Guyonan E-commerce

Oleh Supendi

Ngupi Pai

Ngupi Pai

moderator          : e-commerce?

cagub 3              : apa?

moderator          : e-commerce?

cagub 3              : e-commerce?

moderator          : ya…e-commerce?

cagub 3              : (angguk-angguk) kepala sambil nanya ke pasangannya…e- commerce apa? tapi tetap tak ada jawaban lalu tertawalah seisi ruangan. Setelah sebelumnya singkong goreng membuka tawa.

 

 

Itulah salah satu penggalan dialog yang menarik dalam debat cagub-cawagub Lampung di Ballroom Hotel Novotel Bandarlampung Sabtu (7/4) malam lalu. Mungkin momen ini jugalah yang paling diingat para peserta yang menyaksikan acara debat secara langsung.

Faktanya bahasan soal e-commerce ini pulalah yang justru banyak muncul di pemberitaan. Belum lagi potongan videonya yang sudah menyebar kemana-mana, tertawalah semuanya karena memang lucu sih.

Tapi dari pemberitaan media pulalah, cagub 3 beralasan kalau pernyataan yang dilontarkan moderator kurang terdengar dengan jelas karena perkara sound system. Tapi anehnya, ia justru bisa mengulangi kata yang diucapkan moderator dengan sempurna. Jadi dimana masalahnya? Ah sudahlah…

Baca Juga:  Sektor E-Commerce Paling Diminati

Tulisan ini bukan hendak menghakimi cagub no 3. Meskipun yang dibahas terkesan guyonan semata tapi kalau dibumbui dengan unsur politis rasanya nyesek juga.

Kata e-commerce yang dilontarkan moderator dalam sesi tanya jawab cepat sebenarnya tak membutuhkan jawaban apapun. Hanya cukup mencari padanan istilah atau yang memiliki korelasi. Tapi karena mungkin situasi dan kondisi yang tak mendukung, jadi susah loading.

Masuknya kata e-commerce dalam sesi tanya jawab tentu bukan tanpa alasan atau muncul begitu saja. Karena pada prinsipnya setiap pertanyaan ataupun istilah yang ditanyakan moderator pastilah sudah melalui tahap analisis dan penyaringan dari tim ahli yang ditunjuk KPU.

Baca Juga:  Kemenperin Dorong Pelaku IKM Pasarkan Produk lewat e-Commerce

Dalam konteks bahasa, e-commerce adalah istilah asing untuk menggambarkan aktivitas jual beli barang dan jasa melalui sistem elektronik khususnya internet. E-commerce atau perdagangan elektronik memang sedang ngetren saat ini.

Ketua Kamar Dagang Industri, Rosan Roeslani bilang, kontribusi produk lokal yang terpampang dalam daftar barang di pasar online (online marketplace) di Indonesia sampai awal 2018 ini hanya mencapai 6-7 persen. Memang tumbuh, tapi sayangnya produk yang dipromosikan kebanyakan barang-barang impor.

Nah disinilah konteks e-commerce cukup penting untuk ditanyakan. Cagub dan cawagub haruslah memiliki wawasan memadai soal seluk beluk online marketing. Kalau selama ini pelaku UKM terganjal oleh modal untuk menyewa ruko dan mencari pelanggan, lewat online semua bisa teratasi. Artinya perumusan strategi pemasaran online yang jitu bisa dipakai gubernur terpilih untuk menggenjot pertumbuhan sektor UKM di Lampung nantinya.

Baca Juga:  Jadi Pemilik Saham, Asing Kuasai e-Commerce Indonesia

Karena di zaman sekarang, semua pelaku usaha/industri baik kecil, menengah apalagi besar semuanya mengandalkan platform online. Begitu juga dengan kultur perilaku konsumen yang mulai mengarah pada transaksi online.

Percayalah penguasaan materi soal e-commerce sangat potensial untuk menarik suara calon pemilih di zaman milenial. Para generasi muda di Lampung yang mayoritas sudah melek teknologi butuh tawaran program kongkrit soal pengembangan e-commerce. Mereka butuh solusi agar tak selalu terjebak pada rutinitas susahnya mencari kerja. Jadi jangan lagi bertanya apa itu e-commerce ya.(*)

 

 

 

 

593 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

cagub arinal e-commerce debat cagub cawagub lampung 2019 E-Commerce

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan