Eksistensi Kapuk Zaman Now

Kasur Kapuk

Harto (39) pengusaha kasur kapuk yang tinggal di Gang Kapuk sekarang menjadi Gang Randu, Kelurahan Kebun Jahe, Bandar Lampung, Sabtu (27/1/2018). Foto: Tommy Saputra/fajarsumatera.co.id

BANDAR LAMPUNG – “MESKI susah, saya tak mau menyerah, karena bagi saya rezeki semua sudah diatur sama Allah SWT dan ini cara saya mendapatkan rezeki-Nya…”

Kata sederhana namun sangat besar artinya, terucap dari bibir pria berumur 39 tahun, dia adalah Harto, sosok lelaki bertubuh gempal dengan kulit sawo matang dan tato kalajengking di dada kirinya, saat tengah bersantai, menikmati kopi hitam dan beberapa batang rokok usai melakukan aktifitas sehari-hari yakni membuat kasur kapuk.

Pada era modern seperti sekarang, tidak banyak lagi masyarakat yang menggunakan kasur kapuk.

Eksistensi Kapuk Zaman Now

Foto: Tommy Saputra/fajarsumatera.co.id

Maklum saja, kini sudah banyak produk kasur dari bahan baku yang lebih nyaman seperti busa, pegas hingga bahan lateks bertebaran.

Hal ini menjadi salah satu penyebab banyak pengrajin kasur kapuk tumbang.

Meski dalam hati kecilnya kemajuan teknologi sangat mengusik, Harto sadar hal tersebut tidak akan bisa dibendung. Dirinya tetap bertahan dengan usaha turun temurun orang tua dari tahun 1956 yang kini diembannya.

Sambil memasukan kapuk ke dalam kain bermotif yang sudah dijahit dengan ukuran tertentu, Harto bercerita bagaimana sejahteranya kehidupan para pengrajin kapuk yang tinggal di Gang Kapuk yang kini berganti nama menjadi Gang Randu, Kelurahan Kebun Jahe, Bandar Lampung.

”Dulu hampir semua warga di sini usahanya ya kapuk, dari yang menjadi bos sampai pedagang keliling,” ungkap Harto, Sabtu (27/1/2018).

Eksistensi Kapuk Zaman Now

Foto: Tommy Saputra/fajarsumatera.co.id

Dalam hal pemasaran, Harto mengaku tidak banyak lagi pelanggannya.

”Masih ada aja mas, tapi gak banyak. Dulu setiap bulannya bisa 10 sampai 15-an kasur terjual  dengan kisaran harga mencapai 800 ribu/unit, tapi sekarang jual satu kasur pun udah susahnya setengah mati,” ungkapnya.

Harto sadar, kasur busa atau bahan lainnya memang jauh lebih murah dibandingkan kasur kapuk buatannya.

”Kasur kapuk memang lebih mahal mas karena sulitnya dan waktu untuk membuat satu kasur yang murni 100% tenaga manusia,” ujarnya.

Eksistensi Kapuk Zaman Now

Foto: Tommy Saputra/fajarsumatera.co.id

Bukan hal pemasaran saja yang menjadi kendala dalam produksi kasur kapuk ini, satu hal lainnya yang amat penting adalah bahan baku yakni biji randu.

Harto mengatakan untuk mendapatkan bahan baku, dirinya memesan biji randu dari Talangpadang dan Pringsewu.

”Kalo di sini udah sulit mas cari bahan bakunya, kebanyakan di Bandar Lampung udah di tebang pohon randunya,” ujarnya.

Eksistensi Kapuk Zaman Now

Foto: Tommy Saputra/fajarsumatera.co.id

Harto dan para pengrajin kasur kapuk yang tersisa di zaman sekarang, berharap pemerintah tetap memerhatikan para pelaku industri rumahan agar tetap bisa bersaing dengan penggiat bisnis produksi kasur modern.

Eksistensi Kapuk Zaman Now

Foto: Tommy Saputra/fajarsumatera.co.id

(TS)

Kasur Kapuk

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan