Kartini

Iwan Nurdin (IST)

Oleh Iwan Nurdin
Peminat kajian sosial politik dan pembangunan; Ketua Dewan Nasional Konsorsium Pembaruan Agraria

 

“PANGGIL aku Kartini saja, itulah namaku” (surat 25 Mei 1899), kalimat ini, oleh Pram kemudian menjadi judul buku biografi bagi sang pahlawan.

Perempuan yang namanya paling harum dan terkenal di seantero negeri Indonesia ini. Pramoedya A. Toer sebagai penulis mengungkapkan, bahwa Kartini tidak mau dipanggil memakai embel-embel Raden Ajeng.

Memang, feodalisme adalah penghambat kemajuan dan berteman akrab dengan kolonialisme.

Mungkin saja pikiran ini yang bersemayam dalam jiwa Kartini.

Kartini digambarkan sebagai sosok berwajah setengah jelata setengah priayi. Meski anak bupati, sebuah level priayi nan elit, ia lahir dari garis ibu jelata.

Ia digambarkan mempunyai sisi kelembutan sebagai pembungkus tekadnya yang besar sekaligus kerasnya prinsip yang dimiliki karena ingin memajukan bangsa dan kaumnya.

Baca Juga:  Peringati Hari Kartini TK dan Paud Kunjungi Wisata Tubabar

Oh ya, wajah Kartini yang banyak beredar sekarang sesungguhnya tak mirip dengan paras asli beliau. Gambar yang beredar sekarang dibuat lebih cantik menurut selera zaman sekarang.

Apalagi jika dibandingkan dengan pemeran filmnya. Tapi, percayalah bukan karena hal semacam itu Kartini kita kenang.

Salah satu ziarah kita kepada Kartini adalah buah penanya.

Tulisannya via korespondensi mampu menyusup ke berbagai kalangan dan hebatnya menginspirasi.

Bahkan kabarnya, karena korespondensi inilah, ide tentang penerjemahan Alquran mulai dilakukan. Agar para pembaca Quran memahaminya dalam bahasa lokal.

Buah pemikiran yang sangat modern di zamannya.

Selain pengagum tentu ada yang mengkritisi. Banyak yang banyak membandingkan Kartini dengan Rohana Kudus di Sumbar, Dewi Sartika di Jabar atau para pahlawan perempuan lainnya.

Baca Juga:  Kartini Masa Kini

Menurut mereka lebih layak disebut tokoh dan pahlawan emansipasi perempuan.

Kawan semua, Kartini bukan hanya emansipasi. Juga pahlawan perempuan yang lain. Mereka adalah penulis awal ide-ide kebangsaan dan kemanusian kita dan mempraktikkannya.

Mereka semua, adalah pemimpi yang menjadikan mimpinya kata kerja.

Membincangkan Kartini, saya jadi mengingat Prof Sediono MP Tjondronegoro, salah satu keponakan Kartini yang menjadi Guru Besar IPB  dan Dewan Pakar KPA.

Tjondronegoro inilah yang mengalirkan semangat belajar bagi keluarga besar mereka termasuk Kartini.

Dalam biografi yang lain, yang dituliskan saudara perempuan Kartini, dituliskan lebih jauh tentang peran Tjondronegoro dalam membentuk Kartini.

Saya kadang bertanya-tanya, kita akan membentuk apa melalui sosok Kartini?

Pertanyaan ini diajukan kembali, sebab tahun ini, seperti tahun-tahun yang lampau, anak-anak sekolah mengenang Kartini dengan memakai pakaian daerah.

Baca Juga:  Peringati Hari Kartini TK dan Paud Kunjungi Wisata Tubabar

Tahun ini anak saya dipakaikan adat Melayu oleh ibunya. Itupun dengan versi sederhana. Baju koko dan sarung.

Sebelumnya pernah Betawi, pernah Madura. Alasannya sederhana saja, gampang dan tidak sulit  dikenakan. Pakaian masyarakat adat bagi laki-laki yang simple, ala Sakerah Madura atau Si Pitung Betawi.

Loh, ayahnya kan Lampung dan Ibunya Bugis?

Oh, ini soal hari Kartini saja, kok. Kartini yang dianggap oleh negara tokoh yang bisa mempopulerkan kebaya dan konde.

Bukan hal yang menggembirakan, pada usia dua puluh tahun reformasi, Kartini masih dikenang dengan menyederhanakannya sebagai hari lebaran berpakaian daerah.

Kita hendak membentuk apa melalui Kartini? []

841 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Kartini

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan