Dinasti Politik dan Family Corruption di Lampung Utara, Haruskah Muncul Tersangka Baru?

Dinasti Politik dan Family Corruption di Lampung Utara, Haruskah Muncul Tersangka Baru?

Bupati Lampung Utara Agung Ilmu Mangkunegara menatap tajam ke arah majelis hakim saat menjadi saksi di Pengadilan Negeri Tanjungkarang. Foto: Tommy Saputra/Fajar Sumatera

Bandar Lampung – Tak lama lagi, surat tuntutan Chandra Saleh dan Hendra Wijaya Saleh akan dibacakan jaksa KPK di hadapan majelis hakim pada Pengadilan Negeri Tanjungkarang tepat pada Kamis (6/2/2020) mendatang. Kedua orang itu adalah kontraktor yang didakwa melakukan suap dengan metode komitmen fee pada proyek Dinas PU-PR dan Dinas Perdagangan di Pemkab Lampung Utara.

Menurut jaksa KPK, suap itu ditujukan kepada Bupati Lampung Utara Agung Ilmu Mangkunegara melalui Kadis PU-PR Syahbudin dan Kadis Perdagangan Wan Hendri serta orang kepercayaan Agung, Raden Syahril. Untuk keempat orang ini, berkas penyidikannya telah rampung dan telah dilimpahkan kepada jaksa KPK. Sehingganya, persidangan mereka akan segera digelar.

Baca Juga:  DPD RI-KPK Kerja Sama Cegah Korupsi di Daerah

Dalam beberapa kasus korupsi yang ditangani KPK di Provinsi Lampung, baru satu perkara yang dikembangkan sampai akhirnya memunculkan tersangka baru. Itu adalah perkara Bupati Lampung Tengah Mustafa. Yang dijadikan tersangka dari hasil pengembangan ialah empat orang anggota DPRD; Achmad Junaidi Sunardi; Raden Zugiri; Bunyana; Zainudin.

Saat dikemukakan ke publik, Komisioner KPK Basaria Panjaitan menaruh perhatian khusus untuk perkara ini. Sebab, Basaria menemukan adanya dinasti politik yang menjadi faktor penyebab terjadinya praktik korupsi.

“Bupati ini memang benar-benar masih muda, umur 32 tahun sudah terpilih jadi bupati. Kebetulan kepala daerah sebelumnya orang tuanya juga kepala daerah juga di salah satu kabupaten di Lampung,” ujar Basaria dalam konferensi pers di Gedung KPK, Senin (7/10/2019). Orangtua bupati yang dimaksud Basaria adalah Tamanuri. Belakangan Tamanuri diperiksa penyidik KPK dalam perkara ini.

Baca Juga:  Pimpinan KPK Kunjungi Kementerian PUPR: Strategi Memperkuat Komitmen Antikorupsi

Akademisi dari Universitas Negeri Lampung Dr Yusdianto beranggapan perkara korupsi yang terjadi di Lampung Utara ini cukup unik. Sehingganya perlu dikembangkan oleh penyidik KPK. Ia menamai praktik koruptif di Lampung Utara ini dengan julukan Family Corruption.

“Karena kalau kita lihat dan dengar dari persidangan maupun dari pihak KPK sendiri, cukup banyak saksi yang diperiksa berasal dari keluarganya bupati,” ungkap Yusdianto saat dihubungi Fajar Sumatera, Rabu (5/2/2020). “Sehingganya kita minta kepada KPK untuk menindaklanjuti semua peristiwa yang berkait dengan dimulainya Tipikor itu di Lampung Utara. Harus dikembangkan,”sambungunya.

Uraian dari Basaria Panjaitan dinilai kurang kuat untuk menandakan jika ada kekeliruan di Pemkab Lampung Utara di era kepemimpinan Agung Ilmu Mangkunegara. Justru, hal yang menguatkan perkara ini untuk diungkap didasari keterangan-keterangan yang muncul sebagai fakta di persidangan. “Tapi kita bisa lihat lebih otentik lagi berdasarkan keterangan saksi dan terdakwa,” tambahnya.

Baca Juga:  Buntut Dugaan Pungli Program Asimilasi, KPK Diminta Buka Data LHKPN Pejabat Teras Kanwil Kum-HAM Lampung

Ia melihat, pola kejahatan dengan melibatkan keluarga secara massif untuk melakukan korupsi satu-satunya terjadi di Lampung Utara. Melihat pola ini, bupati terkesan nyaman melibatkan keluarganya.

“Jadi bentuknya Terstruktur Sistematis dan Massif (TSM). KPK juga kita minta untuk melihat unsur pidananya ke arah Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Hal yang seperti ini memang sudah dilakukan KPK saat menangani perkara di Lampung Tengah dan Lampung Selatan,” ucapnya.

Berikut keluarga dari Bupati Lampung Utara Agung Ilmu Mangkunegara yang telah diperiksa KPK menjadi saksi dalam perkara ini. Ayahnya; Tamanuri, ibunya; Maria Mery, istrinya; Endah Kartika Prajawati, pamannya; Raden Syahril, saudara angkatnya; Taufik Hidayat, sepupunya; Gunaido Hutama, pamannya; M Yamin Tohir, adiknya; Akbar Tandaniria. (Ricardo)

Agung Ilmu Mangkunegara Kasus Korupsi Lampung Utara KPK

Posting Terkait