Euforia gak Penting

Ngupi Pai

Ngupi Pai

Oleh Riko Firmansyah

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Itu terbentuk dari banyak unsur. Yaitu agama, politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.
“Seperti corat-coret dan konvoi kendaraan bermotor anak SMA. Mereka sudah menganggapnya seperti budaya,” kata Saleh.
Sebelum 1990, tidak ada pelajar yang melakukan aksi itu. Setelah Ebtanas—seratang UN—diberlakukan budaya itu terbentuk. Sistem ujian kala itu dianggap beban. Maka dari itu setelah dinyatakan berhasil, mereka mengungkapkan rasa bebasnya dengan mencorat-coret seragam.
Selain itu, kebiasaan tersebut juga disebut-sebut sebagai bentuk protes karena murid-murid zaman dahulu terkesan terlalu patuh. Itulah kemudian mereka menganggap corat-coret seragam sebagai salah satu simbol kebebasan siswa yang telah lolos dari beban ujian. Meski tak semua murid pada era itu.
“Kini, keinginan untuk mewarnai seragam sekolah menjadi tak terbendung. Bablas, berlebihan, dan membahayakan orang lain,” tambah Saleh.
Padahal setelah kelulusan, mereka akan berhadapan lagi dengan budaya orientasi studi dan pengenalan kampus (Ospek). Kegiatan awal bagi setiap peserta didik yang menempuh jenjang perguruan tinggi. Seluruh rangkaian acaranya merupakan pembentukan watak bagi seorang mahasiswa baru.
Pada rangkaian acara itulah muncul ide-ide dari senior yang terkadang tak manusiawi. Rambut diikat 12 pita warna warni. Lalu, papan nama dari selembar karton, termasuk kaos kaki, dan merek sepatu yang terkadang hanya dijual di pasar loak. Plus bentak-bentak.
Peramasalahannya adalah terjadi pembiaran sejak awal. Dan, ketidakmampuan sejumlah pihak untuk memprediksi efek negatif yang bakal ditimbulkan—meski ada dari pihak kepolisian yang merazia mereka saat konvoi.
“Budaya gak karuan itu karena orang tua, guru, dan aparat, membiarkankannya. Baru bertindak serius setelah ada korban jiwa. Sampai kapan menunggu ada korban baru diperbaiki?” Lanjut Saleh.
“Eh Leh, gak usah jauh-jauh. Fenomena itu hanya terjadi setahun sekali. Anggap saja hiburan melihat iring-iringan mereka di jalan. Nih, yang kasat mata! Pondasi jembatan di depan itu sudah tergerus banjir dan sebentar lagi amblas. Kapan diperbaiki. Nunggu korban jiwa?”
“Budaya Minak, ini budaya. Siapa tahu pejabat terkait yang bertanggungjawab soal jembatan itu masih terbawa-bawa euphoria corat-coret dan opspek. Tunggu sampai ada korban baru bertindak.”
“Bukan euforia itu, tapi korup. Dan, budaya corat-coret serta opspek yang lari dari konsep tersebut adalah cikal bakal korup. Tahu tidak arti korup yang sesungguhnya itu apa? Yaitu, mengerjakan yang gak penting.”
“O, berarti maling uang rakyat juga tindakan yang gak penting. Begitu ya Minak?”
“Iya, euphoria gak penting,” jawab Minak Tab.

Euforia gak Penting

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan