KAMMI Bandarlampung Sesalkan Bentrok Polisi dan Massa Pendemo di Jakarta

 

Bentrok Polisi dan Massa Unjuk Rasa (ilustrasi-ist)

Jakarta – Penyerangan kepada masa aksi 22 Mei oleh pihak kepolisian tidak seharusnya dilakukan oleh pihak kepolisian, terlebih dengan menggunakan cara yang represif. Karena dengan dalih apapun tindakan tersebut tidak dibenarkan, meskipun dengan tujuan untuk menindak oknum yang berbuat kekerasan dan kerusuhan.

Dalam menjalankan tugas pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, aparat kepolisian harus berlandaskan pada aturan yang berlaku dan penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia. Kepolisian Republik Indonesia mempunyai Peraturan Kapolri Nomor 8/2009 tentang Pedoman Implementasi Hak Asasi Manusia. Semestinya jika aparat kepolisian berpedoman terhadap peraturan tersebut, maka tindakan-tindakan represif seperti yang terjadi sepanjang aksi 22 Mei dan mengejar masa aksi sampai ke petamburan seharusnya tidak dilakukan.

Baca Juga:  Mahasiwa Labrak Kantor KPU

Bahwa tindakan represif kepolisian mengakibatkan korban luka luka 200 dalam tindakan represif oleh kepolisian dan penyerangan menggunakan peluru tajam sampai menembakan gas air mata ke dalam salah satu masjid di Tanah Abang, padahal masjid adalah tempat ibadah yang seharusnya pihak kepolisian tidak melakukan tekanan terhadap masa aksi sampai dengan penambakan gas air mata disalah satu masjid di Tanah Abang, tindakan tersebut juga menyebabkan 6 orang meninggal dunia dan salah satunya yang bernama Abdul Aziz (27) warga Pandeglang.

Baca Juga:  Mahasiwa Labrak Kantor KPU

Dengan demikian, tindakan kepolisian tersebut tidak dibenarkan dan mengancam hak menyuarakan pendapat masyarakat. Semestinya pihak kepolisian dalam melakukan tindakan pengamanan tidak melakukan cara-cara yang dapat melukai rakyat bahkan sampai dengan menelan korban jiwa Karena dengan menggunakan cara yang reprensif, maka kepolisian juga melakukan pelanggaran hukum, yakni kekerasan dan penghilangan nyawa. Dengan demikian tidak ada bedanya antara sikap dan tingkah laku kepolisian yang bertugas mengamankan dengan menembaki masa aksi dengan peluru tajam.

Kepolisian seharusnya menggunakan cara-cara yang lain dalam melakukan pendekatan terhadap masa aksi agar tidak terjadinya bentrokan. Karena aksi represif dari pihak kepolisian tidak akan membuat berubah dan surut aksi masyarakat yang ingin menyuarakan keadilan.

Baca Juga:  Mahasiwa Labrak Kantor KPU

Dengan demikian, KAMMI Bandar Lampung menyarankan agar kepolisian lebih mengedepankan cara-cara dialogis untuk melakukan pendekatan kepada masa aksi, sehingga kejadian-kejadian bentrokan dan hilangnya nyawa seperti yang sudah terjadi tidak terulang lagi. Serta aparat kepolisian sebagai aparat penegak hukum dan pengayom masyarakat, harus bisa memberikan contoh untuk tidak melakukan pelanggaran hukum dan tindak kekerasan sampai dengan penghilangan nyawa. (Rilis)

 

Bandar Lampung, 22 Mei 2019

Pengurus Daerah KAMMI Bandar Lampung

 

*Habibbulloh Al. A*

Kabid.Humas PD KAMMI Bandar Lampung

KAMMI Kammi Bandarlampung

Posting Terkait