Dasrun Hidayat Raih Doktor Public Relations Budaya

BANDUNG – Dasrun Hidayat meraih gelar doktor doktor Ilmu Komunikasi di bidang Public Relations Budaya sesetelah berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan Prof. Dr. Ir. Mahfud Arifin, MS. selaku Representasi Guru Besar Universitas Padjadjaran, 14 September lalu.

Disertasi Dasrun yang berjudul Perilaku Komunikasi Jakhu Suku sebagai Public Relations Budaya pada Masyarakat Adat Lampung, Studi Etnografi Komunikasi tentang Pola Kerja Jakhu Suku pada Prosesi Ritual Pemberian Gelar Masyarakat Adat Saibatin Marga Gunung Alip Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung  diuji oleh  tim  yang terdiri terdiri dari Prof. Dr. Engkus Kuswarno, MS. Dr. Feliza Zubair, M.Si. Dr. Hanny Hafiar, M.Si. Dr. Atwar Bajari, M.Si. Dr. Jenny Ratna Suminar, M.Si. Dr. Susanne Dida, MM. Dr. Dadang Rahmat Hidayat, M.Si. dan Dr. Hj. Ninis Agustini Damayani, M.Lib.

Sebelum menjawab pertanyaan dari tim penguji, Dasrun terlebih dahulu menyampaikan orasi ilmiah berupa ringkasan hasil penelitian disertasi. Pada kesempatan itu Ia memaparkan bahwa penelitian yang lakukan di latar belakangi oleh ketertarikan terhadap perilaku konsisten masyarakat adat Saibatin Lampung dalam melestarikan tradisi pemberian gelar atau istilah Lampung disebut Juluk Adok.

Perilaku konsisten ini dimaksudkan sebagai upaya menjaga citra dan reputasi masyrakat adat Saibatin yang dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai suku adat yang berperilaku superorganik di dalam melestarikan tradisi pemberian gelar. Tradisi gelar yang mengikuti jalur keturunan orangtua yang bekedudukan mengambil anak menantu.

Menurut Dasrun, pada pelaksanaannya yang bertanggung jawab dalam mengelola tradisi pemberian gelar yaitu Jakhu Suku. Ia dipilih berdasarkan ketentuan adat dengan pertimbangan jalur keturunan.  Jakhu Suku sebagai pengelola tradisi berperan dalam menjaga konsistensi perilaku komunikasi masyarakat adat Saibatin. Ia menjalankan fungsi PR dengan mengelola tahapan kegiatan Public Relations Budaya (PR Budaya) yang merupakan bagian dari peristiwa komunikasi pada tradisi pemberian gelar.

Menurut dia, Jakhu Suku dalam perjalanannya mengelola tradisi pemberian gelar dihadapkan pada situasi yang beragam. Keberagaman ini terjadi sebagai akibat perubahan kedudukan (hejongan) gelar yang diterima oleh masyatakat adat Saibatin.Perubahan status yang sebelumnya menjadi orang dalam di rumah orangtua kandungnya (jekhma delom) kemudian berubah menjadi orang luar (jekhma luwah). Perubahan ini layaknya seperti “dibuang” oleh keluarga asal.

Situasi ini pula yang mendasari mengapa kehadiran Jakhu Suku sangat diperlukan. Jakhu Suku bertanggung jawab dalam menjaga harmonisasi sikap dan perilaku masyarakat adat Saibatin. Jakhu Suku diharapkan mampu mengubah sikap negatif menjadi sikap positif.Adanya peran Jakhu Suku diharapkan dapat membangun pemahaman, kepercayaan, dan dukungan sehingga reputasi dan citra bahwa masyarakat adat Saibatin konsisten dalam melestarikan tradisi pemberian gelar atau Juluk Adok tetap dapat dipertahankan.

Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan studi etnografi komunikasi melalui teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi, dan studi pustaka, hasil penelitian menemukan bahwa prosesi ritual pemberian gelar (Juluk Adok), dilakukan melalui mufakat adat. Mufakat diawali dengan mufakat inti (mufakat kamar) yang bertujuan untuk menetapkan status pernikahan karena tradisi pemberian gelar merupakan bagian dari rangkaian prosesi pernikahan.

Masyarakat adat Saibatin mengenal tiga sistem pernikahan meliputi sistem laki-laki mengambil calon istri (nyakak) dengan jalur kekerabatan patrilinial. Perempuan mengambil calon suami (semanda) dengan jalur kekerabatan matrilinial dan sistem netral atau Raja-Raja dengan kekerabatan ganda atau bilinial. Sistem pernikahan yang disepakati sebagai syarat penetapan jalur gelar yang akan diberikan kepada calon penerima gelar.

Gelar hanya diperbolehkan mengikuti jalur kekerabatan dari keluarga yang berstatus mengambil anak menantu. SelanjutnyaJakhu Suku melakukan mufakat pimpinan adat (mufakat pandia paku sakha) yang bertujuan untuk menetapkan jenis gelar. Jenis gelar mengikuti jalur kekerabatan keluarga yang telah disepakati pada mufakat inti.

Tahapan mufakat selanjutnya yaitu mufakat besar (mufakat balak). Mufakat ini bertujuan menetapkan rangkaian ritual dan konsep penggunaan atribut adat. Terdapat dua fungsi atribut yaitu atribut sebagai pakaian adat dan atribut sebagai dekorasi. Penggunaan atribut adat juga mengacu pada sistem pernikahan dengan status keluarga yang berkedudukan mengambil anak menantu yang mendapatkan hak dalam menetapkan konsep ritual pemberian gelar. (*)

1,275 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Related posts

Leave a Comment