KBM Ditengah Pandemi Butuh Penyesuaian

Sulpakar, Kepala Dinas Pendidikan Lampung. (Foto Josua)

BANDARLAMPUNG — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung melakukan kajian terkait skema pembelajaran tatap muka di sekolah ketika new normal diterapkan.

Kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan tatap muka dalam ruang kelas akan menerapkan protokol kesehatan Covid-19.

Jarak duduk antarsiswa diatur untuk menerapkan physical distancing, hal ini dipastikan akan berdampak pada ketersediaan ruangan. Bagi unit sekolah baru yang siswanya masih sedikit tetapi ruangannya banyak, tentu tidak masalah.

Namun bagi sekolah yang sudah berjalan dengan kapasitas murid yang padat, pada saat normal ruangannya cukup, tetapi dengan berlakunya protokol kesehatan ini, sudah dipastikan tidak cukup.

“Ini akan kami bahas pada hari Rabu bersama ibu Wagub Chusnunia Chalim, apakah kita melakukan pola pembelajaran pembatasan waktu atau shift, satu hari melakukan dua shift, artinya pagi dan sore sekolah. Atau kita melakukan hari ini kelas 1 masuk sekolah, kelas 2 dan 3 melakukan daring, besok kelas 2 sekolah, kelas 1 dan 3 daring, besok kelas 3 sekolah, 1 dan 2 daring,” kata Kepala Disdikbud Lampung Sulpakar, Kamis (28/5).

“Kita akan bahas pola apa yang tepat, shift atau daring,” lanjutnya.

Salah satu pengamat pendidikan di Lampung, Prof DR Karwono, berpendapat pembelajaran di masa new normal harus dilakukan dengan blended learning artinya menggabungkan pembelajaran antara tatap muka dengan virtual atau daring (dalam jaringan).

“Belajar tatap mukanya tidak full, satu hari dibagi dua shift. Sekarang metodenya yang dimainkan, tatap muka hanya memberi penjelasan sementara sisanya belajar dari rumah.
Mestinya itu yang dimainkan oleh guru,” ujar Karwono saat dihubungi, Jumat (29/5).

Pembelajaran di new normal tidak semudah membalik telapak tangan, karena siswa setelah belajar dari rumah akan langsung belajar secara tatap muka dengan harus mengikuti protokol kesehatan Covid-19.

Baca Juga:  Sulpakar Sebut PPDB Akuntabel

“Kalau buat guru tidak ada masalah. Kemarin belajar dari rumah secara virtual kan tidak masalah,” katanya.

Rektor Universitas Muhammadiyah Metro 2014-2019 ini meminta Disdikbud tidak kaku dalam melaksanakan KBM dan menjalin kerja sama dengan orang tua siswa untuk pembelajaran daring.

“Kurikulum sudah ditarget, memang itu target, kemudian kondisi tidak bisa diubah, sekarang yang dimainkan metodenya atau caranya. Guru harusnya kreatif dan sudah punya konsep, dalam kondisi apapun bisa dilakukan,” ujarnya.

“Tatap muka hanya untuk aspek-aspek pencapaian ranah mana, sisanya belajar di rumah,” tutup dia.

Pembelajaran Era New Normal Butuh Adaptasi dan Transisi

Pada Rabu (27/5), Wali Kota Bandarlampung Herman HN mengeluarkan Surat Edaran Nomor 420/642/III.01/2020 tentang Perpanjangan Antisipasi Penyebaran Virus Corona (Covid-19) di Lingkungan Sekolah di Kota Bandarlampung.

Herman HN mengimbau satuan pendidikan, baik swasta maupun negeri, bimbingan belajar, dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) tetap melaksanakan kegiatan belajar dari rumah.

Pembelajaran dari rumah secara daring berlangsung sampai terbitnya petunjuk pelaksana yang disesuaikan dengan aturan new normal oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 nasional.

Ketua Himpunan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) Provinsi Lampung, Citra Persada, menilai Bandarlampung yang berstatus zona merah belum waktunya menerapkan new normal di sekolah.

“New normal itukan mengubah prilaku, prilaku hidup sehat, jaga jarak. Yang namanya prilaku itu lebih berat, anak-anak memang gak dekat-dekatan sama teman-temannya, tapi dorong-dorongan, peluk-pelukan atau ngobrol, siapa yang mengawasi itu. Oke infrastruktur bisa cepat, pemerintah jamin semua ada, sabun, masker, handsanitizer, tapi prilaku itu butuh waktu,” kata Citra, Jumat (29/5), kepada Fajar Sumatera.

Baca Juga:  Sulpakar Jelaskan Mekanisme Asesmen Kompetensi Jenjang Pendidikan

Dia merasa khawatir ketika new normal diterapkan di sekolah, sementara angka pasien yang terinfeksi Covid-19 semakin bertambah, dan minimnya infrastruktur kesehatan.

Apalagi masyarakat belum siap secara budaya, belum cukup disiplin, dan belum memiliki kesadaran.

“Kata kuncinya, kita perlu masa transisi untuk beradaptasi dulu. Di masa adaptasi itulah sebenarnya kita perlu berbenah pelan-pelan. Pembatasan jam belajar dengan shift-shiftan itu siapa yang bisa menjamin,” ujarnya.

Pembelajaran di masa new normal, lanjut dia, tidak terlalu mendesak untuk diterapkan ditambah lagi dengan kekhawatiran orang tua siswa.

“Kalau untuk PAUD justru ini kesempatan untuk membangun ikatan emosional yang lebih kuat antara anak dan orang tua. Orang tua gak siap jadi guru itu gak bisa, orang tua itu pendidik utama, jadi harus bisa,” tegasnya.

“Pemerintah harusnya bijak melihat ini, ngapain sih harus buru-buru ke sekolah. Urusan karakter tanggung jawab utama orang tua bukan di guru. Kalau urusan substansi akademik, itu nanti guru di sekolah. Kenapa dipaksakan, karena target akademis kan, nilai. Kuatnya suatu negara itu berawal dari keluarga yang kuat,” pungkasnya.

KPAI Keluarkan Rekomendasi untuk Pembelajaran di Era New Normal

Fasilitator Kabupaten Layak Anak Provinsi Lampung, Tony Fisher, mendukung penerapan new normal di dunia pendidikan dengan tetap berpedoman pada protokol kesehatan.

“Kami sebagai pemerhati anak, fasilitator PATBM (Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat) maupun Kabupaten Layak Anak dalam penanganan ini juga masuk di klaster lima, ada 9 rekomendasi yang kami sarankan kepada pemerintah daerah maupun pusat nantinya,” kata Tony saat ditemui di kediamannya di Kemiling, Jumat (29/5) siang.

Baca Juga:  Disdik Lampung Berlakukan PPDB Berbasis Zonasi

Sembilan rekomendasi KPAI kepada pemerintah daerah di antaranya :

1. Fasilitas cuci tangan yang lebih banyak dari yang sudah ada sehingga anak-anak ketika cuci tangan tidak berebut.

2. Ada jam belajar yang singkat, kemudian jam istirahat juga ditiadakan, sehingga tidak terjadi pengumpulan anak-anak.

3. Jam masuk dan jam pulang sekolah dibedakan menghindari penumpukan anak-anak di gerbang sekolah pada saat diantar jemput.

4. Tidak semua kelas berbarengan jam masuk sekolahnya.

5. Ada peran guru dan orang tua secara langsung dalam proses sekolah.
Peran guru dan orang tua harus terjalin kerja sama, saling menjaga dan membantu dewan guru untuk menjaga anak.

6. Pemerintah harus memastikan tersedianya anggaran pembelajaran dengan sistem daring untuk fasilitas kuota internet, terutama bagi guru dan orang tua siswa.

7. Memastikan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran sistem daring. Seperti kurikulum atau modul. Termasuk interaksi guru dan siswa dengan mendatangi langsung rumah siswa.

8. New normal di dunia pendidikan tidak hanya tanggung jawab Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Disdikbud di kabupaten/kota.

Melibatkan lembaga atau dinas lainnya termasuk LSM, Kementerian Kesehatan dengan program Usaha Kesehatan Sekolah.

Aparat TNI/Polri untuk keamanan siswa dalam kondisi sekolah yang sepi, termasuk juga penjagaan disiplin physical distancingnya.

Kemudian Kementerian PU untuk penyediaan sarana tempat air cuci tangan dan ketersediaan tenaga psikolog di sekolah melalui perguruan tinggi yang ada di Lampung.

“Dan yang terakhir melibatkan aktivis PATBM lewat Program Berjarak (Bersama Jaga Keluarga Kita) yang telah dilaunching Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dan penerbitan panduan untuk bergabung dengan sekolah dan orang tua siswa,” ujarnya. (JOSUA)

Dinas Pendidikan Lampung KBM Ditengah Pandemi Sulpakar

Posting Terkait