[Buku] Kotagede dalam Pusaran Kaum Borjuasi

DATA BUKU

Judul   : Runtuhnya Elite Pedagang Pribumi di Kotagede

Penulis       : David Efendi

Penerbit    : Simpang Nusantara, Yogyakarta, 2017

Tebal Buku: xxxiv, 356 Hlm.

 

KOTAGEDE adalah sebuah kecamatan di Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kotagede banyak menyimpan cerita, baik dari segi budaya, sosial dan ekonomi. Kotagede, dalam sejarahnya dulunya adalah hutan yang disebut “Alas Mentaok” yang diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan oleh Sultan Hadiwijaya, raja Kerajaan Pajang yang merupakan kerajaan Hindu di Jawa Timur pada tahun 1575. Alasan pemberian ini dikarenakan Ki Ageng Pemanahan berjasa telah membantu Kerajaan Pajang menaklukkan Aryo Penangsang dari Kadipaten Jipang Panolan. Alas tersebut berhasil diubah menjadi sebuah desa yang makmur yang lama-kelamaan menjadi kerajaan kecil yang siap bersaing dengan Kerajaan Pajang sebagai atasannya. Daru sepetak tanah itu lalu terbentuklah Kerajaan Mataram Islam Kotagede. Setelah Ki Ageng Pemanahan meninggal pada tahun 1583, kerajaan diteruskan oleh putranya, Danang Sutawijaya, yang juga sering disebut Panembahan Senopati atau Pangeran Ngabehi Loring Pasar.

Di masa kepemimpinan itulah Panembahan Senopati membangun sebuah pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi masyarakatnya. Pasar tersebut kemudian diberi nama Pasar Gede. Di pasar inilah para penduduk setiap hari saling bertemu dan melakukan kegiatan jual beli kebutuhan hidup. Maka tak aneh bila pada awalnya Kota Gede lebih dikenal dengan sebutan Pasar Gede atau Sargede.

Baca Juga:  [Buku] Lembaga Peradilan Tempat Mencari Keadilan

Pasar Gede juga menjadi karakteristik khas Kotagede yang menjadi ibu Kota Pasar dari berbagai lokasi di Kotagede yang menjadi pasar, arena perdagangan dari berbagai kelompok sosial. Dimana-mana ada orang berjualan, menawarkan barang dan membeli barang baik dari orang Kotagede atau daerah lain. Hal ini berlangsung sejak lama sampai sekarang. Lihat saja Kotagede itu benar-benar Kota Pasar yang ramai. Kotagede juga menjadi tempat wisata yang penting sebagai satu kesatuan dengan Kraton, Masjid Mataram dan alun-alun.

Baca Juga:  ‘Rekaman Terakhir Beckett’ Ari Pahala Diluncurkan

Pasar Kotagede menjadi tempat pelestarian produk lokal berupa makanan. Kotagede, selain kota perak juga kota makanan tradisional yang sangat beragam dengan ciri khasnya. Dalam perspektif pariwisata, unsur ini menjadi sangat diminati sebab mampu menyediakan jenis makanan yang sekian lama dipertahankan oleh warga Kotagede.

Kecenderungan pada akhir abad ke-19 atau awal abad-20 banyak kemunduran kelompok dagang terjadi di Indonesia, tidak terkecuali Kotagede. Hal ini ternyata sangat dipengaruhi oleh perkembangan dunia pendidikan dan pergeseran kelas sosial yang cukup kuat. Banyak industri di Kotagede yang kemudian ditutup karena tidak ada yang melanjutkan. Itulah yang terjadi di Kotagede saat ini.

Baca Juga:  Cerpenis Pringsewu Lahirkan Buku 'Delirium' dari Madrid

Buku ini cukup menarik untuk dikaji. Terutama bagi mereka yang senang dengan kajian-kajian sejarah masa lalu. Sebagaimana dikatakan oleh Achmad Charris Zubair dalam kata pengantarnya pada buku ini bahwa, tulisan ini merupakan sumbangsih yang berharga untuk memahami dinamika masyarakat yang digerakkan oleh manusia tertentu. []

 

Imron N Geasil

Peminat dan pengamat buku

 

Buku resensi

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan