Heri Mulyadi Terbitkan Buku Puisi “Elegi Cinta Cerita Kata”

Penyair Lampung, Heri Mulyadi, menerbitkan buku puisi “Elegi Cinta Cerita Kata”. Buku puisi ketiga Heri ini diterbitkan Siger Publisher, Lampung, November 2018. Sebelumnya, Heri telah menerbitkan “Kembali Kosong”(2015) dan “Melukis Langit” (2017).

Selain sejumlah puisinya masuk antologi puisi bersama para penyair lainnya, di antaranya Jogya dalam Nafasku (2015), Mengeja Kitab (2016), Merenda Kasih (2016), Menyulam Sayang (2017), dan dua buku puisi esai yang digagas Denny JA baik di Tanah Air: RajaAlam Barajo (2018), maupun kerja sama penulis Indonesia dan Malaysia, Kemilau Satu Langit (2018).

Mantan anggota DPRD Kota Bandar Lampung dari PKS ini menjelaskan, penerbitan buku puisi ketiga ini sekaitan dirinya mengikuti Pertemuan Sastrawan Nusantara ke 19 di Sabah, Malaysia, pada 9-11 November mendatang.

“Buku puisi saya ini sebagai ‘buah tangan’ ke acara sastra serumpun Melayu di Sabah. Buku ini akan saya jual Rp50 ribu,” kata dia, Selasa (16/10) pagi.

Masih kata dia, buku puisi Elegi Cinta Cerita Kata merupakan puisi-puisi perjalanan dan perenungan terhadap situasi, objek, maupun kerinduan pada Ilahi dan keluarga.

“Saya hanya memungut pesan-pesan, baik terang maupun rahasia, lalu saya menafsir ulang dari tanda-tanda yang ada,” imbuh dia.

Sementara Ahmad Gaus, kritikus dan dosen sastra di Swiss German University (SGU), Tangerang dan anggota Lembaga Sensor Film mencatat puisi-puisi Heri Mulyadi, sebagian puisi yang dimuat dalam buku ini merupakan hasil “penglihatan” Heri yang mampu menerobos alam fenomena yang kasat mata, menyingkap rahasia-rahasia di balik kenyataan keras, dan meletakkan imajinasinya dalam horison pandangan mata yang berlapis-lapis. Sebagian lainnya adalah puisi-puisi yang lahir dari proses pengendapan pikiran dan perasaan yang diekspresikan dalam bait-bait puisi yang terkesan “komunikatif”.

“Pikiran dan perasaan ada pada setiap orang, namun tidak setiap orang mampu mengekspresikandengan cara seorang penyair menyampaikannya. Orang-orang memilih jalan lurus dan verbal, penyair memilih jalan menikung dan terjal. Heri lebih sering memilih jalan yang kedua,” kata Gaus, panggilan akrab kritikus yang juga penyair ini dalam pengantarnya di buku ini dengan tajuk “Puisi, Daun, dan Bunga di Musim Semi”.

Ahmad Gaus, misalnya memberi contoh puisi Heri Mulyadi yang dimaksudnya. Inilah puisi dari penyair kelahiran Tanjungkarang, 10 Oktober 1973, dari seorang ibu bernama Waliyah dan ayah, Ahmad Humaidi (alm).

 

Mengejar Tuhan

Di jalan zonder debu ini,

angin berkesiut menyesaki ruang,

mengembara membekap buana,

meniupkan selendang pelangi,

berselimut malam,

berpayung hujan

 

Kisahkanlah: jika sejumput rindu datang,

orang ramai berteriak atas nama tuhan,

masihkah zikir,

doa-doa kasih bagi gembala tersesat,

dewa dewi yang bersemayam di nirwana,

tapa brata pengendali jiwa,

meredam amarah,

benci dan dendam?

 

Di deru angin kutemui wajah

rupa-rupa tuhan, aku tersungkur:

sujudku belum lagi sampai kutanya adam,  ibrahim,  musa dan isa:

pulanglah, katanya, usah engkau berebut mengejar tuhan

 

lalu torehkan luka

budha melambai di kejauhan, kidungkan

bhagawat para pariah: jangan kau mati

sebelum mati muhammad berbisik, jangan buat kedustaan!

 

Padang-Palembang,  27 Februari 2018

Puisi di atas, masih kata Gaus, merefleksikan pengembaraan imajinasi yang konsisten pada objek yang bisu, jauh, dan gaib.

Nama-nama dan diksi yang dipilih adalah nomenklatur religius (sebagai representasi kesucian, keagungan) yang dibenturkan dengan fenomena kemanusiaan yang profan dengan hasrat-hasrat manusiawinya seperti amarah, benci dan dendam.

Menurut Ahmad Gaus, adalah sifat manusia memiliki ambisi untuk mengejar kekuasaan, kedudukan, harta, dan sejenisnya. Juga, manusia sangat bernafsu menguasai kebenaran (yang direpresentasikan oleh judul puisi ini: Mengejar Tuhan).

Masalahnya, jika setiap orang/kelompok berebut kebenaran sambil menghalau yang lain, maka yang akan terjadi ialah luka-luka, dan bahkan kebenaran itu sendiri menjauh:… usah engkau berebut/ mengejar tuhan / lalu torehkan luka.. / budha melambai di kejauhan.

“(Tapi) Heri melakukan dialog imajiner dengan para nabi dan orang-orang suci sebagai upaya mencari jawaban atas apa yang ia lihat di alam fenomena yang boleh jadi tak nampak pada pandangan mata orang lain. Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan lirih dan retoris,” jelas dia.

Buku puisi ketiga Heri ini juga ditampilkan pendapat rekan-rekannya, seperti penyair/aktir Aspar Paturusi, Bambang Irawan, Fatin Papyrus Hamama, Fanny J. Poyk, Akhmadi Sumaryanto, Isbedy Stiawan ZS, dan Muhammad Tobroni. (*)

Elegi Cinta Cerita Kata Heri Mulyadi

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan