie (HT) anggota Satlantas Polres Purworejo saat razia keselamatan candi 2019 di lengkong, Kecamatan Banyuurip. Mulai mendapatkan perhatian oleh masyarakat.

Salah satunya berasal dari para alumni SMP Negeri 2 angkatan tahun 2002 yang memberikan tabungan pendidikan dan perlengkapan belajar kepada Layla.

Diketahui bahwa Layla adalah putra daerah yang memiliki prestasi di bidang seni tari, dimana ia pernah meraih juara 1 tingkat provinsi, meski tinggal hanya dengan neneknya dan ibunya bekerja diluar kota, Layla termasuk anak yang rajin. Dengan kondisi saat ini iapun harus berjuang lebih keras lagi untuk masa depan.

Penyerahan bantuan dilakukan oleh perwakilan alumni bersama Kepala SMPN 2 Purworejo, Yosiyanti Wahyuningtyas MPd, dan Waka Kesiswaan, Sukamto, di rumah Layla di Kecamatan Bagelen, Rabu 15 Mei 2019. Bantuan diterima langsung oleh Layla didampingi bibinya, Tri Wahyuni (35).

Perwakilan alumni yang juga guru SMPN 2 Doni Widiarto, mengatakan bantuan yang diserahkan meliputi tabungan pendidikan di dalam rekening bank senilai Rp6.650.000, uang tunai Rp850.000, dan seperangkat alat belajar berupa meja, kursi, dan lampu belajar senilai Rp650. Bantuan tersebut merupakan donasi dari alumni atau Kejora 2002.

“Ini merupakan tanda cinta Kejora 2002 untuk adik LPR atas musibah yang menimpanya. Sementara memang baru angkatan tahun 2002, tapi sudah kita share ke angkatan lain dan semoga akan tergerak untuk memberikan donasi,” kata Doni kepada metrotimes usai menyerahkan bantuan, Rabu (15/5).

Bagi masyarakat atau alumni yang ingin memberikan bantuan, lanjut Doni, dapat melalui Kejora atau langsung ke tabungan yang sudah dibuatkan khusus untuk Layla dengan nomor rekening 001.90.000643 PD BPR Bank Purworejo.

Melihat kondisi Layla yang mata kanannya mengalami buta, Doni berharap agar masyarakat, khsusunya alumni yang berkompeten di bidang kesehatan mata, dapat membantu Layla atau memberikan informasi solusi penyembuhan sehingga LPR dapat melihat dengan normal kembali.

“Harapannya mungkin dari pihak berwenang juga bertanggung jawab sepenuhnya, termasuk menjamin masa depan Layla,” ungkapnya.

Selain bantuan material, Layla juga mendapat dukungan secara moral. Kepala SMPN 2 Yosiyanti berharap LPR dan keluarganya tidak patah semangat. Tetap optimis menatap masa depan.

“Cita-citanya masuk SMAN 1 Purworejo, kita doakan dapat diterima. Kami lihat LPR tetap punya semangat, besok tanggal 29 Mei juga berniat akan hadir pada acara pengumuman kelulusan di sekolah. Nanti akan kami fasilitasi untuk transportasinya,” katanya.

Sementara itu, Tri Wahyuni mewakili keluarga LPR menyatakan terima kasihnya kepada para alumni dan pihak sekolah yang telah memberikan dukungan. Dirinya juga berharap ada pihak yang dapat memberi solusi kesembuhan Layla. Pasalnya, menurut penyataan medis, luka pada bola mata kanan LPR mengancam kebutaan permanen.
Terkait tanggung jawab dari pihak kepolisian, Tri menyebut hingga saat ini belum ada komitmen tertulis dari kepolisian untuk bertanggung jawab.

“Sudah ada komitmen, tapi belum secara tertulis, yaitu mengobati Layla sampai sembuh. Sampai saat ini untuk biaya pengobatan ke RSUP Sardjito juga masih ditanggung, kita masih control-kontrol terus,” ujarnya.

Namun demikian, Tri berharap kepolisian dapat memenuhi 3 tuntuan keluarga Layla dan dinyatakan secara tertulis. Pertama menuntut kesembuhan dan biaya pengobatan. Kedua, ada sanksi hukum kepada terduga pelakukanya. Ketiga, kompensasi kerugian atas peristiwa yang menimpa Layla senilai Rp2 miliar. (MAS)

Alumni SMPN 2 Purworejo Kasus Layla

Posting Terkait