KakakKu Jadi Tumbal Pesugihan

                           Ilustrasi/Ist

Penulis sengaja menyamarkan nama-nama didalam kisah ini. Semoga kita dapat mengambil hikmahnya atas kejadian yang menimpa saudara-saudara kita. Amin.

SEDIH bercampur mengerikan jika aku mengingat kisah nyata yang keluargaku alami tahun 2011. Mahmud (33) kakak ketigaku, nyaris meregang nyawa menjadi tumbal Pesugihan Buto Ijo.

Bermula saat aku menetap di Kota Bandarlampung untuk menimba ilmu Web Development di salah satu tempat kursus terbesar di Kota Tapis Berseri ini, karena memang setahuku di daerahlah metode dan fasilitas serta biaya sangat jauh aku dapatkan dari pada di Ibu Kota Jakarta.

Entah ada dorongan apa sehingga aku ingin sekali kembali ke Jakarta, biasanya jika aku kembali ke Jakarta paling tidak memang situasinya sudah direncanakan maka aku balik ke Kota Metropolitan ini.

Mentari pagi sudah menampakan sinarnya, jam arlojiku menunjukan pukul 7:15 WIB. setelah angkutan umum mengantarkanku ke Terminal Rajabasa perlahan langkahku menuju Bus Rajabasa-Bakaheuni, disambut oleh suara yang lantang menyebut Bakau berulang kali.

Tanpa menunggu lama, Bus yang aku tumpangi berangkat menuju Bakaheuni, sepanjang jalan hanya MP3 Player menemani rasa jenuhku selama kurang lebih hampir 12 jam perjalanan menuju Tangerang Selatan, tempat kakak tertuaku Ramdan tinggal.

Daratan Sumatera, kini sudah kusebrangi dengan Kapal Fery, kala itu tidak begitu banyak penumpang yang akan menyebrang ke Pulau Jawa, kurang lebih hampir 4 jam perjalanan laut akhirnya kapal bersandar, dan aku lanjutkan lagi berjalan kaki menuju terminal Merak mencari Bus jurusan Kalideres.

Tak terasa langit sudah berubah menjadi gelap, azan Magrib berkumandang, sementara aku masih dalam perjalanan di dalam mobil angkutan Serpong-Muncul.

Setibanya di Muncul, aku menunggu Ramdan di warung kopi, tak lupa aku mengingatkan kembali Ramdan untuk menjemput di warung kopi melalui sambungan telpon.

Rasa jenuhku hilang serta heran manakala, motor Honda Supra menghampiriku ternyata berboncengan dengan Mahmud, yang terlihat dimataku Mahmud nampak aneh, Mahmud nampak tidak mengenakan sepatu ataupun sandal, nyaris kakinya tak berasalkan apa-apa. Menurut cerita Ramdan, Mahmud berjalan kaki seperti orang linglung disepenjang jalan dari UIN sampai Ciputat kira-kira 5KM. Dari Ciputatlah Ramdan menjemput Mahmud.

Mau tidak mau, satu motor bonceng bertiga, dengan santai Ramdan memacu motornya hingga sampai rumah dengan selamat. Seingatku malam ini malam Jumat maka kami sekeluarga menanyakan perihal kenapa bisa sampai meninggalkan pekerjaan.

Rupanya dari penjelasan Mahmud, dirinya sengaja kabur dari Mess yang difasilitasi Boss tempatnya bekerja, lantaran dirinya merasa aneh di badannya, dan situasinya juga tidak memungkinkan untuk menetap di mess. Akhirnya Mahmud memilih untuk pergi.

Tepat hari Jumat malam Sabtu, Mahmud menginap di rumah mertua Ramdan, di daerah Pamulang, ternyata dari sini awal dirinya mengalami keanehan, jam sudah menunjukan pukul 1 pagi, dikala semua orang sudah terlelap tidur, Mahmud berteriak keras seakan membuat sontak seisi rumah bangun dan menghampiri Mahmud.

Mahmud berteriak, menurutnya ada mahluk seperti Gurita yang akan menarik lidahnya, kejadian ini terjadi hampir setiap menit kala malam hari itu. Besoknya, para tetangga yang tau akan kejadian malam itu menyarankan untuk datang ke orang pintar, sebab menurut salah satu warga, dari wajah Mahmud nampak berbeda.

Sabtu siang Aku dan Ramdan serta ditemani tetangga, mengantarkan Mahmud ke orang pintar yang disarankan oleh kawan Ramdan di daerah Ciputat. Bang Dalih orang pintar yang akan menyembuhkan Mahmud.

Ternyata Bang Dalih sudah menunggu akan kedatangan maksud dan tujuan kami sekeluarga. Setelah berbasa-basi maka Mahmud disuruhnya duduk bersila, entah apa maksud dan tujuannya, aku hanya bisa menyaksikan dan melihat tangan Bang Dalih memegang belakang leher Mahmud.

Suasana semakin gaduh mana kala semakin lama Bang Dalih memegang belakang leher Mahmud, dan semakin keras pula rasa sakit yang dirasakan oleh Mahmud, begitu keras suaranya menyebut Allah Akbar berulang kali. Sehingga membuat para tetangga mengampiri rumah Bang Dalih, karena merasa penasaran apa yang terjadi akibat suara teriakan keras di rumahnya.

Keringat bercucuran dikening Bang Dalih, sambil menghela nafas panjang, keluar ucapan dari bibir Bang Dalih, bahwasanya usia Mahmud hanya sampai dua hari, Sebab menurutnya, Mahmud ditargetkan menjadi tumbal pesugihan oleh Boss ditempatnya bekerja.

Duarrrr!!! Mendengar ucapan Bang Dalih seakan membuat diriku dan Ramdan seakan tersambar petir disiang bolong, hari Sabtu kami datang untuk menyembuhkan Mahmud, ternyata dua hari lagi (Red-Senin) nyawa Mahmud ditargetkan sudah tidak ada.

Sempat terbesit dibenakku, sampai buta hati orang ini, tega-teganya menghilangkan nyawa orang lain hanya demi harta duniawai yang sesaat ini. Dimana rasa prikemanusiaannya?? sebagai manusia kami punya hak untuk hidup!!

Tanpa sadar, rupanya aku terhanyut dalam lamunanku. Sambil menunjukan raut wajah tegang, Bang Dalih menanyakan siapa kepala keluarganya?? Dengan sigap Ramdan menyahut, sambil menjelaskan bahwasanya Ayah kami sudah tidak ada. Lantas Ramdan menanyakan bagaimana untuk kesembuhan adik saya Mahmud??

Bang Dalih menyampaikan, hanya satu keinginnannya, yaitu melakukan pembalasan. Sebab menurut Bang Dalih dia akan membalas perbuatan orang yang akan menjadikan kakakku Mahmud sebagai tumbal pesugihan.

“Besok lusa, siapkan peralatannya, kita main nanti dilapangan tengah malam,” Tantang Dalih, sambil mengusap keringat didahinya.

Mendengar ucapan Bang Dalih, aku dan Ramdan akhirnya menyampaikan penolakan dengan halus agar Bang Dalih tidak merasa tersinggung karena penolakan kami, aku dan Ramdan menyampaikan agar kiranya kami sekeluarga dapat berembuk terlebih dahulu. Atas tawaran yang disampaikan Bang Dalih. Jujur, kami sekeluarga tidak menyangka apa yang terucap dari Bang Dalih, sebab keinginan kami sekeluarga hanya satu, yaitu agar Mahmud dapat sembuh, bukan untuk melakukan pembalasan.

Sabtu malam minggu, dikala suara jangkrik menghibur kesunyian malam, kejadian Mahmud berteriak sambil menutup lidahnya samakin menjadi-jadi, bahkan kami memutuskan tidak tidur demi menjaga Mahmud, agar tangannya tidak masuk ke dalam mulutnya.

Jujur, rasa penasaran kami semakin menjadi-jadi, ingin rasanya menanyakan apa gerangan yang terjadi, dan apa yang dirasakannya. Akan tetapi kami sekeluarga mengurungkan niat untuk menanyakan semua itu. Apalagi yang membuat miris, kondisi fisik Mahmud semakin hari semakin menurun drastis.

Akhirnya dari hasil rembuk dengan Ramdan, kuputuskan besok hari Senin aku berniat datang ke Bogor, mambawa Mahmud untuk berobat ke orang pintar kedua bernama Sahroni.

Sekitar jam 1 siang, akhirnya sampai juga di rumah Sahroni, orang pintar yang kami dapat dari informasi tetangga. Hanya dengan bermodalkan Bismilah dengan niat yang tulus. Tanpa halangan aku bisa sampai dikediamannya.

Tidak berselang berapa lama, Sahroni menyuruh Mahmud duduk bersila di ruang tamu, entah apa yang dibacanya, aku hanya melihat tubuh Sahroni bergetar-getar. Kurang lebih 10 menit akhirnya Sahroni selesai. Dengan rasa penasaran, aku bertanya seolah tidak tahu apa-apa akan kejadian Mahmud, jika sebelumnya Bang Dalih sudah menjelaskanNya.

Apa yang disampaikan Sahroni ternyata sama persis apa yang di ucapkan Bang Dalih tempo hari, bahwasanya Mahmud menjadi target tumbal pesugihan, usianya juga hanya mengitung hari. Dirinya menyarankan agar kiranya keluarga berserah diri kepada Allah SWT.

Menurutnya, rejeki,jodoh dan maut hanya Allah yang tahu. Meskipun Mahmud dijadikan target tumbal pesugihan, apalagi Sahroni menyampaikan, paling utama yang terpenting kesembuhan Mahmud, segala apapun caranya yang terpenting kesembuhan. Dan peran keluarga sangat penting demi kesembuhan Mahmud.

Dirinya juga terang-terangan jika keinginan keluarga kami miminta balas terhadap orang yang akan menjadikan Mahmud sebagai tumbal. Maka dirinya lepas tangan. Memang dari awal keinginan kami sekeluarga yang terpenting adalah kesembuhan Mahmud, untuk urusan pembalasan biarlah mereka merasakannya dikemudian hari.

Mendengar apa yang aku sampaikan, Sahroni mendukung jika tujuannya untuk mengobati Mahmud, maka dirinya menyarankan agar kiranya Mahmud malam nanti selalu dijaga, jangan sampai lengah, sebab menurutnya. Orang yang menginginkan nyawa Mahmud sudah semakin dekat dari waktu yang ditentukan. Apalagi campur tangan orang yang akan menggagalkan pencabutan nyawa Mahmud semakin jelas melakukan perlawanan terhadap Sahroni.

Ternyata, apa yang disampaikan Sahroni pada malam hari, saat kami di rumah, kejadian berulang terjadi, tangan Mahmud mencoba menutup Gurita semakin menjadi-jadi. Bahkan entah apa yang yang menjadi keanehan Mahmud, nampak terlihat mata sebalah kanan nampak merah dan lebam.

Kami sebagai orang awam hanya mengira, mungkin sewaktu Mahmud mencoba menutupi mulutnya melalui tangan, bisa juga terkena mata, sehinga matanya menjadi merah dan lebam akibat dari tangannya sendiri.

Selang dua hari kondisi Mahmud, menjadi semakin tidak karuan. Jika dirinya merasa teriak menutupi mulutnya di malam hari, kali ini pagi siang dan sore juga sama halnya seperti itu, karena merasa tidak ada perkembangan akan kondisi Mahmud, aku beranikan diri kembali ke Bogor sendirian menemui Sahroni dirumahnya, sekaligus menyampaikan perkembangan Mahmud akan matanya yang tidak kunjung sembuh sudah beberapa hari ini.

Dari penjelasan Sahroni, merahnya mata Mahmud disebabkan bukan karena colokan dari tangannya sendiri, melainkan dari teluh media boneka yang sengaja untuk membuat buta mata Mahmud, Alhamdulilah atas izin Allah, kondisi mata Mahmud berangsur membaik setelah aku menyambangi rumah  Sahroni yang kedua kali.

Waktu terus berjalan, hari yang ditentukan Bang Dalih bahwasaanya target Mahmud tewas hari Senin nyatanya sudah lewat, Alhamdulilah meskipun sudah hampir dua minggu kondisi Mahmud yang tidak ada perubahannya sama sekali, asalkan Mahmud masih bisa bernafas, hanya itu keinginan keluarga kami. Meski Gurita yang akan mencabut lidah Mahmud masih saja menyerang.

Karena demi kesembuhan Mahmud, ikhtiar kami sekeluarga terus lakukan, jujur saja meskipun tidak terasa, waktu,pikiran, uang dan tenaga semua kami curahkan, asalkan demi kesembuhan Mahmud.

Sampai akhirnya salah satu keluarga menyarankan berobat ke daerah Cikarang. Kami sekeluarga pun mendatangi, dengan harapan demi kesembuhan Mahmud.

Namun, lagi-lagi kami sekeluarga merasa lelah dengan kondisi yang tidak ada perubahannya. Kurang lebih hampir satu bulan kami sekeluarga hanya bisa menjaga Mahmud sepanjang hari.

Kini kondisi Mahmud, sudah semakin menurun, wajah dan badannya terlihat kurus, apalagi hampir dibagian lidahnya luka akibat terkena gigitan giginya sendiri, manakala Gurita selalu menyerang ingin mencabut nyawanya.

Alhamdulilah kekuasan Allah maha besar, manakala kami sekeluarga sudah merasa putus asa selalu ikhtiar ke tiga orang pintar, namun kami hanya bisa menjaga Mahmud saja tanpa bisa menyembuhkan. Akhirnya Ramdan menceritakan musibah ini kepada teman satu kantornya dibilangan Fatmawati-Jakarta Selatan.

Rupanya mendengar apa yang diceritakan oleh Ramdan, Samin Security yang sudah puluhan tahun bekerja. Menyampaikan untuk datang ke rumah adik iparnya Samsul di daerah Cipete-Jakarta Selatan. Mendengar tawaran Samin, Ramdan sepulang bekerja langsung menyambangi rumah Samsul, dengan maksud menceritakan musibah yang menimpa keluarga kami.

Akhirnya besok malam setelah Isya, kami sekeluarga menyambut kedatangan Samsul bersama Ramdan, untuk mengobati Mahmud. Sungguh jauh berbeda metode yang diterapkan oleh Samsul dari ketiga orang pintar yang sebelumnya mengobati Mahmud.Tanpa basa basi langsung menyuruh Mahmud untuk duduk bersila.

Entah apa yang dilakukan Samsul terhadap Mahmud, yang kulihat tangan Samsul seolah seperti menangkap dan memotong dilantai.

Kali ini dari penjelasan Samsul terkuak ada berapa dan siapa saja yang merasuki tubuh Mahmud. Dirinya membeberkan bahwasanya sesosok Buto Ijo berada didalam tubuh Mahmud, dan Gurita bertugas untuk mencabut nyawa Mahmud melalui lidah.


Menurut penuturan Samsul, Mahmud akan dibuat lemah jiwa dan raganya, disaat sudah tak berdaya maka Gurita akan mudah mencabut Sukma dan membawanya pergi jauh. aku sendiri hanya terpaku mendengar penjelasan Samsul, jika secara logika tidak masuk akal sehatku penjelasan Samsul.

Rupanya usai Samsul mengobati Mahmud, dirinya menyampaikan bahwasanya untuk mengobati Mahmud akan dilanjutkan dirumahnya nanti, oleh sebab itu dirinya meminta foto Mahmud. Kami sekeluargapun mengiyakan jika memang demi kesembuhan Mahmud.

Jujur kami sekeluarga tidak menyadari ucapan Samsul setelah mengobati Mahmud. Rupanya tepat pukul 12 malam, kejadian aneh terjadi, kami sekeluarga mendengar suara dentuman keras seakan menghantam atap rumah.

Namun Mamaku menyarankan bahwasanya, jangan hiraukan suara itu, “Jangan keluar, besok aja liatnya,” jawab Mamaku singkat sambil menggenggam Alquran, mengaji tidak putus-putusnya berada di samping Mahmud.

Tidak terasa mentari pagi menyinari sinarnya, aku terbangun setelah tidur beberapa jam saja. Kini kembali kuingat akan bunyi dentuman keras jam 12 malam tadi. Ternyata saat aku memeriksa kondisi diatas, tidak ada satupun genteng yang jebol. Kami sekeluarga hanya bisa menduga bahwasanya apakah ada perlawanan dari campur tangan Samsul mengobati Mahmud malam tadi. Allahualam.

Alhamdulilah selama dua minggu kurang, Mahmud di obati oleh Samsul, kejadian Gurita yang setiap menit selalu ingin menarik lidah Mahmud tidak menyerang lagi. Kini apa yang disampaikan oleh Samsul kepada keluargaku, agar kiranya Mahmud diberi Vitamin dan makanan yang membuat dirinya pulih lagi. Sebab menurutnya Phobia masih belum bisa dilupakan oleh Mahmud setelah sembuh nanti.

Ternyata lebih dari satu bulan kondisi Mahmud sudah kembali pulih, tidak lupa kami sekeluarga bertandang kerumah Samsul untuk bersilaturahmi sekaligus untuk mengucapkan terimakasih dan berpamitan atas kesembuhan Mahmud, Aku dan Mahmud berniat untuk tinggal dan menetap di Lampung. Sekaligus untuk menghilangkan ingatan atas kejadian yang menjadi pengalaman mengerikan dikeluargaku ini.

Ternyata setelah kami menetap di Lampung, tersiar kabar bahwasanya dua anak buah Boss Mahmud ditempatnya bekerja dulu, tewas terlindas Truk Tronton di daerah Tanjung Priuk, Jakarta Utara. Saat mereka berboncengan menggunakan sepeda motor. Allahualam. (AR)

Misteri

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan