Buaian Politikus

Oleh: Supendi

AJANG Pemilihan Gubernur Lampung mulai riuh dengan pajangan berbagai poster para calon di berbagai tempat. Ada yang memasang foto berikut jargon dan kata-kata manis berukuran besar. Banyak pula yang memasang poster ukuran kecil di pinggir-pinggir jalan sampai-sampai merusak pohon dan pemandangan.

Dalam panggung politik menjelang pilkada, setiap calon beserta tim pemenangan jauh-jauh hari sudah menyiapkan skema terbaik, baik memoles tampilan, merangkai kata-kata pemikat hingga segudang janji politik bila nanti terpilih.

Entah yang diucapkan secara sadar atau dibawah alam sadar. Sehingga tak aneh bila kemudian janji yang diucapkan hanyalah buaian sesaat untuk memantik simpati masyarakat. Memang begitulah tradisinya. Dari tahun ke tahun fenomena ini sudah tak asing lagi untuk kita dengar dan saksikan.

Baca Juga:  Pertamina Banyak Ngeles

Pesan politik pun dikemas serapi dan semanis mungkin agar siapa pun yang membaca dan mendengar menjadi simpati. Memang tema yang disajikan terkadang klasik, tak jauh dari persoalan kemiskinan, pendidikan dan kesejahteraan masyarakat. Tapi itulah kenyataannya, masyarakat memang tak bisa lepas dari persoalan batiniah itu.

Kita tentu berharap, harus ada keselarasan antara pernyataan yang diucapkan dengan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Masyarakat sebagai calon pemilih tentulah memegang peranan penting untuk melihat sejauh mana kebenaran para calon dalam menyatakan janji politiknya.

Dalam panggung politik para calon biasanya menyinggung masalah yang kental dengan masyarakat sekitar. Namun tak jarang mereka pun sebenarnya tak paham dengan inti permasalahan yang sebenarnya terjadi. Inilah bahasa politik.

Baca Juga:  Pejabat Kok Plin-Plan

Kepandaian calon mengutarakan pesan politiknya benar-benar diuji.

Hanya dua pilihannya, apabila dia mampu memoles dan menyampaikan pesan politik dengan baik maka masyarakat akan simpati. Sebaliknya bila salah mengutarakan maka jangan berharap banyak, lantaran masyarakat sudah terlebih dahulu kecewa.

Sudah menjadi tradisi, terkadang para calon mencabut kembali janji muluknya yang telah ia gadangkan sebelumnya. Ini tak lain, karena memang janji politik adalah ucapan sesaat yang kebenarannya besifat relatif. Tak bisa dipastikan karena memang kebanyakan tidak berdasar pada niat yang tulus.

William James dalam teori kebenaran pragmatisme menyindir bahwa suatu ucapan, hukum, atau sebuah teori semata-mata bergantung pada asas manfaat. Sesuatu dianggap benar bila mendatangkan keuntungan.

Sebuah kebenaran dalam hal ini hanya dipandang jika memiliki hasil yang memuaskan (satisfactory result). Teori ini menyajikan ukuran sesuatu dianggap benar bila memuaskan keinginan dan tujuan manusia itu sendiri. Benar bila mendorong atau membantu perjuangan untuk tetap ada.

Baca Juga:  Arinal Mencari Dalil

Fenomena kepedulian para calon kepala daerah kepada masyarakat biasanya meningkat sesaat mendekati ajang pemilihan. Bahkan para calon terkadang tampil bagai darmawan ataupun sosok berjiwa sosial yang kemunculannya bagai buah musiman. Datang dan peduli bila ada saatnya saja. Setelah itu, hilang entah kemana.

Dari kacamata para politikus fenomena ini boleh jadi dianggap sebagai sebuah kebenaran. Kebenaran untuk menunjukkan kepedulian, menunjukkan sesuatu yang sebenarnya adalah buaian. Sebuah adagium kebenaran yang jelas bersandar pada kepentingan.(*)

Ngupi Pai

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan