Bustami Zainudin Fasilitasi Keluhan Pedagang di Pasar Way Kandis

BANDAR LAMPUNG – Calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Bustami Zainudin berkunjung ke pasar perumnas Waykandis, Bandar Lampung, Senin (20/8).

Kunjungan Bupati Way Kanan periode 2010-2015 itu untuk mendengarkan dan memfasilitasi keluhan pedagang pasar dengan mempersoalkan kenaikan iuran sewa pasar beserta pajak dan pungutan lainnya yang tidak pernah disosialisasikan oleh pengelola pasar sebelumnya.

“Kita mencoba memfasilitasi keluhan warga khususnya para pedagang di siniĀ  mengaku keberatan dengan kenaikan iuran yang dibebankan Rp120 ribu perbulan dari sebelumnya Rp45 ribu, ditambah pajak sebesar 10 persen,” kata Bustami, Senin (20/8).

Baca Juga:  Harga Daging Sapi di Pasar Tradisional Naik

Selain itu, para pedagang juga mengeluhkan adanya retribusi lain seperti salar, beban listrik yang berbeda-beda untuk setiap pedagang dan iuran sampah yang dibebankan Rp60 ribu perbulan.

“Asal bapak dan ibu ketahui, Kepala Daerah seperti Bupati atau Walikota tidak pernah ada niat untuk menyengsarakan masyarakatnya. Kalau urusan pungli bisa masuk polisi,” jelasnya.

Salah seorang pedagang pakaian, Lusi mengaku selama ini tidak ada tokoh maupun sosok untuk menjadi jembatan menyalurkan aspirasi pedagang di sana. Sebab, pengurus pasar bukan diambil dari pedagang asli pasar, melainkan dari luar.

Baca Juga:  Harga Daging Sapi di Pasar Tradisional Naik

“Setahu kami, kios-kios disini bukan dikelola pemda, tetapi pihak ketiga. Artinya ada saja iuran yang diminta, seperti masalah sampah yang diangkut 10 hari sehari, belum lagi pembayaran ini itu,” ucapnya.

Untuk itu, dirinya berharap kepada Bustami Zainudin agar dapat menjembatani keluhan dan keinginan para pedagang di kios pasar Waykandis, agar tidak membebankan ratusan pedagang di sana.

Baca Juga:  Harga Daging Sapi di Pasar Tradisional Naik

“Kami ingin mengetahui, pajak kios 10 persen itu untuk apa? Dulu sewa Rp45 ribu per bulan, sekarang Rp132 ribu sama pajak. Belum lagi uang kebersihan Rp2000 perhari dikalikan 30 hari, kemudian Retribusi pasar/salar Rp2000 perhari.

Senada, Ketua Paguyuban Pasar Waykandis, Damrin, mengaku tidak paham masalah pajak, karena sebelumnya tidak disosialisasikan.

“Tahu-tahu jalan dan langsung dibebankan ke pedagang kios,” ucapnya singkat. (TM)

Pasar Way Kandis

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan