Era Baru Kopi Lampung

Ngupi Pai

Oleh Supendi 

Ada hal menarik dari gelaran Festival Kopi Lampung Barat 2018. Tentunya bukan soal seremonial acaranya, melainkan titik poin yang menyentuh ke dasar permasalahan, soal kesejahteraan para petani kopi.

Mungkin kita banyak bertanya-tanya, apa sih pentingnya acara seremonial semacam Festival Kopi? Bukanya apa-apa, karena selama ini, pemerintah kita kerap terjebak dengan cara lama, bikin kegiatan buat mengeksiskan diri lalu jadi sensasi. Setelah itu, tidak ada kelanjutannya, tidak menyisakan arti apa-apa buat pemain utamanya—dalam kasus ini para petani kopi.

Sayangnya,  dalam tata niaga kopi secara nyata, petani kopi selalu menjadi penonton. Pemain utamanya, diperankan para pengusaha mulai dari pengepul, eksportir sampai pemilik kedai yang menjual kopi dengan harga selangit. Padahal tanpa adanya si petani kopi, semuanya nothing.

Syukurlah, Pemprov Lampung mulai siuman dari tidur panjangnya. Gebrakan pun dibuat dengan menggagas metode baru dalam penjualan hasil panen. Secara garis besar, ada dua poin utama. Pertama petani diajak mandiri untuk mengolah kopi supaya lebih bernilai, kedua memangkas rantai penjualan kopi dimana eksportir dipertemukan langsung dengan petani kopi.

Baca Juga:  Kopi Robusta Lampung Tarik Perhatian Negara Timur Tengah

Diajang Festival Kopi Lambar 2018, Pemprov Lampung membawa langsung eksportir kopi, PT Louis Dryifus Commodities (LDC) Indonesia. Selain melihat perkebunan kopi, LDC juga diperkenankan membeli secara langsung kopi dari petani untuk diekspor. Total kopi yang diekspor dari petani mencapai 20 ton.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Lampung Dessy Desminar Romas bilang, dengan adanya pembelian melalui petani bisa memutus mata rantai yang prosesnya begitu panjang. Cara ini hanya perpihak pada pengusaha, sementara petani tak mendapat untung selayaknya.

Baca Juga:  Pemprov Lampung Gagas Era Baru Penjualan Kopi

Selain eksportir yang diuntungkan karena bisa menghemat biaya pembelian lebih murah, petani juga bisa dapat untung lumayan karena harga bisa lebih tinggi ketimbang menjualnya ke pengepul. Mata rantai penjualan kopi yang panjang pun terhenti.

Program ini rencananya bakal diterapkan di semua daerah penghasil kopi di Lampung seperti Tanggamus dan Waykanan. Petani dihimbau untuk membuat gabungan kelompok tani (Gapoktan) supaya jumlah kopi yang dihimpun dan diekspor lebih banyak. Hebatnya lagi, Pemprov punya rencana, kedepan bisa membuat suatu lembaga atau organisasi berbadan hukum agar bisa melakukan ekspor kopi tanpa perantara perusahaan.

Model lainnya yang dilakukan adalah dengan memberikan bantuan dan pendampingan kepada petani kopi. Diantaranya bantuan peremajaan tanaman kopi bagi lahan seluas 500 hektare, alat pengering, mesin sangria, etalase/ lemari panjang, mesin pembubuk hingga mesin pengemas bubuk kop.

Baca Juga:  Ridho Terbitkan Surat Edaran Jaga Marwah Kopi Lampung

Selain untuk meningkatkan produktivitas hasil panen juga mengajak petani untuk mandiri. Kalau selama ini petani kopi menjual dalam bentuk biji, kedepan sudah dalam bentuk produk jadi. Artinya petani sudah bisa mengolah kopi menjadi produk berkualitas lewat kemasan menarik sehingga meningkatkan nilai jual. Petani diajarkan mengadopsi cara-cara yang dilakukan para pengusaha dengan merek kopi ternama.

Kedua gagasan yang dibikin Pemprov Lampung ini bisa menjadi era baru dalam tata niaga kopi Lampung. Kalau ini benar-benar dilaksanakan, dipantau dan didampingi secara intens bukan tak mungkin kejayaan kopi Lampung akan kembali hadir.

Kita tak boleh lupa, kalau dulu, kopi sudah menjadi identitas Lampung yang dibanggakan. Bangga karena banyak petani kopi yang hidup sejahtera bukan semata ingin dikenal mancangera.(*)

ekspor kopi lampung Festival Kopi Lampung Barat 2018 Kopi Robusta Lampung tata niaga kopi lampung

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan