Kerasukan Kuda Lumping

Para Pekerja di Perumahan Natar, saat mencari Samsuri

SUARA ketukan pintu sambil mengucapkan salam terdengar jelas berulang-ulang dengan nada yang jelas. Saat itu jam menunjukan pukul 1.30 WIB, tepat malam Jumat.

Dengan langkah cepat, kubukakanlah pintu usai mendengar ucapan salam, nampak tiga orang laki-laki sambil menarik nafas dalam-dalam, memberitahukan bahwasanya salah satu rekannya kerasukan kuda lumping (kuda kepang).

“Mas tolong mas, Samsuri (nama disamarkan) kemasukan kuda lumping,” jelas salah satu pekerja di perumahan dibilangan Natar Lampung Selatan sambil tak beraturan nafasnya dengan raut wajah panik.

Mendengar kabar salah satu pekerja mengalami kerasukan, dengan sedikit keberanian, bergegaslah kami bersama tetangga disebelah rumah berbarengan juga diketuk pintu rumah kita oleh ketiga para pekerja yang paniknya bukan main ini.

“Terus Samsuri nya dimana?,” Tanya kita.

“Disana mas, didekat mushalla,” jawabnya sembari berjalan sama-sama ketempat Samsuri kerasukan.

Dan benar saja, nyali yang awalnya memiliki keberanian tiba-tiba ciut saat melihat Samsuri berjalan setapak demi setapak sambil kedua tangannya melipat diatas kepalanya.

Baca Juga:  Desa Kebagusan Lestarikan Kuda Lumping

“Wah bener kemasukan dia,” lantas kita gimana.

“Kita panggil pak Mat aja,” saut salah satu pekerja sambil mengepalkan sarungnya.

Ternyata, apa yang kita harapkan tak sesuai kenyataan. Perumahan yang belum banyak penghuninya ini tak menggubris ketukan dan salam kami disaat sedang panik. Takut khawatir dikejar oleh Samsuri yang sedang kerasukan Kuda Kepang.

“Kita kemana lagi,” tanyanya lagi.

“Kita ke pondok pesantren aja, kali aja ada yang bisa sembuhkan,” jawab kita.

Tanpa pikir panjang, kami berlima melintasi sawah agar tak bertemu dengan Samsuri. Sambil berjalan setapak demi setapak akhirnya sampailah dipondk pesantren.

“Pak tolong kawan kita, dia lagi kesurupan kuda kepang,” tanya pekerja perumahan usai mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.

Sambil bercerita, Pak Amir yang kita bangunkan bergegas mendatangi Samsuri. Namun Samsuri menghilang entah kemana saat pak Amir mendatangi tempat dimana Samsuri kerasukan.

“Ya sudah, nanti juga baik sendiri,” kata pak Amir perlahan pulang kepondok pesantren lagi.

Rasa khawatir akan Samsuri yang hilang entah kemana, membuat kekhawatiran kami berlima berniat sambil menunggu azan subuh. Sebab menurut kesimpulan kami berlima jika azan subuh berkumandang jin yang merasuki tubuh Samsuri akan keluar.

Baca Juga:  Desa Kebagusan Lestarikan Kuda Lumping

Untuk mengisi waktu sambil menunggu azan subuh, salah satu pekerja menceritakan awal kejadian Samsuri kerasukan.

“Kita tadi abis main catur, ga lama kita mau tidur, karena sudah jam 1.30 pagi. Kita bertiga mendengar suara langkah kaki. Setelah suara langkah kaki berhenti barulah Samsuri mengerang tak jelas,” kita langsung kabur. Pintu sampai jebol mas,” tutur pekerja perumahan.

Menurut sepengetahuannya, Samsuri memang sudah beberapa kali kerasukan kuda kepang. Sebelumnya memang Samsuri dulunya pemain kuda kepang.

“Dia orangnya penakut, tapi berani main begitu,” kata salah satu pekerja sambil meminum kopi.

Jam menunjukkan pukul 4 pagi. Akhirnya kami berlima beranjak membangunkan para pekerja yang tinggal dirumah kosong.

“Mas Samsuri kesurupan kuda kepang, sekarang ga tau dimana dia. Kita bantu cari sama-sama ya mas,” tanya pekerja.

“Ayo kita cari, kasian anak orang kalau kenapa-kenapa,” jawab tukang.

Baca Juga:  Desa Kebagusan Lestarikan Kuda Lumping

Dengan keberanian yang setengah-setengah sambil menggenggam senter sudut-sudut gepal kita susuri mencari Samsuri.

Setiap sudut tak terlihat batang hidung Samsuri, hingga akhirnya kita putuskan mencari ditempat sebelumnya Samsuri kerasukan.

Dan benar saja, melalui sorotan lampu senter, Samsuri terlihat jelas sudah lelap tidur dipinggir tembok ruko tempat sebelumnya ketiga para pekerja tidur.

Sambil melangkah meninggalkan ruko. Kami keheranan melihat pecahan gelas berserakan dilantai. Hingga semuanya menduga apakah Samsuri makan beling. Sebab banyak pecahan beling berserakan.

Sambil berjalan kearah mushala, dikuatkan dengan kondisi gelas yang tergeletak tetapi kondisinya pecah.

“Wah bener, makan beling dia,” jelas tukang.

Cangkir didepan Mushalla tergeletak dengan kondisi pecah. Pecahan cangkir berserakan dimana tempat Samsuri makan beling.

Hingga akhirnya satu persatu berpamitan pulang kerumahnya masing-masing.

Paginya, kami mendengar kabar jika Samsuri sengaja tidak dibangunkan, untuk bekerja seperti biasanya.

“Kok kita ga dibangunin mas,” tanya Samsuri kepada pekerja, seolah tak merasa terjadi apa-apa saat tengah malam, dimana saat itu kami berlima merasakan pengalaman yang tidak terlupakan sepanjang hidup, menghadapi orang kerasukan kuda lumping (kuda kepang). (AR)

1,703 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Kerasukan Kuda Kepang Kuda Lumping

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan