Empat Hari Menuju Pilgub Lampung 2018

Empat Hari Menuju Pilgub Lampung 2018

Pemerhati Ruang Publik, Yusuf Yazid.

BANDAR LAMPUNG – EMPAT hari lagi saatnya warga Provinsi Lampung menentukan pilihan di bilik suara. Rakyat Lampung akan memberikan hak mereka dalam menentukan Gubernur-Wakil Gubernur Lampung periode mendatang.

Dalam dua bulan terakhir, ruang publik hiruk pikuk oleh pemberitaan tentang dugaan praktik politik uang. Ada berupa uang tunai, sembako, sarung, jilbab, minyak goreng hingga dugaan praktik kampanye hitam.

Semua menjurus pada dugaan pelanggaran kampanye yang dilakukan tim kampanye atau para paslon gubernur-wakil gubernur.

Selain itu, ruang publik juga dihebohkan oleh dua lembaga survei. Rakata Institute tersangkut masalah. Rakata dilaporkan ke  KPU, Bawaslu, dan Polda Lampung.

Sementara Pollmark memutuskan hubungan kerja dengan kliennya, paslon Arinal Djunaidi-Chusnunia Chalim.

Merujuk pada hasil survei berbagai lembaga survei terkini terkait Pilgub Lampung, yang rata-rata menggunakan 800 responden di 15 kabupaten/kota, mari kita telisik sejauhmana maknanya.

Populasi 800 responden yang digunakan, bila menggunakan pendekatan geografis kecamatan (data BPS 2015) ada 227 kecamatan, artinya populasi responden perkecamatan akan diwakili antara 3-4 respoden.

Sementara bila menggunakan pendekatan geografis desa (data BPS 2015) ada 2643 desa/kelurahan/pekon, artinya populasi responden perdesa akan ditentukan atas kebijakan lembaga survei.

Mengapa? Jumlah responden yang diambil tidak bisa dibagi untuk mewakili seluruh desa yang ada. Biasanya, surveyor akan mencarikan solusi keterwakilan, misalnya dengan mengambil 100 atau 80 desa yang tersebar di 15 kabupaten/kota. Bila diambil kebijakan 80 desa terpilih, maka masing-masing desa diwakili oleh 10 responden.

Pertanyaannya kemudian, apakah hasil jajak pendapat terhadap 800 responden terpilih yang hanya tersebar di 80 desa bisa menjadi rujukan keterwakilan cerminan sikap dari 5 juta lebih pemilih yang tersebar di 2643 desa di Provinsi Lampung?

Ilmu kemungkinan jenis apa yang digunakan?

Di samping itu, tentu juga terkait dengan berapa banyak jumlah pertanyaan yang diajukan. Durasi tatap muka para surveyor dengan responden sangat terkait dengan jumlah pertanyaan yang diajukan. Tentu saja berhubungan erat dengan besaran biaya yang dikeluarkan para pemesan.

Baca Juga:  Ridho-Bachtiar Cermin Berpolitik Santun di Pilgub Lampung 2018

Jadi sah-sah saja bila para pemesan survei, menitipkan sejumlah tujuan tertentu dan lembaga survei menyajikan hasil tertentu pula, sesuai dengan pesanan. Pada sisi ini, hasil lembaga survei kerab dipertanyakan. Metodologi populasi dan jumlah pertanyaan, ditentukan oleh berapa besar uang yang diberikan.

Guna menepis itu semua, tentu saja jawaban yang disajikan beragam oleh pernak-pernik argumentasi keilmuwan masing-masing. Para pemesan survei tentu tidak mengetahui, apakah surveyor mendata dan mentabulasi jawaban hanya di dalam kamar kos atau di bawah pohon durian. Tanpa menyambangi responden secara tatap muka. Wallahualam.

Cilakanya, bermodalkan hasl survei yang demikian tadi, pasangan kandidat yang memesan survei menjadikan hasil survei sebagai rujukan untuk bergerak.

Kebayangkan apa yang akan terjadi? Bergelora hingga kalap. Terjadi persimpangan di tengah jalan. Uang habis, tujuan tak tercapai.

Segaimana hasil investigasi beberapa media lokal serta akademisi, membentuk tim guna bersafari ke 15 kabupaten/kota yang ada di Provinsi Lampung.

Dalam 20 hari perjalanan, ada 400 desa di 15 kabupaten/kota yang berhasil dijangkau. Ada 1780 warga desa yang berhasil disambangi.

Selain menggali informasi dan fakta tentang penggunaan dana desa, tim juga menyelipkan dialog tentang pemilihan gubernur (Pilgub) Lampung 2018.

Tentu saja, narasi yang saya sampaikan terkait Pilgub Lampung ini, secara keilmuan survei tidak bisa dijadikan rujukan konkrit. Sebab metodologi diskusi atau wawancara yang dilakukan hanya menggunakan jurus jurnalistik standard: 5 W+1 H dan dilakukan secara beragam.

Ada yang dilakukan secara berkelompok (4 orang), ada yang dilakukan dalam kepala keluarga, juga ada secara individu. Tergantung dari situasi saat itu. Apakah usai sholat subuh, di tengah sore ketika menanti berbuka puasa, atau setelah sholat taraweh.

