Kakon Madaraya Diduga Serobot Tanah Warga

Foto: Saefudin

PRINGSEWU – Kepala Pekon Madaraya, Kecamatan Pagelaran Utara, Kabupaten Pringsewu, As’ari di duga serobot tanah warga dalam melakukan pembangunan drainase Dusun Kelahang, Pekon setempat.

Pasalnya, dugaan penyerobotan tanah tersebut sampai lebar 1 Meter dengan panjang tanah yang terkena dampak hingga 40 Meter yang dimiliki Sumarna warga dusun Kelahang.

Polemik penyerobotan lahan tanah digunakan untuk kegiatan pembangunan infrastruktur yang menggunakan anggaran Dana Desa Tahap I tahun 2019 diduga tidak ada musyawarah dengan pemilik lahan tanah yang kini sudah berbentuk drainase.

Hal ini diungkapkan oleh Sumarna warga Dusun Kelahang ini merasa diperlakukan tidak adil, dimana adanya pembangunan Drainase tersebut hanya lahan bagian sebelah kiri saja yang terdampak untuk pelebaran jalan.

“Adanya pembangunan drainase beriringan dengan pelebaran badan jalan, disinilah pokok persoalannya, dimana idealnya yang terkena pelebaran bagian kiri dan kanan, akan tetapi hanya bagian kiri saja, sedangkan sisi kanan jalan tidak terkena pelebaran jalan”ujar Sumarna kepada wartawan media ini, Rabu, (21/08).

Baca Juga:  Aparatur Pekon Pringsewu Dibekali Sistem Keuangan Desa

Lebih lanjut Sumarna, bahwa surat persetujuan dari warga diminta oleh aparatur pekon setelah kegiatan pembangunan itu selesai.

“Memang sebelumnya secara lisan kepala dusun sempat ijin, namun tidak ada musyawarah ditambah lagi meminta tanda tangan persetujuan dari warga itu setelah drainase selesai dibuat”, terangnya.

Kegiatan pembangunan tersebut juga disinyalir mencaplok lahan warga tanpa melalui proses musyawarah serta tanpa persetujuan pemilik lahan yang dilalui pembangunan drainase sepanjang 450 M dengan anggaran Rp.194.297.000,-.

Sama halnya seperti yang diungkapkan Mahfuddin warga Pekon Madaraya tempat drainase tersebut dibangun. Rabu (21/8).

“Saya memang menandatangani surat persetujuan tersebut, akan tetapi, saya sempat komplain (Protes) kenapa pengajuan (keliling) meminta tanda tangannya dari warga setelah kegiatan tersebut sudah berjalan”, ungkapnya.

Masih kata Mahfuddin, Menurut kadus setempat dikarenakan masih sibuk. Selain itu juga, terlebih lagi ada bagian lahan miliknya sepanjang setengah meter dikalikan 100 meter yang terkena dampak pelebaran jalan tanpa seijin dirinya.

Baca Juga:  Gazebo Kesusu

“meskipun akhirnya saya tandatangani berkas yang diajukan mereka (aparat Pekon),” ucap Mahfudin.

Terkait persoalan penyerobotan lahan tersebut, Wartawan media ini, mendapatkan keterangan berbeda dari Eks Kepala Dusun Kelahang, menurut Mad Sali, dirinya membantah bahwa pembangunan drainase tidak sampai menyerobot lahan milik warga.

“Pembangunan drainase itu sudah sesuai dengan batas jalan, jadi tidak ada pelebaran, lahan dikiri dan kanan jalan tersebut kan kebun, siring yang ada sudah lama tertutup tanah, jadi yang dibangun itu siring yang sudah tertimbun tanah,” Kilahnya.

Namun saat disinggung soal sistem upah terhadap pekerja Mad Sali mengakui jika pekerjaan tersebut dikerjakan dengan sistem borongan.

“Sesuai dengan kesepakatan dengan warga yang akan mengerjakan, untuk upah galian sebesar 20 ribu/meter sedangkan pemasangan batunya 35 ribu/meter,” tukasnya.

Baca Juga:  VRI Apresiasi Pramuka Peduli Pringsewu

Dugaan lainnya, Iyalah, Adanya sistem penyerapan tenagga lokal atau masyarakat setempat. Anehnya, Kepala Pekon Madaraya dalam tiap item pembangunan fisik diduga kuat menggunakan sistem borongan.

Kepala Pekon Madaraya As’ari saat dikonfirmasi melalui sambungan selulernya, mengatakan kepada media ini, bahwa tidak benar jika dalam pembangunan drainase tersebut menyerobot lahan milik warganya.

“Tidak benar itu, yang kita bangun itu jalan yang dulu dibuat oleh TNMD, orang yang buat juga masih hidup, kalau mau protes sama TNMD, saat pembangunan jangankan batangnya duanya pun ga ada yang jatuh”, tepisnya.

Terkait persoalan tersebut, Sambung As’ari artinya tidak ada lahan yang diserobot apalagi tenaga Pekerjaan itu diborongkan.

“Soal kerja borongan juga tidak benar, masa kerja borongan 4 bulan baru selesai. Yang jelas kegiatan tersebut sudah sesuai dengan Juklak dan Juknis, tidak bisa sembaranganlah dalam membangun desa,” Pungkasnya. (DN/Bes)

Pekon Madaraya Pringsewu

Posting Terkait