Kenapa AJI Mendukung Polisi Usut Dugaan Pemerasan Oleh Oknum Wartawan di Way Kanan?

Sumber foto Facebook AJI Bandar Lampung.

Bandar Lampung – Aliansi Jurnalis Independen [AJI] Bandar Lampung mengecam peristiwa dugaan tindak pidana pemerasan yang diduga dilakukan empat orang oknum wartawan di Way Kanan. Keempat orang tersebut kini telah menjadi tersangka pasca diamankan di SMKN 1 Banjit, karena diduga hendak memeras di sekolah tersebut.

Dari peristiwa itu, polisi menyita sejumlah uang senilai Rp 10 juta, handphone, dan tiga buah kartu pers. Kini keempat tersangka ini, telah mendekam di sel Rutan Polres Way Kanan. [Baca kronologis awal di sini]

“Pertama kita mengecam dugaan pemerasan itu. Karena itu tidak semestinya dilakukan oleh jurnalis. Karena jurnalis itu pekerjaannya itu mencari informasi dan mencari berita, bukan memeras. Jadi kalau misalnya di lapangan jurnalis menemukan kekeliruan, ya diberitakan saja. Bukan dia menggunakan kekeliruan itu sebagai posisi dia itu untuk bargaining, memperkaya diri, tidak seperti itu. Justru orang-orang begini makin merusak profesi jurnalis, makanya kita minta polisi ya usut aja secara tuntas,” ucap Ketua AJI Bandar Lampung Hendry Sihaloho kepada reporter Fajar Sumatera, Kamis, 17 September 2020.

Baca Juga:  Ketua PWI Lampung Apresiasi Gubernur Ridho

Kecaman AJI Bandar Lampung di awal tadi disertai dengan dorongan dan dukungan kepada pihak kepolisian, agar dugaan tindak pidana itu ditindaklanjuti dengan melakukan penegakan hukum.

“Jadi mereka-mereka yang mengaku sebagai wartawan tapi kerjaannya memeras, mencari keuntungan, memanfaatkan profesinya untuk mendapatkan keuntungan, ya diproses aja secara hukum. AJI itu minta itu diproses. Tegakkan hukum secara serius. Karena ini berulang-ulang, kasus-kasus begini sudah sering. Dari sebelum saya jadi jurnalis saja, sudah dengar cerita pemerasan begini,” timpal dia.

Hendry Sihaloho menyatakan bahwa peristiwa-peristiwa begitu tidak sepatutnya terjadi dan dilakoni seorang jurnalis. Idealnya, lanjut dia, seorang jurnalis masa kini harus lah memikirkan bagaimana meningkatkan kualitas produk jurnalistik demi kepentingan publik.

“Mestinya kita tidak bicara soal pemerasan. Mestinya kita sudah bicara soal kualitas produk jurnalistik. Bagaimana membuat liputan yang baik. Justru mestinya kita meningkatkan kualitas produk kita. Jadi bukan berkutat dalam masalah pemerasan. Harusnya yang begini sudah clear,” tuturnya.

Baca Juga:  Juniardi: Yang Ditangkap Polres Way Kanan di SMKN 1 Banjit, Tidak Terdaftar di PWI

Ketua AJI Bandar Lampung Hendry Sihaloho [baju putih] di Studio Fajar Surya Televisi. Foto: Akim

Dia menambahkan, sikap AJI sangat jelas pada persoalan-persoalan perilaku menyimpang yang dilakukan seorang jurnalis. Bahkan sekali pun, jurnalis yang menyimpang itu adalah bagian dari organisasi. Bagi AJI, tak ada sedikit pun ruang pembelaan bagi jurnalis yang menyimpang.

“Jadi AJI tidak akan membela sekalipun itu anggota sendiri. Misalnya dia terbukti melanggar etik, plagiat, atau kloning, kita nggak akan membela. Apalagi memeras, tindak pidana. Kita minta polisi usut aja secara serius,” ungkapnya.

AJI bahkan mendorong perusahaan yang merasa keempat orang tadi adalah bagian darinya, agar melakukan pemecatan. Pihak perusahaan baiknya melihat hal-hal semacam itu adalah pelanggaran berat seperti pandangan AJI.

Baca Juga:  AJI Tuntut Kesejahteraan Jurnalis

“Kalau empat orang yang dimaksud jurnalis. Mestinya perusahaan media itu menjatuhkan sanksi. Kalau benar-benar dia jurnalis. Harusnya ada sanksi misalnya memberhentikan secara tidak terhormat. Karena itu pelanggaran serius. Itu pelanggaran berat kategorinya. Ini merusak nama baik wartawan, dan semakin membuat image wartawan memburuk,” harapnya.

”Jadi bagi jurnalis yang lain, itu berat tanggunggjawab moral untuk menjaga nama baik wartawan. Terlebih saya kira image wartawan hari-hari ini kan masih menyisakan keburukan. Nah kita dituntut atau anda dituntut untuk mengikis image itu dengan menjaga nama baik dan mengikis image buruk tadi, itu tanggungjawab moral seorang jurnalis,” tambahnya.

Hendry Sihaloho menyatakan, jurnalis idealnya tidak menjadikan sebuah informasi publik untuk kepentingan pribadi. Jurnalis harusnya mencari informasi kemudian mengemasnya ke dalam produk jurnalistik yang sesuai dengan aturan.

“Jadi jika seorang jurnalis menemukan adanya kekeliruan penggunaan anggaran pada suatu institusi, ya diberitakan saja. Jangan pula ada deal-deal. Dan kalau ada jurnalis yang melanggar, diproses saja secara tegas,” tandasnya.

Reporter: Ricardo Hutabarat

AJI Bandar Lampung Polres Way Kanan PWI Lampung SMKN 1 Banjit Wartawan pemeras

Posting Terkait