Biaya Produksi Beras Terlalu Mahal

JAKARTA—Biaya produksi beras Indonesia ternyata lebih besar dibandingkan negara lain. Faktor tersebut pun membuat potensi kerugian para petani kita lebih besar.

Senior Expatriate Tech-Cooperation Aspac FAO Ratno Soetjiptadie mengatakan , biaya produksi beras di Indonesia mencapai Rp 5.900 per kilogram (kg). Hal tersebut lebih tinggi dari Vietnam Rp2.300 per kg, Australia Rp1.800 per kg dan Amerika Serikat Rp900 per kg.

“Ditakutkan jika tidak terobosan, Indonesia akan tetap impor beras. Sementara sekitar 40 juta petani padi di Indonesia itu menghidupi penduduk 240 juta jiwa itu riskan,” ujar Ratno, Jakarta, Selasa (10/7/2018).

Dia menambahkan, apabila petani merugi, maka dengan besarnya biaya produksi diproyeksikan akan beralih profesi. Dengan demikian, siapa yang akan menanam padi.

“Untuk itu, perlu ada program perbaikan tanah secepatnya atau soil amendment programme (Program Pembugaran Tanah) dengan memperbaiki sifat biologi tanah. Selama ini kita hanya memperhatikan sifat fisika dan kimia, sementara aspek biologi tidak pernah dipikirkan,” ujarnya.

Menurutnya, selain biaya produksi beras yang tinggi, petani juga dihadapkan pada kerusakan tanah yang terjadi pada area yang luas dan penggunaan pestisida yang tidak bijak mengancam ketahanan pangan nasional.

Sekitar 69% tanah indonesia dikategorikan rusak parah lantaran penggunaan pupuk dan pestisida yang berleihan. Ketahanan pangan (food securities) selama 2015-2080 kita sangat rentan terhadap perubahan iklim. Banjir, kekeringan, serangan hama, selalu dijadikan kambing hitam gagal pangan.

“Kita belum punya perencanaan. Kalau butuhnya 1 juta ton, mustinya produksi 1,5 juta ton sehingga ada stok 0,5 juta ton. Kita belum sampai ke sana,” ujarnya.

Menurutnya, hal tersebut terjadi karena rendahnya sentuhan teknologi oleh petani, lantaran minimnya ilmu pengetahuan. Petani tidak dapat mengukur Ph tanah atau obat-obatan apa saja yang tidak boleh digunakan. Kemudian petani tidak bisa memilih benih unggul.

Bahkan, lanjutnya, ada petani di Kerawang memberikan pupuk pada tanaman padi hinga 1 ton. Petani beranggapan bahwa diberi input 1 kg, maka ada kenaikan produksi. “Akibatnya biaya produksi beras di Indonesia cukup tinggi, dan salah satu kontribusinya dari pembelian pupuk,” terangnya.(okz)

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan