Bandarlampung Kebanjiran

Ngupi Pai

KOTA Bandarlampung, kini sangat mudah kebanjiran. Kemarin, hujan satu jam saja, kota ini sudah dikepung banjir. Bahkan di sebuah perumahan elite banjir bisa sampai sepnggang orang dewasa.

Memang banjir menjadi momok warga kota. Namun, kenapa Herman HN selaku wali kota di Bandarlampung belakngan enggan memperhatikan persoalan banjir. Padahal wali kota sebelumnya sangat respons terhadap persoalan banjir.

Baca Juga:  Ruang Ekspresi

Pada era Edy Sutrisno dan Suharto misalnya. Kota Bandarlampung sangat jarang kebanjiran lantaran mantan kedua wali kota tersebut sangat respons terhadap benjir lantaran mereka tahu banjir itu menjadi momok warga kota.

Penggalian di sejumlah sungai oleh mantan kedua wali kota tersebut terus dilakukan. Penggalian sungai tersebut merupakan gagasan untuk menghindari bencana alam berupa banjir dan kekeringan.

Simak dua kalimat terakhir. Ada kesadaran tentang lingkungan fisik sekaligus lingkungan transendental di situ. Kesadaran seperti ini sepertinya kian menipis.

Baca Juga:  Blekedes Kokokpetok

Zaman terus berubah. Jumlah penduduk pun kian bertambah. Pertambahan penduduk juga dibarengi dengan pertambahan permukiman. Kondisi tersebut juga mengakibatkan serapan air kian berkurang.

Namun, di sii lain bisa juga banjir akibat Tuhan menerima tantangan manusia yang cenderung pongah karena merasa mampu mengatasi hal-hal fisik. Barangkali Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita (pinjam syair lagu Ebiet). Padahal, kemampuan manusia tidak ada artinya di depan kuasan-Nya. Kesadaran transendental—bahwa kita ini makhluk ber-Tuhan—semestinya selalu ada pada diri kita, kesadaran yang menjadikan kita selalu dekat dengan-Nya. Hindari sifat sombong, pongah, merasa paling bisa.

718 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Ngupi Pai

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan