Harga Pupuk Terimbas Gas Mahal

Ilustrasi. (Ist)

JAKARTA—Direktur Utama PT Pupuk Sriwidjaja Palembang (Pusri) Mulyono Prawiro menyatakan, harga pupuk Indonesia kalah dari China dan Malaysia. Penyebabnya, harga gas industri untuk produksi pupuk Indonesia lebih mahal daripada gas di kedua negara tersebut sehingga menjadikan harga pupuk Indonesia relatif mahal di pasaran.

“Harga pupuk China dan Malaysia itu lebih kompetitif dan murah dibanding kita, jelas kita kalah jauh,” ujar Mulyono.

Harga gas di Indonesia sebelumnya menyentuh angka US$ 12. Pemerintah, dalam hal ini Kementerian ESDM, kemudian mengeluarkan Peraturan Menteri Nomor 16/2016 yang mewajibkan penurunan harga gas. Pada bulan Februari harga gas akhirnya turun di kisaran harga US$ 9.

“Meski diturunkan, jika dibandingkan dengan harga gas dunia, Indonesia masih mahal. Apalagi dengan China, kita tidak dapat menahannya,” ujarnya.

Pusri berniat mengembangkan produk methanol, polietilen dan polipropilen karena permintaan dalam negeri yang begitu besar. Hingga 2017 ini misalnya, permintaan untuk ketiga produk tersebut masing-masing sebesar 200 ribu ton, 600 ribu ton, dan 600 ribu ton.

Selain itu, selama ini produk-produk tersebut selalu mengimpor, tak ada produksi dalam negeri. Namun, seperti produk pupuk lainnya, produk ini pun membutuhkan bahan baku gas. “Jadi ya masih belum bisa dibuat dulu, sebatas studi saja yang diselesaikan,” paparnya.(*)

Posting Terkait