Bijusa UKMBS Diskusikan Buku Puisi ‘Nuansa Kata & Samudra’

Aom Karomani. (IST)

BANDARLAMPUNG – Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni Universitas Lampung (UKMBS Unila) kembali menggelar Bilik Jumpa Sastra (Bijusa) di Graha Mahasiswa, Sabtu (17/11/2018). Kali ini Bijusa mendiskusikan buku puisi Nuansa Kata & Samudra karya Aom Karomani.

Rangkaian kegiatan Bijusa ini berupa peluncuran buku, parade baca puisi, dan sesi diskusi buku Nuansa Kata & Samudra. “Bertindak sebagai pembahas sastrawan dan Sutradara Komunitas Berkat Yakin (Kober) Ari Pahala Hutabarat dengan moderator dosen FKIP Unila Edi Siswanto,” kata Muthia Tazaka dari UKMBS dalam rilisnya yang diterima Fajar Sumatera, Jumat (16/11/2018).

Bilik Jumpa Sastra, kata dia, merupakan sebuah kegiatan forum diskusi peluncuran buku yang dihadiri oleh beberapa sastrawan dan penggiat seni, serta mahasiswa di Lampung.

Prof. Dr. Karomani, M.Si atau yang kerap disapa dengan paggilan Aom Karomani, dilahirkan 30 Desember 1961 di Menes Pandeglang Banten, adalah seorang Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unila.

Guru besar dalam Ilmu Komunikasi FISIP Unila ini aktif di berbagai ormas dan organisasi profesi seperti di Majelis Ulama Indonesia Profinsi Lampung (Sekretaris Dewan Pengarah), IKABUDI Provinsi Lampung (Ketua), BAKORMUBIN (Badan Kordinasi Mubaligh Indonesia Provinsi Lampung sebagai Ketua), dan masih banyak lagi.

Dia gemar membaca sastra, menulis puisi, serta menulis beragam karya ilmiah, seperti menulis buku Komunikasi Antarbudaya, Bahasa dan Komunikasi Antarbudaya, Logika, Analisis Wacana Berita, Dasar-Dasar Keterampilan Berbicara Menuju Komunikasi yang Efektif dan karya sastra serta beragam karya ilmiah baik yang dimuat dalam jurnal internasional.

Agus R. Sarjono, penyair, esais, dan penulis lakon drama mengatakan, Nuansa Kata & Samudra adalah sebuah buku yang bernuansa sendu. “Kesenduan mungkin jenis perasaan yang tidak mudah diungkapkan dengan terbuka selain dalam bentuk puisi atau lagu. Bersama meningginya usia dan serangkaian jatuh bangun pengalaman hidup, bahkan mereka yang tiba di puncak punya cukup alasan untuk merasa sendu,” ujarnya.

Menurut Agus, cukup untuk urusan usia muda yang pelan-pelan menjauh untuk tidak kembali lagi itu saja sudah lebih dari cukup membuat kita sendu. Bukankah di tengah masa kini yang benderang kesenduan kenangan makin terasa? (UZK)

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan