BDC Pacu Kapasitas Pelaku UKM

Ilustrasi. (Ist)

BANDARLAMPUNG—Bisnis Development Center (BDC) sebagai bentukan dari Kota tanpa kumuh (Kotaku) menggelar workshop evaluasi untuk para pelaku usaha kecil menengah (UKM) di Bandarlampung, di Aula Besar Ruang Cendana Hotel Bukit Randu, Kamis (27/7).

Kotaku sendiri merupakan lembaga yang bernaung dibawah Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Direktorat Jenderal Cipta Karya.

Konsultan Keuangan Kotaku pusat, Ahmad Firdaus menjelaskan, misi kota tanpa kumuh merupakan program lanjutan dari program PNPM Mandiri Perkotaan dan telah disosialisasikan di tingkat nasionalsebagai leading sector kegiatan, Bappenas, Kemendagri, Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Kementerian Keuangan dan penggiat penataan kota dan pemukiman.

Kotaku melibatkan 20 kementerian lembaga, 271 bupati/walikota, Bappeda, dinas pekerjaan umum dari masing-masing kota ataupun kabupaten, serta 40 kantor pertahanan kabupaten/kota.

“Kotaku membentuk BDC untuk menjadi wadah para pelaku usaha kecil di perkotaan agar usahanya bisa lebih maju dan mampu bersaing di pasaran. BDC juga membantu dalam hal penjualan produk-produk yang dihasilkan,” ujarnya.

Untuk meningkatkan kelompok swadaya masyarakat (KSM), BDC Bandarlampung banyak membina anggotanya yang merupakan pelaku UMKM, mulai dari pembinaan secara intensif terhadap KSM, pemasaran produk si area lokal hingga wilayah regional. Pemasaran melalui media online, menggelar pameran produk yang bekerjasama dengan SKPD terkait, serta mempromosikan produk anggotanya juga di website Inkoparda.

BDC juga memberikan layanan konsultasi produk ketika KSM membutuhkan, seperti melakukan repacking ulang sehingga dari sisi produk lebih terjamin dan dari segi pemasaran bisa lebih menjual.  Untuk permodalan disediakan juga dana bergulir bagi para anggota yang membutuhkannya dengan pinjaman tahap awal sebesar Rp3 juta.

Pada tahun 2015 -2016, pemerintah menganggarkan dana sebesar Rp1,5 miliar kepada Kotaku, yang digunakan untuk membantu para pelaku usaha kecil, guna menunjang kegiatan usahanya, seperti pelatihan usaha, mengadakan pameran untuk promosi dan pemasaran

Hal itu dilakukan oleh Kotaku dengan tujuan ialah menjaga agar wilayah perkotaan yang dianggap kumuh bisa rapih kembali. Dengan dibinanya para pelaku usaha kecil secara serius, sehingga nantinya mampu meningkatkan perekonomian diwilayah kota Bandarlampung, maka para pelaku usaha bisa menyisihkan penghasilannya untuk perbaikan disekitar rumahnya.

“Sasaran Kotaku sekarang adalah membantu warga yang memiliki usaha agar bisa lebih maju, dengan demikian nantinya mereka bisa punya uang lebih dan seandainya dirumahnya ada kerusakan seperti siring rusak, maka ada dana  untuk memperbaikinya,” ujarnya.

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Bandarlampung, Pola Pardede yang membuka acara tersebut menuturkanm,  BDC dibentuk untuk para pelaku usaha kecil di Bandarlampung, dengan harapan agar bisa menjadi wadah untuk saling membantu, bekerjasama, dan berbagi ilmu para pengusaha yang ada di Bandarlampung.

Saat ini, Pemkot sudah memudahkan pengusaha jika ingin mengurus izin usaha, cukup dengan datang ke kantor Kecamatan. Sehingga tidak perlu menghabiskan waktu untuk datang ke Kantor Perizinan, juga diberikan secara gratis.

“Sekarang ngurus izin usaha di kota ini tidak perlu lagi datang ke gedung kuning (satu atap), cukup datang ke kantor camat, semua izin selesai, dan gratis,” ujarnya.

Pardede juga meminta kepada para pelaku usaha kecil dapat segera mengurus izin usahanya. Keuntungannya agar terdaftar di dinas, seandainya sewaktu-waktu ada program bantuan modal, bisa diikutsertakan dan selain itu juga jika pengusaha kecil ingin mengajukan permodalan di jasa keuangan bisa lebih dipercaya.

Sementara itu, Staff Kotaku wilayah Bandarlampung, Andiyanto menuturkan, sampai saat ini sudah banyak kegiatan yang dilakukan oleh BDC bersama Kotaku untuk memfasilitasi UMKM binaannya, salah satunya ialah usaha produk Tapis dan bordir. Para pelaku usaha tersebut untuk meningkatkan kualitasnya telah diberikan pelatihan produksi, magang produksi, penyiapan alat produksi, dan penyediaan bahan baku.

Selain diproduksi, pelaku UMKM juga diberikan fasilitas dalam segi pemasaran produk yang dihasilkan, juga melakukan penilaian bentuk produk labeling, pengemasan, memberikan sertifikasi produk, penyesuaian harga jual, mempromosikan produk, dan ikut membantu pendistribusian produk.(IH)

Posting Terkait