ITERA Bahas Masalah Kabut Asap

Istimewa

BANDARLAMPUNG– Institut Teknologi Sumatera (Itera) menggelar Studium Generale berjudul Air Pollution Monitoring and Modelling yang menghadirkan pakar polusi udara dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM) Dr. Wesam Al Madhoun, Rabu (18/9) di Kampus setempat.

Dalam topik yang tengah menjadi isu besar nasional ini tergambarkan, bahwa udara di negara kita sedang dalam kondisi tidak sehat. Penyebab polusi udara sendiri terdiri dari berbagai penyebab antara lain dari alam seperti kebakaran, ataupun buatan seperti gas industri, gas emisi kendaraan, pengelolaan sampah.

Dalam sambutan Rektor Itera yang  diwakili oleh Wakil Rektor Itera Bidang Non Akademik Prof. Dr. Sukrasno. M.S., menyampaikan, topik yang dibahas dalam studium generale berkenaan dengan hajat hidup orang banyak sehingga perlu banyak ahli khususnya dari Itera untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Baca Juga:  Gubernur Ridho Siap Jadikan Lampung Penyuplai SDM Unggulan

Acep Purqon, Ph.D selaku Direktur ITERA International Office menambahkan, permasalahan ini tidak akan bisa hanya dilakukan perorangan. Seluruh pihak yakni akademisi, pengusaha, pemerintah, masyarakat serta media harus bersinergi dalam menyelesaikan masalah ini. Khususnya Itera sebagaimana amanah institusi Pendidikan Itera yakni Itera for Sumatera.

“Selain daripada itu, usul yang paling penting adalah negara-negara terdekat sebaiknya tidak saling menyalahkan, sebaiknya kita bekerjasama (Regional Planning) untuk menyelesaikan masalah. Kita sebagai institusi Pendidikan harus menginisiasi hal ini,“ ujar Acep Purqon.

Baca Juga:  AML Gelar Aksi Melawan Asap

Kedepannya, Itera dan UTM akan merencanakan pengembangan teknologi untuk monitoring dan pencegahan. Selain itu Studium Generale ini dilaksanakan dalam rangka menjajaki kerjasama, staf/student exchange.

Lebih lanjut, Dr. Wesam menyebutkan, polusi udara merupakan silent kille. Sekitar tujuh juta orang di dunia meninggal karena hal ini. Dampak yang paling disoroti ialah masalah kesehatan seperti pneumonia, stroke, jantung dan kanker.

Dari penelitian yang dilakukan, dampak tertinggi udara yang tidak sehat dirasakan oleh anak-anak, kemudian wanita dan pekerja lapangan.  Seperti yang terjadi di kota Riau dan Palangkaraya. Ia memaparkan daerah tersebut memiliki kondisi udara yang benar-benar serius dan harus segera ditindaklanjuti.

Baca Juga:  Itera Lampung Ajak Masyarakat Saksikan Gerhana Bulan

Sebagai akademisi, hal yang dapat dilakukan yakni mengedukasi masyarakat bahwa udara yang sehat merupakan hak setiap orang. Selain itu, kita juga membantu mengontrol penegakan hukum.

“Sebagai akademisi dibidang teknologi, kita juga dapat membantu membuat  solusi seperti teknologi alternative energi yang lebih efektif, transportasi yang lebih affordable dan aman, serta pemilihan bahan bakar rumah tangga untuk memasak, pemanas maupun pencahayaan,” urai Dr.Wesam.(LS/HMS)

Itera Kabut Asap

Posting Terkait