Chandra Super Store Bohongi Publik

Manager Chandra Super Store Tanjung Karang, Dian Hariyanto, menunjukkan display beras di Chandra, Rabu (4/10). Dia menegaskan bahwa pihaknya sudah menjual beras jenis premium sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET).

BANDARLAMPUNG — Tim Satgas Pangan Provinsi Lampung menilai Chandra Super Store melakukan pembohongan publik, dengan membantah telah ditemukan menjual beras premium diatas Harga Eceran Tertinggi (HET) saat sidak oleh tim satgas pangan Pemprov Lampung beberapa waktu lalu.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Dinas Perdagangan (DisDag) Provinsi Lampung, yang juga bagian dari Tim Satgas Pangan, Ofrial, mengaku telah memiliki data atau catatan tentang adanya penjualan beras Premium melebihi HET di beberapa swalayan di Bandarlampung, yang salah satunya yakni di Chandra Super Store Tanjung Karang.

” Hasil sidak langsung kami catat di lokasi. Jadi hasilnya tidak mungkin salah,” Katanya sembari menunjukan beberapa catatan hasil sidak beberapa waktu lalu kepada Fajar Sumatera.

Kedepan, Ofrial melanjutkan, Tim Satgas pangan berjanji akan mencabut izin usaha penjualan beras di pasar swalayan jika ditemukan menjual diatas HET. Pasar swalayan yang  kedapatan menjual beras diatas HET, sampai saat ini masih dalam tahap sosialisasi dan pembinaan.

“Jika telah dilakukan pembinaan, tetapi tetap melanggar. Maka  kami akan memberi sanksi berupa surat peringatan dengan batas maksimal dua kali. Kemudian jika tetap bersikeras juga, terpaksa izin usaha penjualan berasnya akan kami cabut,” tegasnya.

Ia berharap agar swalayan dapat mencantumkan label jenis beras dan label HET tertinggi pada kemasan yang dipajang di rak display.

”Kami berharap pasar swalayan dapat menjual beras premium sesuai HET,” ucapnya.

Sementara itu, Manager Chandra Super Store, Dian Hariyanto menuding Tim Satgas Pangan Provinsi Lampung menyatakan bahwa Tim Satgas Pangan Provinsi Lampung tidak menemukan adanya penjualan beras premium di atas HET, sewaktu sidak beberapa waktu lalu.

Pihaknya mengaku telah mengikuti peraturan pemerintah terkait HET penjualan beras sejak 18 September 2017.

” Dari awal diberlakukannya HET beras, kami sudah menyesuaikan harga aturan pemerintah, yakni untuk jenis premium seharga Rp12.800 per kilogram, sedangkan yang medium kami memang tidak menyediakan.” Ujarnya.

Dia menambahkan, untuk penjualan beras khusus yang tersedia di Chandra seperti beras organik, beras merah, beras diabet, beras hitem, beras cianjur, dan pandan wangi masuk kategori beras khusus, serta harganya belum diatur atau tidak ada HET yang ditetapkan pemerintah.

Sebelumnya diberitakan, berdasarkan rilis resmi yang diterima oleh Fajar Sumatera, dari humas pemprov Lampung Pada Senin (2/10) lalu, Tim Satgas Pangan Provinsi Lampung melakukan sidak penerapan harga eceran tertinggi (HET) beras ke beberapa perusahaan ritel modern di Bandarlampung.

Hasilnya, Tim Satgas Pangan yang terdiri dari Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, Bulog dan Polda Lampung menemukan empat toko ritel modern yakni Superindo Kartini, Hypermart, Chandra Super Store Tanjung Karang, dan Giant Extra Antasari masih kedapatan menjual beras di atas HET yang telah ditetapkan pemerintah.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Lampung, Ferynia melaui rilis resminya. Dia menjelaskan, padahal terhitung sejak 18 September 2017 sesuai dengan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 57 Tahun 2017 tentang penetapan harga eceran tertinggi beras, para pedagang dan pemasok harus menyesuaikan aturan HET beras sesuai kebijakan pemerintah.

Untuk itu, Ferynia menambahkan dirinya bersama tim satgas telah meminta toko ritel memindahkan beras premium dan medium  yang dipajang di rak display ke dalam gudang penyimpanan untuk disesuaikan dengan mencantumkan label jenis beras dan label HET tertinggi pada kemasan.

“Para riteler diminta agar melengkapi persyaratan sesuai dengan Permentan Nomor 31 Tahun 2017 mengenai kelas mutu beras  tersebut.” ungkapnya.

Bagi pelaku usaha yang masih menjual beras melebihi  HTE tertinggi, ia menegaskan bahwa bagi yang melanggar akan dikenai sanksi pencabutan izin usaha setelah sebelumnya diberikan peringatan tertulis sebanyak dua kali.

Pemerintah telah menetapkan HET untuk komoditas beras kualitas medium dan premium, dalam upaya untuk mempertahankan daya beli masyarakat dan mengendalikan tingkat inflasi.

Penetapan HET beras kualitas medium tersebut, untuk wilayah Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi sebesar Rp 9.450 per kg, dan Rp 12.800 untuk jenis premium.

Untuk Wilayah Sumatera tidak termasuk Lampung dan Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan, beras kualitas medium Rp. 9,950 dan premium Rp 13.300 per kg.

Sementara untuk Maluku, termasuk Maluku Utara dan Papua sebesar Rp. 10.250 untuk kualitas medium dan kualitas premium di harga Rp. 13.600,-

Dalam Permentan Nomor 31 Tahun 2017, Pemerintah telah mengelompokkan tiga jenis beras. Untuk beras jenis medium baik curah maupun kemasan, wajib mencantumkan label medium dengan HET pada kemasannya.

Sedangkan jenis beras premium dikemas dan wajib mencantumkan label preium dengan HET tertinggi. Sementara beras khusus kriterianya akan diatur dan ditetapkan lebih lanjut oleh Kementan, yang termasuk beras khusus diantaranya beras thai hom mali, Japonica, Basmat, ketan, beras organik dan beras berserifikat IG. (Tim)

Posting Terkait