Konreg Sinergikan Perekonomian Sumatera untuk Nasional

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Budiharto Setyawan.

BANDAR LAMPUNG – Penyelenggaraan Kegiatan Konsultasi Regional (Konreg) Produk Domestik Regional Bruto dan Indikator Sosial Ekonomi (Konreg PDRB-ISE) Se-Wilayah Sumatera 2018 di Provinsi Lampung, Novotel 7-8 November 2018, bertujuan untuk mewujudkan keselarasan, keserasian dan keterpaduan perencanaan antar wilayah dan antar sektor.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Budiharto Setyawan mengungkapkan, investasi di Sumatera saat ini sangat pesat, menduduki peringkat kedua setelah Pulau Jawa.

Hal itu dibuktikan dari peningkatan pembangunan infrastruktur yang ada di beberapa wilayah di Sumatera, seperti Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS), MRT, peningkatan bandara, dan lain sebagainya.

Konreg se-sumatera yang digelar ini membahas PDRB-ISE dengan tema “Peningkatan Investasi dan Daya Saing Wilayah sebagai Stimulus Percepatan Ekonomi Regional Sumatera”.

Pada kegiatan ini akan dilakukan pembahasan isu-isu ekonomi yang membutuhkan sinergi pembangunan antar wilayah untuk mengantisipasi tantangan dan masalah ekonomi nasional.

“Kantor Perwakilan Bank Indonesia di daerah memiliki peran advisory bagi stakeholders utama yakni Pemerintah Daerah. Bank Indonesia secara rutin menerbitkan buku Kajian Ekonomi Keuangan Regional yang berisi informasi perkembangan ekonomi terkini serta prospek dan tantangan perekonomian daerah ke depan” ujar dia saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (6/11).

Ia menambahkan, hal ini sejalan dengan visi Bank Indonesia “Menjadi bank sentral yang berkontribusi secara nyata terhadap perekonomian Indonesia dan terbaik diantara negara emerging markets.

Baca Juga:  Gubernur Ridho Berharap Kejurnas PPLP Lahirkan Atlet Panahan

Selain itu, pertemuan rutin triwulanan juga senantiasa diadakan dalam bentuk rapat koordinasi dengan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam membahas isu-isu ekonomi regional.

Salah satu isu ekonomi yang saat ini sedang dibahas adalah terkait upaya peningkatan ekspor dalam rangka mengurangi defisit transaksi berjalan.

Sebagaimana diketahui, Sumatera memiliki kekayaan alam yang potensial sebagai komoditas ekspor seperti kopi, alumunium, CPO, dan timah.

Berbagai upaya untuk meningkatkan nilai ekspor dari komoditas-komoditas tersebut perlu ditingkatkan, mulai dari proses produksi, peningkatan nilai tambah produk, hingga pemasaran.

Selain melalui peningkatan ekspor komoditas, peningkatan cadangan devisa juga didorong melalui sektor pariwisata.

Kunjungan wisatawan mancanegara diharapkan dapat memberi dampak rambatan bagi peningkatan devisa pariwisata.

Sektor pariwisataini juga bisa menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan devisa, karena kunjungan dari wisatawan mancanegara, tak mungkin tidak melakukan konsumsi belanja, artinya mereka datang dari luar negeri membawa valuta asing yang ditukarkan dengan Rupiah, sehingga secara langsung, semakin banyak wisatawan yang datang maka semakin banyak devisa yang dihasilkan.

Sektor Pariwisata diharapkan bisa menjadi salah satu alternatif disamping dari komoditas-komoditas unggulan di Sumatera, karena ekspor mendatangkan devisa, wisatawan asing juga bisa mendatangkan devisa.

Baca Juga:  Inisiasi Kota Layak Anak, Kementerian PPPA Apresiasi Lampung

Infrastruktur juga menjadi salah satu topik pembahasan dalam pertemuan regional yang telah berlangsung selama tahun 2018, karena sektor tersebut menjadi salah satu unsur pendorong perekonomian. Pertumbuhan ekonomi adalah gabungan dari konsumsi, investasi, dan ekspor.

Bank Indonesia bersama mitra strategis di daerah yakni Pemerintah Daerah terus berupaya mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah.

“Kami memberikan masukan-masukan kepada pemerintah daerah maupun stakeholder lainnya. Melalui kegiatan Konreg ini, kami mensinergikan hal-hal tersebut,” ungkapnya.

Budiharto juga menjelaskan, dalam menyusun PDRB, penjumlahan dari konsumsi investasi, dari pengeluaran, dari penggunaan sektoral, seperti di Lampung, pertanian, industri pengolahan, perdagangan, dan untuk di Sumatera pertanian dan pertambangan.

Saat ini Indonesia menghadapai ketidakpastian ekonomi global. Namun demikian, fundamental ekonomi negara ini masih kuat.

Defisit transaksi berjalannya masih terjaga di bawah tiga persen PDB. Indikator ini menjadi acuan bagi investor asing yang menunjukan kekuatan fundamental perekonomian Indonesia.

Untuk menjaga defisit agar tidak lebih dari tiga persen dari PDB, dan memperkuat fundamental perekonomian Indonesia maka diperlukan peningkatan ekspor, wisatawan asing dan investasi.

Dalam upaya meningkatkan investasi di Provinsi Lampung, Bank Indonesia bersama dengan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota telah membentuk Forum Investasi Lampung (FOILA), yang bertujuan untuk membahas tantangan strategi peningkatan investasi di Lampung.

Dalam upaya peningkatan ekspor, Lampung sendiri terkenal sebagai eksportir produk kopi terbesar di Indonesia. Namun sayangnya hampir lebih dari 90 persen ekspor kopi Lampung, diekspor dalam bentuk biji dan belum diolah. Untuk itu, perlu dibahas langkah meningkatkan nilai jual kopi.

Baca Juga:  Gubernur Ridho Serahkan Rancangan KUA dan PPAS RAPBD 2019

Sebagai langkah kontribusi nyata di Provinsi Lampung, Bank Indonesia memiliki program bersama pemerintah Kabupaten Way Kanan terkait dengan pengembangan komoditas kopi.

Salah satu program yang dilakukan adalah memberi pelatihan kepada petani kopi tentang bagaimana meremajakan tanaman kopi menggunakan teknik sambung pucuk, tanpa harus menebang pohon yang lama.

Petani juga diberikan pelatihan teknik penjemuran dan roasting kopi supaya memperoleh hasil yang lebih baik, dengan mendatangkan ahli-ahlinya. Jika program ini berhasil, BI berharap teknik ini dapat diikuti oleh petani-petani di Kabupaten lainnya.

Selain kopi, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, bersinergi dengan pemerintah daerah juga banyak dilakukan diantaranya dalam pengembangan Tapis di Pesawaran dan ikan teri di Pulau Pasaran, yang diharapkan dapat meningkatkan perekonomian di Lampung.

Di sektor Pariwisata, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung sudah melakukan penjajakan ke Kabupaten Pesisir Barat, dan akan berkoordinasi dengan pemerintah setempat untuk meningkatkan potensi wisata tersebut.

Di pilihnya destinasi wisata Pesisir bBarat didasari oleh potensi pariwisata daerah yang besar dan telah banyak dikunjungi oleh wisatawan asing, sehingga berpotensi untuk meningkatkan devisa negara. (IH)

Konreg PDRB-ISE Pemprov Nov

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan