Kembali ke Masjid

Oleh: Ade Utami Ibnu

Ketua Fraksi PKS DPRD Lampung
Semangat kaum muslimin untuk beribadah selama Ramadan sungguh menggembirakan. Kedatangan bulan mulia ini membuat segenap kaum muslimin meningkatkan porsi ibadahnya. Dari mulai ibadah wajib puasa, salat tarawih, salat duha, tadarus Alquran, iktikaf, hingga menunaikan zakat fitrah.

Masjid menjadi ramai, terlebih pada hari-hari awal Ramadan. Memang sudah menjadi kelaziman, begitu memasuki pertengahan, jamaah yang ke masjid menjadi berkurang. Penulis tidak hendak menjelaskan kenapa fenomena itu terjadi. Yang menjadi mennarik dalam pemikiran penulis adalah bagaimana kita menjaga konsistensi ibadah di masjid ini menjadi keseharian pasca-Ramadan.

Kita tentu ingin, masjid menjadi sentral kegiatan umat. Tidak melulu berkenaan dengan ibadah khusus, namun juga melebar pada fungsi masjid sebagai dimensi sosial. Ini menjadi penting karena dengan begitulah kecintaan kita terhadap masjid ditumbuhkan.

Penulis melihat, anak-anak yang pada awal Ramadan rajin ke masjid dan melaksanakan tarawih adalah sumber daya manusia yang tidak boleh disia-siakan. Kita mesti menjadikan momentum ini untuk mendekatkan anak-anak dengan masjid.

Kecintaan mereka terhadap ibadah dan masjid sebagai tempat ritual ibadah mesti ditingkatkan. Peran orangtua, pengurus masjid, dan organisasi Remaja Islam Masjid, dalam konteks ini menjadi penting.
Kenapa kemudian penulis lebih menyoroti anak-anak muda ini.

Pasalnya, inilah generasi emas yang sudah selayaknya diperhatikan oleh kita yang peduli dengan edukasi keislaman terhadap mereka. Generasi ini, jika tidak disentuh dengan edukasi keislaman, akan tumbuh secara bebas tanpa nilai yang mereka anut. Kita tentu tidak menginginkan hal itu terjadi.

Maka itu, momentum Ramadan adalah saat terbaik untuk mengenalkan kepada mereka semangat beragama dan cinta dengan masjid. Dalam hal yang praksis, peran takmir masjid dan pengurus Risma setempat menjadi urgen. Jangan sampai semangat ini menjadi tidak dipelihara selepas Ramadan.

Para anggota Risma dan takmir harus mengarahkan anak-anak ini agar tertib selama berada di masjid. Sudah menjadi hal yang lumrah, anak-anak banyak yang bermain saat salat tarawih. Beberapa di antara mereka mungkin berteriak-teriak karena merasa senang berada di masjid bersama kawan-kawannya.

Kadangkala, hal ini membuat jamaah lain menjadi jengah dan terganggu kemudian melapor kepada pengurus. Yang kemudian terjadi adalah anak-anak dilarang masuk ke masjid jika hanya ingin bermain. Di satu sisi ini adalah hal yang baik untuk memberikan pendidikan kepada mereka bahwa masjid harus dimuliakan.

Namun, di sisi lain, kita jangan sampai melarang anak-anak untuk datang ke masjid. Jika itu dilakukan, sama halnya dengan mereduksi semangat mereka dalam beribadah. Yang mesti dilakukan hanyalah mengatur dan mengarahkan.

Tentu kerja semacam ini tidak mudah. Untuk itulah, pengurus masjid dan Risma harus mempunyai mekanisme yang cerdas juga menyenangkan kepada mereka. Anak-anak tentu belum banyak memahami adab-adab di masjid. Mereka juga mungkin belum memahami bentuk-bentuk ibadah lain. Maka itu, sudah selayaknya mereka diberikan pemahaman yang komprehensif.

Dalam bayangan penulis, anak-anak tadi diarahkan dalam saf khusus. Sebelum salat, mereka dinasihati agar tertib. Dalam sebuah hadis disebutkan: Agama itu nasihat, agama itu nasihat, agama itu nasihat.

Remaja dan orang dewasa saja membutuhkan nasihat berkali-kali agar mereka semangat beribadah di kala Ramadan. Apatah lagi anak-anak yang relung pikirannya masih banyak dipenuhi dengan sesuatu yang merujuk kepada permainan.

Karena itu, yang mesti dilakukan adalah memberikan nasihat kepada mereka. Tak boleh bosan memberikan masukan kepada anak-anak. Insya Allah, jika 30 hari penuh selama mereka di masjid kemudian mendapatkan nasihat, insya Allah ada perubahan.

Memang butuh kesabaran luar biasa dalam hal ini. Tak mungkin dengan satu-dua kali nasihat mereka akan tertib. Mungkin butuh nasihat berkali-kali. Asal dilakukan dengan bijak dan mengarahkan secara baik, anak-anak akan berangsur-angsur mengerti bahwa mereka harus menaati adab ketika berada di dalam masjid.

Kegiatan anak-anak selama Ramadan juga mesti diarahkan. Usai sahur, biasanya anak-anak banyak yang keluyuran dengan alasan maraton. Padahal mungkin sebagian di antara mereka belum salat subuh. Dari sinilah edukasi kepada mereka dimulai.Mereka mesti diarahkan untuk salat subuh berjamaah di masjid.

Anak-anak mesti diarahkan untuk tertib salat berjamaah di masjid. Usai subuhan, pengurus masjid dan Risma bisa memberikan pengajian pagi kepada mereka. Misal dengan meminta mereka menghafal doa-doa pendek atau doa-doa dalam salat.
Usai subuh, mereka bisa diarahkan juga untuk tadarus.

Di kesempatan ini, kita bisa mengetahui sejauh mana pemahaman mereka tentang bacaan Alquran. Mungkin saja ada di antara mereka yang belum mengetahui secara baik huruf Alquran, apalagi mengajinya.
Dengan begitu, kedekatan pengurus dan Risma kepada anak-anak sudah dimulai sejak dini.

Keterikatan dengan mereka wajib dibangun. Aktifkan kembali Taman Pendidikan Alquran di setiap masjid dan musala. Pengurus dan Risma juga mesti memberikan edukasi yang menyenangkan kepada anak-anak. Berikanlah permainan yang edukatif.Permainan yang tidak mencabut akar mereka sebagai kanak-kanak, tapi tetap sarat dengan edukasi.

Selain salat wajib di masjid, momentum yang bisa digunakan untuk mengajarkan anak-anak cinta kepada Ramadan, kepada masjid, kepada Alquran adalah dengan memanfaatkan waktu menunggu buka puasa. Pengurus dan Risma bisa saja mengagendakan buka puasa bersama dengan anak-anak. Sambil menunggu, dibacakan cerita tentang sahabat Nabi atau kisah para Nabi dan Rasul.

Tanamkan kecintaan mereka terhadap hal itu. Momentum berbuka puasa barengdi masjid juga untuk menjaga kontinuitas salat mereka di rumah Allah. Dengan berbuka di masjid, kemungkinan besar mereka akan menjalankan salat magrib secara berjamaah.

Asal daya tarik yang dikreasikan takmir dan Risma bagus, insya Allah anak-anak akan suka. Mungkin juga bisa diselingi dengan pemutaran film-film islami yang kini banyak bisa kita dapatkan di internet atau dalam bentuk kepingan film.

Menjadikan Ramadan momentum kembali ke masjid, wabilkhusus untuk anak-anak memang butuh perhatian dan kerja sama banyak pihak. Momentum Ramadan hanya datang satu kali dalam setahun. Dan itu sesuatu yang istimewa. Memang paling bagus, jauh sebelum bulan puasa ini datang, takmir dan Risma sudah menyusun program yang terarah.

Buat saja alat ukurnya yang paling sederhana dan paling realistis. Sekecil apa pun program, asal ia sudah direncanakan dan dibicarakan banyak pihak, serta disosialisasikan kepada orangtua, insya Allah punya hasil.

Nanti, selepas Ramadan, edukasi kepada anak-anak ini jangan dihentikan. Sayang jika selepas Ramadan tidak ada tindak lanjut kepada mereka. Kita jadikan momentum Ramadan sebagai pemicu kecintaan mereka terhadap Islam, terhadap masjid, terhadap orangtua.

Setidaknya, dengan keaktifan yang bagus selama Ramadan, kans untuk mendidik mereka pada Taman Pendidikan Alquran di 11 bulan berikutnya cukup besar. Pendeknya, kemampuan kita menjadikan masjid sebagai sentral ini amat ditentukan sejauh mana kita berhasil menjadikan Ramadan bulan pendidikan kepada anak-anak. Wallahualam bissawab.

Posting Terkait