Baca Juga:  AMP Lampung Timur Dukung Ridho BerBakhti Jilid II

Dari 1780 warga yang juga pemilih ditemui, tampaknya ada ketidaksempurnaan sosialiasi yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Provinsi Lampung. Sebanyak 33 persen atau 534 warga tidak mengetahui bahwa pada 27 Juni 2018 ada Pilgub Lampung.

Sehingga mereka belum bisa menentukan akan memilih paslon yang mana.

Sisanya, sebanyak 1246 warga atau 67 persen, berani menjawab atas pilihan mereka. Dan pilihan mereka tersebar kepada paslon Ridho-Bachtiar, Herman-Sutono, Arinal-Chusnunia, dan Mustafa-Jajuli.

Menariknya, pasangan nomor urut 4, Mustafa-Jajuli tetap mendapat tempat dihati warga, sebanyak 6,2 persen atau 110 orang. Sementara pasangan nomor urut 3, Arinal-Chusnunia mendapat tempat dihati warga sebanyak 12,3 persen atau 219 orang.

Menyusul kemudian pasangan nomor urut 2, Herman-Sutono diminati oleh 374 orang atau sebanyak 21 persen. Terakhir pasangan nomor urut 1, Ridho-Bachtiar dipilih oleh 490 orang atau 27,5 persen.

Selain memverifikasi fakta atas informasi terkait penggunaan dana desa (laporan terpisah), pertanyaan terkait penggunaan senjata politik uang guna meraih suara warga, juga kami dialogkan secara sederhana.

Mayoritas warga yang belum menentukan pilihan akibat ketidaktahuan bahwa Pilgub akan dilaksanakan pada 27 Juni mendatang, rentan atas serbuan politik uang. Walaupun rentan, namun hanya 11 persen dari 1780 warga yang akan mengikuti pilihan pemberi uang. Itupun didominasi oleh mereka yang belum menentukan pilihan.

Hal ini bisa diartikan, bahwa sebanyak 89 persen warga, walau diguyur oleh praktik politik uang dalam bentang waktu tanggal 3 hingga 26 Juni 2018, sulit akan berubah pilihan. Entahlah, bila jumlah uangnya bermiliar-miliar. Kalaupun ada praktik semacam itu akan membawa cilaka bila ditangkap Panwas.

Bila sedikit menelisik tingginya angka ketidaktahuan warga tentang Pilgub, mengingat situasi di ruang publik begitu massif informasi adanya serbuan sarung, jilbab, minyak goreng, roti, sirup, hingga berupa uang.

Baca Juga:  Ajukan Gugatan ke MK, Penetapan Gubernur dan Wakil Gubernur Terpilih Ditunda

Ada sebuah pertanyaan yang mengemuka, gelontoran sembako dan uang yang dilakukan selama ini, tampaknya tidak sampai kepada sasaran.

Kemana kaki tangan paslon mengalokasikan itu semua? Sebab seperti yang dilansir media massa, guyuran sembako disertai dengan alat peraga paslon terbaca massif.

Apakah ini bagian dari kiat tim sukses untuk mengelabui para paslon?

Mayoritas warga dalam menentukan pilihan dilandasi oleh tiga hal: Pertama, kinerja paslon. Kedua, pengalaman memimpin. Ketiga, kenal paslon atau tim sukses, baik hanya nama atau bersifat personal.

Dengan ketiga dasar ini, paslon petahana Ridho-Bachtiar sangat beruntung.

Di 10 kabupaten pasangan nomor urut 1 ini mengungguli ketiga paslon lain, walau tidak begitu besar selisihnya. Posisi ini juga didasari oleh tingkat kepuasaan warga atas kinerja kepemimpinan mereka yang cukup tersosialisasi. Di atas 55 persen.

Sementara paslon nomor urut 2, Herman-Sutono unggul di 43 kecamatan. Tersebar di Bandar Lampung, Tulang Bawang dan Metro.

Sementara paslon Arinal-Nunik unggul di 11 kecamatan. Tersebar di Lampung Timur dan Tanggamus. Dan paslon nomor urut 4, Mustafa-Jajuli meraih 27 persen suara di Lampung Tengah dan Pesawaran.

Menariknya, para warga yang menjatuhkan pilihan pada paslon nomor urut 1 dan 4, dipengaruhi oleh faktor personal cagub dan cawagub. Sementara paslon nomor urut 2 didominasi oleh faktor cagub. Untuk paslon nomor urut 3 pilihan didominasi oleh faktor personal cawagub.

Semua bayang-bayang penampilan narasi data di atas, tentu hanya sekadar fenomena 20 hari yang berakhir pada Minggu 3 Juni 2018 lalu. Ditengarai tingkat partisipasi pemilih akan mencapai 78 persen.

Walaupun demikian, tim tidak memiiki kapasitas untuk menebak paslon mana yang akan terpilih menjadi Gubernur Lampung periode mendatang. (*)

*Pemerhati Ruang Publik, Yusuf Yazid

1,044 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Pilgub Lampung 2018 Yusuf Yazid

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan