Lampung Tanoh Singkong

Oleh Supendi

…Bumiku Tanoh Lampung Kulawi

Panjak Wah-Wah Di Nusantara

Tani Tukun Sangun Jak Jebi

Tanoh Lampung Tanoh Lado…

Itulah penggalan lagu bertajuk Lampung Tanoh Lado ciptaan Fath Syahbudin yang dipopulerkan oleh Andy Ahmad, mantan Bupati Lampung Tengah. Lagu ini begitu populer dikalangan masyarakat Lampung utamanya buat generasi 90an. Sebuah lagu yang bercerita tentang kayanya alam Lampung dan melimpahnya hasil bumi, terutama lada hitam.

Lada memang sejak dulu sudah menjadi identitas hasil bumi Lampung yang terkenal hingga ke mancanegara. Bersama kopi, lada sudah menjadi penopang hidup bagi banyak orang Lampung. Selain produktivitasnya yang tinggi, harga lada juga selalu bagus sehingga mereka yang menanam lada identik dengan status hidup sejahtera. Ini bukan lelucon, ini fakta, meski sudah terjadi di masa lampau.

Data Dinas Perkebunan Provinsi Lampung mencatat, produksi lada hitam Lampung pada era 1970-an mencapai 50 ribu ton per tahun. Angka fantastis ini ikut mendomplang nilai ekspor Lampung bahkan nasional sehingga dulu Lampung begitu tersohor sebagai daerah sentra produksi lada.

Namun seiring berjalannya waktu, hasil panen lada di Lampung terus menyusut karena berbagai faktor salah satunya lahan tanam yang terus tergerus.

Ambil contoh untuk wilayah sentra produksi lada di Lampung, yakni Lampung Utara, Data Dinas Perkebunan setempat menyatakan susutan areal pada 2010 tercatat luas tanaman lada 25.678 hektare (ha), 2011 (19.177 ha), 2012 (18.473 ha), 2013 (18.091 ha), 2014 (11.979 ha), 2015 (11.401 ha), dan di 2016 tersisa 10.829. Jika ditotal penyusutan lahannya mencapai 14.849 ha, ini baru dari satu daerah produksi, belum menghitung daerah lainnya semisal Lampung Timur.

Tak cuma lahannya saja yang menyusut, harga lada semakin kesini juga semakin tak bersahabat dengan petani. Ambil contoh pada 2016, harga lada hitam di Lampung masih berjaya di kisaran Rp100 ribuan per kg. Namun kemudian anjlok drastis menjadi Rp45 ribu – Rp50 ribu per kg pada 2017. Lalu terus menurun, sampai baru-baru ini, awal Mei 2018 harga jual lada di tingkat pengepul hanya Rp36 ribu per kg.

Kondisi membuat galau para petani lada. Mereka mengeluh karena harga jual yang tak lagi menguntungkan. Komoditas lada seperti kehilangan era kejayaannya, begitu juga para petani lada. Banyak petani yang tak lahan lalu banting setir dengan beralih tanam. Singkong menjadi pilihan karena dinilai punya prospek lebih bagus, selain perawatan yang mudah dan murah, harga jual singkong cenderung stabil.

Pemerintah Provinsi Lampung memang sudah bergerak cepat untuk mencegah semakin menyusutnya lahan tanam lada. Salah satunya lewat rehabilitasi besar-besaran. Rehab tanaman lada ini tersebar di berbagai kecamatan di Lampung Utara, Way Kanan, dan Lampung Timur masing-masing 200 hektare. Selain itu, langkah intensifikasi tanaman lada juga dilakukan dengan lahan seluas 100 hektare di Lampung Utara, 100 hektare di Way Kanan, dan 150 hektare di Lampung Timur.

Menurut Dessy, anjloknya harga lada di Indonesia terutama di Lampung karena mutu komoditas andalan Lampung ini sudah mengalami penurunan, karena faktor cuaca. Dampak lain, karena lada asal Vietnam menguasai pasar global sehingga lada Indonesia kurang peminat.

Langkah positif pemerintah ini harus diapresiasi. Pemerintah memang harus bergerak cepat karena masalah ini soal mengembalikan identitas Lampung. Identitas yang sudah mengangkat derajat Lampung bukan saja mengharumkan nama, tapi juga mengangkat derajat ekonomi daerah dan banyak hidup masyarakatnya. Jangan sampai fakta kejayaan lada hanya tinggal cerita. Jangan sampai Lagu Lampung Tanoh Lado tak lagi punya nyawa. Atau lebih tragis lagi berganti tajuk menjadi Lampung Tanoh Singkong.(*)

 

 

 

 

616 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

lampung tanoh lado lampung tanoh singkong

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan