Konflik Gajah Happy Ending

KOTAAGUNG-Penyelesaian konflik gajah di Kecamatan Semaka mulai masuk tahap penggiringan gajah liar masuk ke hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) oleh gajah latih dari Way Kambas, Lampung Timur. Sepertinya konflik antar warga dan gajah liar bakal berakhir (Happy ending).

Menurut Sukirno, petugas TNBBS, penggiringan dimulai Senin (20/11) lalu, dari Pekon Talang Asahan. Dalam penggiringan terlibat 12 pawang gajah dari Way Kambas, dan Pemerihan, Posisir Barat, lalu lainnya ada dari TNBBS, BKSDA, Polhut, World Wide Fun for Nature (WWF), Wildlife Conservation Society (WCS), dan warga.

“Penggiringan dari Talang Asahan terus masuk ke hutan lindung Register 39. Di sana istirahat dulu semalam dan baru berlanjut lagi untuk menuju hutan TNBBS. Dan perkiraannya sudah masuk karena istirahat terakhir tinggal 300 meter jarak ke hutan TNBBS,” jelas Sukirno, Selasa (21/10).

Baca Juga:  Bambang Kurniawan Dituntut 3 Tahun Penjara

Ia mengaku, apabila setelah istirahat gajah liar tidak mau masuk hutan TNBBS maka minimal bertahan di hutan Register 39. Tidak mungkin 12 ekor gajah liar itu turun lagi sebab di bawahnya sudah ada gajah Way Kambas. “Dari lokasi itu akan terus di dorong masuk hutan TNBBS, gajah Way Kambas akan nahan jadi tidak mungkin gajah liar turun lagi,” terang Sukirno.

Kemudian selama proses penggiringan gajah liar Talang Bamban tetap utuh berjumlah 12 ekor, tidak terpencar. Dan kebetulan dari awal saat di Pekon Talang Asahan kawanan gajah itu sedang genap berkumpul 12 ekor.

Hal itu membuat kelancaran proses penggiringan. “Kalau gajah liarnya sampai digiring dekat hutan TNBBS tetap utuh 12 ekor, mudah-mudahan bisa terus utuh,” kata Sukirno.

Baca Juga:  Ketua PC-NU Tanggamus: Kita Harus Berfikir Strategis, Jangan Pragmatis

Ia mengaku dalam proses penggiringan kendala terberat adalah medan dan cuaca. Untuk medan, di sini perbukitan sedangkan gajah Way Kambas bukan gajah gunung dan terbiasa dengan medan yang rata. Itu membuat gajah harus istirahat.

Kemudian faktor cuaca karena hujan terus turun sehingga membuat pawang dan tim gabungan harus istirahat agar tidak kedinginan karena kehujanan terus.

Menurut pengakuan Yanto, warga yang ikut menggiring, dalam proses awal penggiringan memang tidak mudah, khususnya saat gajah liar dipertemukan dengan gajah Way Kambas. Gajah liar tidak mau pergi sedangkan gajah Way Kambas diperintahkan untuk mengusir gajah liar tersebut.

“Waktu ketemu itu gajah liar dan gajah Way Kambas bertarung dulu, setelah gajah liar kalah, baru mau digiring ke atas. Untuk yang bertarungnya gajah Way Kambas yang betina sebab gajah liarnya juga betina. Setelah gajah liar mundur baru gajah Way Kambas lainnya muncul. Jadi gajah-gajah yang liar langsung ke atas. Setelah itu terus di giring ke atas,” ujar Yanto.

Baca Juga:  Manusia & Gajah Konflik Lagi

Proses penggiringan tidak ditentukan sampai kapan sebab targetnya gajah Talang Bamban masuk sedalam-dalamnya ke hutan TNBBS. Setelah itu barulah gajah Way Kambas akan berjaga di luarnya, tepatnya di hutan lindung 39 atau 31 selama dua bulan untuk antisipasi gajah keluar lagi.

Upaya penggiringan gajah dengan gajah ini adalah penyelesaian lanjutan konflik gajah Semaka. Sebab selama ini penggiringan dengan manusia oleh tim gabungan terdiri BKSDA Lampung-Bengkulu, TNBBS, WWF, Wildlife Conservation Society (WCS), Rhino Protection Unit (RPU), Polhut, BPBD Tanggamus dan para masyarakat tidak berhasil. (SB/CD)

Ending Gajah Happy Jinak kambas Kecamatan Konflik Semaka talangbaban Tanggamus Warga way

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan