Hipmi Lampung Risaukan Nasib Rupiah

Arie Nanda Djausal (IST)

BANDARLAMPUNG—Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS dalam beberapa pekan terakhir terus merosot tajam. Kondisi ini membuat para pengusaha di Lampung mulai khawatir lantaran berimbas pada naiknya biaya produksi.

Ketua Umum BPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Lampung, Arie Nanda Djausal menilai, anjloknya nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS yang telah menyentuh Rp14.367 membuat harga bahan mentah turut meninggi yang berefek pada tingginya biaya produksi.

Ia menjelaskan, perekonomian Lampung ditopang dari sektor pertanian dan peternakan serta industri pengolahan. Parahnya sebagian besar bahan bakunya seperti pupuk, gas dan pakan ternak serta sparepark didatangkan secara impor.

Arie mengaku, tren pelemahan Rupiah telah terlihat sejak tahun 2017 lalu. Kondisi meroketnya nilai dolar AS, kata dia, pasti berimbas besar untuk perekonomian Lampung.

“Ditambah lagi dengan adanya perang dagang antara Amerika dan Tiongkok,” ujarnya.

Sebelumnya, Ketua BPP Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI)‎ Bidang Ekonomi, Muhamad Idrus menyatakan, pengusaha meminta pemerintah mewaspadai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang lebih dalam.

Idrus menjelaskan, pelemahan rupiah bukan hanya dampak dari persaingan dagang antara Amerika dengan China dan Uni Eropa, tapi juga disebabkan faktor internal. Karena itu, pemerintah harus segera mengeluarkan kebijakan penyelamatan rupiah.

Lebih lanjut, Idrus mengatakan jika nilai tukar rupiah menembus 15.000 per dolar AS, perekonomian Indonesia semakin terpuruk. Salah satu sebabnya itu industri di dalam negeri yang banyak tergantung bahan baku impor.

“Semoga hal ini tidak terjadi, nilai tukar bisa kembali menguat. Industri kita didominasi Foot Loose Industry yang mengandalkan bahan baku impor. Kalau nilai tukar terus melemah, industri kita akan kolaps,” kata dia.

Selain itu, Idrus juga mengimbau masyarakat tidak memborong dolar dan memiliki kepedulian terhadap kondisi perekonomian Indonesia. Hal ini agar kurs rupiah tidak semakin anjlok.

“Peran serta masyarakat khususnya kalangan elite diharapkan agar melakukan aksi nyata keprihatinan atas kondisi ekonomi kita, jangan sampai sebaliknya, (yaitu) memborong dolar,” tandas dia.(*)

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan