Membaca Kembali Indonesia, Lamban Sastra Isbedy Gelar Politisi Baca Puisi

Foto: Ist

BANDARLAMPUNG – Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS akan mengadakan tasyakur di tempat baru, Jalan Turi Raya Labuhan Dalam, Tanjungsenang, Bandar Lampung, Sabtu (3/8) mendatang.

Acara ini sekaligus merayakan Kemerdekaan Indonesia ke 64. Dengan tema Membaca Kembali Indonesia, Lamban Sastra mengundang sekira 32 politisi Lampung untuk membaca puisi.

Menurut Agusri Junaidi didampingi Sekretaris Panitia, Politisi Baca Puisi ini mengawali progran Lamban Sastra di tempat baru setelah hampir 2 tahun istirahat.

Baca Juga:  Seniman Lampung akan Tampil di Batam dan Tanjungpinang

“Acara ini kami namakan Politisi Baca Puisi, dengan tema Membaca Kembali Indonesia,” jelas Agusri di Lamban Sastra, Selasa  (16/7).

Dikatakan Agusri, pihaknya sudah menyebarkan undanga  ke politisi. Diharapkan hingga 26 Juli ada konfirmasi kesediaan atau tidak.

“Dari konfirmasi itu kami akan membuat banner dimana ada foto para politisi,” katanya lagi.

Ia berharap politisi Lampung dapat meramaikan panggung Membaca Kembali Indonesia. Pangggung ini juga sebagai silaturahim politsi dengan konstiuen, seniman, dan pemerhati sastra.

Baca Juga:  Tarung Baca Puisi Isbedy Stiawan ZS & Djuhardi Basri Digelar 29 Oktober

Panggung Puisi Politisi Lampung ini, masih kata Agusri,  umtuk saatnya bersama-sama “Membaca Kembali Indonesia”  melalui karya-karya puisi.

Sementara itu, Syaiful Irba Tanpaka menjelaskan bahwa kita memaklumi bahwa karya sastra sangat dekat dengan masyarakat, dan negara pun memiliki kepedulian pada sastra.

“Dari panggung Lamban Sastra Isbedy, kita pertemukan antara pokitisi dan masyarakat, puisi pada politisi dan pemerhati.”

Baca Juga:  Isbedy dan Musisi Tubaba Tampil di Rumahitam Malam Ini

Pengampu Lamban Sastra, Isbedy Stiawan ZS menambahkan, kedekatan negara dengan karya sastra dapat dibuktikan dengan teks Sumpah Pemuda yang dikonsep oleh Muhammad Yamin.

Isbedy mengutip pernyataan Sutardji Calzoum Bachri bahwa teks Sumpah Pemuda adalah puisi dengan “P” (kapital).

“Teks Sumpah Pemuda itu futuristik dan universal. Saat itu Indonesia masih in absentia,” tegas Isbedy.

Panggung Politisi Baca Puisi: Membaca Kembali Indonesia terbuka untuk umum dan gratis.

Isbedy Stiawan ZS Lamban Sastra Puisi

Posting Terkait