Herman HN Bulan-bulanan Panwaslu

GEDONGTATAAN – Calon Gubernur nomor urut 2 Herman HN mengkritisi kinerja Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu). Dia menganggap penyelenggara pemilu itu tidak adil dalam menjalankan tupoksi dengan menjadikannya bulan-bulanan seolah-olah kerap melanggar.

“Ada salah satu calon yang membagi-bagikan sembako, tapi panwas tidak memanggil timnya. Tapi, setiap saya yang mengadakan acara tim saya dipanggil terus oleh panwas. Yang benar seperti apa? Saya minta Panwas di Pesawaran maju sebentar menjelaskan dulu apa yang boleh dan yang tidak. Bila tidak? Nanti tim saya dipanggil lagi,” jelasnya, Rabu (7/3/2018).

Hal itu disampaikannya saat memberikan sambutan dalam kampanye yang di Lapangan (Belakang ruko samping Masjid Ar-Royyan), Desa Sukaraja, Kecamatan Gedongtataan, Pesawaran.

Dirinya mencontohkan, saat mengundang penceramah Mamah Dedeh dan Ustad Wijayanto, yang menyarankan untuk memilih dia menjadi gubernur Lampung, lalu timnya dipanggil.

“Gila apa? Masa sampai tim daya dipanggil karena ada ajakan penceramah, maka dari itu setiap saya ada kegiatan saya menyuruh panwas untuk berbicara duluan biar saya tidak disalahkan terus,” tegasnya.

Dalam kegiatan itu pula,  Herman HN menyampaikan visi misinya untuk menjadi gubernur,  diantaranya pendidikan terjamin, kesehatan gratis, jalan bagus, dan keamanan lingkungan terjaga.

Dalam kampanye calon gubernur tersebut Herman HN tidak banyak berbicara, tapi ia menyarankan warga yang belum yakin terhadap kinerjanya bertanya kepada masyarakat di Bandarlampung,  yang pernah ia pimpin selama delapan tahun.

“Selama jadi Walikota, 300 orang saya kuliahkan di Unila, 800 di Itera dan 100 di IAIN, sekolah  gratis, mobil ambulance gratis dipakai masyarakat nongkrong di Tugu Adipura,” kata dia.

Kemudian 2000 orang pengurus masjid dapat insentif Rp 2 juta per tahun,  dan setiap tahun diumrohkan 500 orang, pembangunan jalan bagus. “Jadi kalau kurang yakin sama kinerja saya silahkan tanya warga Bandarlampung,” jelas dia.

Herman juga meminta, agar masyarakat Pesawaran pandai memilih,  jangan mau diberi uang atau sembako dari calon karena pemimpin yang seperti itu dinilai tak amanah.

“Saya gak mau yang seperti itu, dikasih uang Rp 100 ribu, terus sembako, langsung mau nyoblos calon itu. Memang mau selama lima tahun dibayar segitu?  Tapi sekolah sama kesehatannya mahal. Kalau masyarakat mau pilih saya. Maka saya akan tepati janji saya untuk mensejahterakan masyarakat,” ucap dia.

Dalam kesempatan tersebut,  salah satu anggota Panwas Kecamatan Gedongtataan  Jono Maulana yang diminta memberikan ketentuan calon dalam berkampanye menyampaikan bahwa yang boleh diberikan kepada peserta kampanye diantaranya,  Baju,  Pin,  Kalender, Jilbab,  dan beberapa lainya,  sedangkan yang tak boleh yaitu, uang dan sembako.

“Saya hanya memberi tahu, kalau pin,  baju,  kalender itu boleh,  tapi kalau uang dan sembako itu,  salah,” jelas Jono.

Pantauan media ini, dalam kampanye pasangan calon No urut 2, Herman HN dan Sutono, yang mendatangkan Ustad Wijayanto dihadiri ratusan ibu ibu pengajian asal Pesawaran.(MH/PS)

kritisi tupoksi panwaslu selalu incar herman hn

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan