BPS: Tahun 2017, Penduduk Miskin Kabupaten OKU Turun

Ilustrasi. (Ist)

OKU – BERDASARKAN data Badan Pusat Statistik Kabupaten Ogan Komering Ulu (BPS OKU) potret kemiskinan menunjukkan angka  penurunan. Hal ini berpengaruh dengan berbagai program yang telah diluncurkan oleh pemerintah untuk mengurangi angka kemiskinan terutama di pedesaan.

Program Pemkab OKU seperti Inpres Desa tertinggal (IDT), Bantuan Langsung Tunai (BLT) Rastra, Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Program Non Tunai (BPNT) sudah terealisasi dan menyentuh langsung kehidupan masyarakat sehingga angka kemiskinan menurun.

Tahun 2017 penduduk miskin di OKU turun menjadi 0,34 persen, dari tahun 2016 penduduk miskin tercatat sebesar 13,29 persen.

Penduduk miskin di OKU untuk Tahun 2017 sebanyak 46.340 orang atau 12,95 persen dari jumlah penduduk OKU 358.000 jiwa. Jumlah ini mengalami penurunan dibandingkan Tahun 2016 yang berjumlah 46.970 orang atau sebesar 13,29 persen.

Baca Juga:  Forum Gubernur Sumatera Sepakat Turunkan Angka Kemiskinan

Kepala BPS OKU, Budiriyanto, mengatakan  penurunan angka kemiskinan ini belum terlalu menggembirakan namun sudah kelihatan hasil kerja keras dari seluruh SKPD.

Untuk mengukur tingkat kemiskinan, jelas Budiriyanto, berdasarkan Garis Kemiskinan (GK) yang terdiri dari dua komponen, yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM).

Garis Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2.100 kilo kalori perkapita per hari.

Garis kemiskinan non-makanan (GKNM) adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, dan sandang, pendidikan, termasuk kesehatan.

Baca Juga:  Stunting Hantui Anak di Lampung Tengah

“Garis Kemiskinan (GK) merupakan penjumlahan dari GKM dan GKNM. Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah GK dikategorikan sebagai penduduk miskin,” katanya di Baturaja belum lama ini.

Berdasarkan pendekatan kebutuhan dasar, ada 3 indikator kemiskinan yang digunakan. Pertama, Head Count Index (HCI-P0), yaitu persentase penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan (GK).

Kedua, Poverty Gap Index atau Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) yang merupakan rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk dari garis kemiskinan.

Ketiga, Poverty Severity Index atau Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) yang memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran di antara penduduk miskin.

Baca Juga:  TNP2K: Angka Kemiskinan di Lampung Menurun

Semakin tinggi nilai indeks, semakin tinggi ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin.

Dengan menggunakan tiga indikator di atas, persentase penduduk miskin di OKU pada tahun 2017 menurun.

“Pada tahun 2017, penduduk miskin di OKU sebanyak 46.340 atau sebesar 12,95 persen cenderung turun dibandingkan dengan tahun 2016 yang mencapai angka 46.970 orang atau 13,29 persen,” jelasnya.

Budiriyanto menambahkan, rata-rata persentase penduduk miskin sementara P1 cenderung meningkat dari 1,53 menjadi 2,47 dan P2 cenderung meningkat dari 0,29 menjadi 0,68.

Garis Kemiskinan yang digunakan adalah Rp 365.341/kapita/bulan pada tahun 2016 dan Rp 380.254/kapita/bulan pada tahun 2017. (Ari)

Angka Kemiskinan BPS OKU

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan