Makanan Tradisional di Tengah Pandemi, Cuma di Tungkune Dewi 

Fajarsumatera.co.id- Rindu masakan rumahan? Hadirnya gerai Tungkune Dewi berlokasi di jalan pagar alam gang lambang no. 18, kedaton Bandar Lampung. Konsep makanan rumahan tradisional dengan cita rasa yang membuat nostalgia pada kampung halaman.

Entrepreuner muda Dewi Hardianti merupakan owner dari ‘Kepiting Nyablak’ tidak berhenti berinovasi,  kini ia meluncurkan brand baru dengan konsepan yang berbeda dari brand yang sebelumnya ia rilis, Jumat (5/02).

Brand yang baru launcing 1 bulan yang lalu ini menyuguhkan konsepan tradisional rumahan yang terinspirasi dari tradisi hajatan zaman dahulu seperti kenduri, konsepan back to nature yang disuguhkan diharapkan bisa diterima oleh kalangan muda, hal ini yang  membuat para penikmatnya lebih tertarik dan menambah cita rasa nikmat pada hidangan yang disuguhkan.

Hadirnya Tungkune Dewi berawal dari adanya keluhan custumor kepiting nyablak yang tidak bisa memakan seafood lalu hadirlah menu nasi rumahan yang bisa dinikmati semua kalangan. Cara memesannya pun sangat mudah dengan aplikasi goshop ataupun meminta tim delivery tungkune dewi jika tidak bisa datang langsung ke gerai.

Begitupun dengan nama Tungkune Dewi yang identik dengan bahasa jawa yang sengaja dipilih owner, dimna tungku itu adalah alat masak, seperti yang owner katakan apa yang ia masak maka itulah yang ia hidangkan.

Gerai ini menyuguhkan berbagai menu mulai dari varian nasi liwet putih, nasi liwet beras merah, sampai nasi liwet bunga telang, dengan dampingan lauk pauk yang bervariasi mulai dari ayam bakar, ayam goreng, ikan, tempe, dan melayani lauk sesuai permintaan custumer. Adapun menu yang direkomendasikan dari gerai ini adalah urap dengan rasa yang khas dan menjadi favorit para custumer.

Dimulai dari 30 ribu pelanggan sudah bisa menikmati paket nasi liwet dengan berbagai lauk pauk yang melimpah. Gerai buka mulai dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore.

Sesuia dengan konsep yang diambil packaging yang dipakai oleh gerai ini menggunakan bahan alam, seperti besek yang terbuat dari anyaman bambu atau sering disebut pipiti dengan alas daun pisang, selain karena konsep, owner juga menginformasikan bahwa hal ini dalam rangka mengurangi penggunaan pelastik.

“Kalo aku pake konsep plastik sama aja aku nyumbang sampah plastik dong, iyakan ? Otomatis walaupun sedikit akupun menyumbang sampah platik semakin banyak . Walaupun nantinya ngebungkus atau take away pake plastik tapi setidaknya aku mengurangin lah
dan pengennya back to nature dan berbau bau alam karena lebih sehat lebih natural dan lebih enak” ujar Dewi Hardianti owner dari Tungkune Dewi .

Dimasa pandemi seperti ini banyak sekali pedagang yang mengalami masa sulit, begitupun dengan Tungkune Dewi yang sempat merasakan penurunan omset, tetapi setelah semakin lama, bangkit dan semakin stabil. Selain mengandalkan promosi dari mulut ke mulut ia juga menggunakan media sosial instagram dengan semaksimal mungkin.

Ia juga berharap Tungkune Dewi semakin besar dan berkah serta dapat memotivasi anak-anak muda lainnya agak tidak takut dalam mencoba sekalipun banyak faktor yang tidak mendukung karena kita tidak pernah tahu ide itu akan berhasil atau tidak.

Reporter/(maya, syifa)

Posting Terkait