Karakter Bangsa

Oleh Riko Firmansyah

 

PEMERINTAH tengah disibukan dengan merubah karakter bangsa. Terutama bagi para pejabat terkait revolusi mental demi bertransformasi menjadi pelayan rakyat bukan dilayani.

“Bukankah sudah terlambat bagi mereka yang sudah berumur begitu diubah karakternya?” tanya Minak Tab.

“Memang sudah terlambat, tapi harus bagaimana lagi?” jawab Saleh.

Karena demi menjadi sosok pelayan yang profesional untuk bangsa dan negara perlu mendapat pendidikan dan pengawasan intensif dari berbagai pihak. Hal itu menjadi tanggung jawab bersama.

“Salahnya itu! Hanya dengan pendidikan tidak akan mampu merubah karakter seseorang. Harus melibatkan keluarga, agama, adat, budaya, dan lingkungan sosial,” ujar Minak Tab.

Baca Juga:  NGUPI PAI - Membincang Makna Mudik

Namun, perubahan perilaku tersebut hanya akan berhasil bila diterapkan pada anak sejak dini. Meskipun tidak sepenuhnya berubah. Paling tidak mereka tahu apa arti disiplin dan efek jera bila melakukan kesalahan.

“Misalnya, kita melarang anak-anak untuk jangan lari. Eh malah tambah ngebut larinya dan akhirnya jatuh. Sudah begitu tidak pula jera, meski tahu bahwa akan sakit bila terjatuh,” jelas Minak Tab.

Susahnya mengajarkan hal-hal sepele seperti itu dialami oleh semua keluarga dan lingkungan sosial. Jangan membuang sampah sembarangan, misalnya.

Baca Juga:  Arinal Mencari Dalil

“Sekarang perubahan tersebut akan diterapkan pada orang dewasa. Apa iya bisa?” tanya Minak Tab.

“Jangan pesimis begitu. Paling tidak bila lingkungannya memiliki etos kerja tinggi yang malas akan ikut berdisiplin. Meskipun hanya pura-pura. Paling tidak mengarah pada perubahan,” terang Saleh.

“Itu yang disebut pekerjaan mubazir. Sampai kapan bisa bertahan dan siapa yang mampu menjaga serta mengawasinya. Karena berbagai aturan sudah dikeluarkan, tapi selalu ada pejabat korup dan minta dilayani,” ungkap Minak Tab.

Baca Juga:  Buaian Politikus

“Jadi bagaimana dong?” tanya Saleh, dengan gusar.

“Biarkan saja mereka melakukan kesalahan dan melanggar aturan. Toh ada sanksi untuk itu. Tinggal mampu apa tidak para penegak hukum memberi efek jera. Biarkan alam yang menyeleksi mereka,” jelas Minak Tab.

“Bagaimana dengan misi merubah karakter bangsa tadi,” tanya Saleh.

“Yang penting bukan bangsanya, tapi pemimpinnya. Bila bagus, maka rakyat akan turut. Bila tidak? Maka akan terus begitu,” cetus  Minak Tab. []

 

1,141 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Karakter bangsa Ngupi Pai

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan