Membangun Lampung dari ‘Pinggiran’, Bagian Terakhir dari Dua Tulisan

Oleh Prof. Dr. Ir. Irwan Effendi, M.S..

Guru besar Fakultas Pertanian Unila
PILAR kedua adalah infrastuktur. Ini bisa meliputi infrastruktur jalan, jembatan, irigasi dan infrastruktur pendukung lainnya yang dikembangkan di desa. Pembangunan infrastruktur seperti  jalan, jembatan, dan irigasi  di desa,  sangat menunjang  peningkatan produksi  dan angkutan produk pertanian  serta jasa lainnya. Sarana transportasi yang lancar juga  mendukung kemajuan desa bahkan kegiatan pertanian, mulai  dari pasokan sarana produksi  sampai penjualan pemasaran hasil produksi. Selanjutnya akan berdampak positif terhadap  pertumbuhan ekonomi desa yang semakin cepat. Melalui infrastruktur juga bisa ditekan ekonomi biaya tinggi yang dialami petani, seperti ketika membawa hasil pertaniannya ke wilayah pemasaran.
Pilar ketiga adalah mendirikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes/BUMPekon). Kelembagaan ekonomi seperti koperasi pertanian merupakan ujung tombak keberhasilan pertanian, yang diperlukan mulai dari penyediaan saran produksi, permodalan, sampai pemasaran hasil produksi.  Kelembagaan harus dapat berperan dalam meningkatkan wawasan dan pengetahuan petani terhadap masalah manajemen produksi, melibatkan petani dalam kegiatan agribisnis (on farm) dan sebagai wadah organisasi petani agar memiliki daya saing dan posisi tawar yang tinggi, demi keberlangsungan proses ekonominya.
Badan Usaha Milik Desa yang dibentuk, dimiliki, dan dikelola oleh Pemdes dan petani dengan tujuan untuk memperbaiki mutu budi daya dan pengelolaa usaha tani demi terwujudnya: peningkatan produktivitas, nilai tambah produk, perbaikan pendapatan usahatani, perbaikan daya tawar dan kemampuan membangun kemitraan yang sinergis yang maju, inovatif, dan berkelanjutan.
Pendirian BUMDes membutuhkan Kebijakan. Misalnya, kebijakan desa sebagai kawasan sentral pertanian harus menjadi prioritas pengembangan. Di sini, diperlukan payung regulasi yang memperkuat kebijakan keberadaan BUMDes itu.
Di awal pengembangannya, sedikitnya ada 3 strategi yang sebaiknya dilakukan. Pertama, mendorong  pertumbuhan kegiatan ekonomi lokal sehingga mampu menyerap tenaga kerja lokal dengan Agribisnis Kreatif. Kedua, menimbulkan efek pengganda (multiplier effect) ke depan dan kebelakang yang besar, melalui “input-output-outcame” antar industri, komsumsi dan investasi melalui keunggulan komparatif yang dimiliki desa, agar menjadi keunggulan kompetitif kecamatan
Ketiga, mengembangkan keunggulan yang  dimiliki untuk mampu bersaing meningkatkan nilai tambah dan berdaya guna bagi masyarakat di pedesaan
Catatan lain, dari keberadaan BUMDes adalah harus diperkuat oleh peran dan pemberdayaannya agar dapat menyerap hasil produksi seperti produksi pertanian yang ada di desa-desa. BUMDES akan menjadi sentra penjualan kebutuhan di desa, begitu juga sebaliknya untuk menyerap hasil produksi desa.
BUMDesa adalah sebuah perusahaan yang dikelola oleh masyarakat desa dan kepengurusanya terpisah dari pemerintah desa. Berdirinya BUMDesa bertujuan untuk menggali dan mengoptimalkan potensi wirausaha desa, yang dilandasi oleh UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 213 ayat (1) disebutkan bahwa Desa dapat mendirikan badan usaha milik desa sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa
Pilar Keempat adalah Pengembangan Cluster spesifikasi komoditas pertanian. Pengembangan kawasan agribisnis komoditas unggulan berdasarkan keunggulan komparatif yang terintegrasi dengan pembangunan pedesaan. Setiap desa harus memiliki keunggulan komparatif dengan mengembangkan satu komoditas unggulan, sehingga tiap desa memilik keunggulan komparatif yang berbeda-beda, agar dapat  menambah nilai komoditas tersebut. Misalnya, jika di suatu kampung ada wilayahnya yang berdekatan dengan pasar sayuran, maka mereka mengembangkan hortikultura di salah satu culsternya. Hal tersebut dinilai relevan dan dapat berkembang secara alami.

Baca Juga:  BUMDes Sewu Artha Jadi Sorotan

Membangun Agribisnis sebagai Sistem

Keempat pilar ini masuk dalam sistem agribisnis. Konsep sistem yang integratif dari beberapa sub sistem dalam satu desa/kampung. Karena bidang pertanian yang dikembangkan, maka pertanian berperan sebagai sistem agribisnis.
Adapun sub sistem yang berada dalam sistem ini adalah, pertama sub sistem pengadaan sarana produksi di tingkat lokal. Pengadaan sarana produksi untuk kegiatan produksi selalu dibutuhkan. Misalnya benih unggul, pupuk, pestisida dan alsintan.  Terkait dengan sub sistem ini masih sering dihadapi oleh petani antara lain kelangkaan dan ketersediaan sarana produksi, menyangkut jenis, mutu dan waktu tingkat harga yang selalu berubah. Sub sistem pengadaan juga belum dirasakan efektif dalam kelembagaan petani
Sub sistem kedua adalah budidaya usahatani. Subsistem ini adalah proses yang melibatkan campur tangan manusia untuk memgelola beragam sumber daya manusia agar dapat menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan dan atau diperdagangkan demi memperoleh penghasilan, kebutuhan serta perbaikan kehidupan keluarga dan masyarakatnya. Suatu proses akan menghasilkan komoditas yang dapat diperdagangkan. Selain dapat meningkatkan peningkatan pendapatan petani juga dapat menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan pendapatan nasional.
Sub sistem ketiga adalah pengolahan dan industri hasil pertanian (dalam sistem agroindustri). Sejumlah gejala akan tampak, seperti adanya permintaan produk pertanian yang semakin  berkembang, adanya nilai tambah dari proses pengolahan, dan tersedianya bahan baku di desa, dengan tenaga kerja orang desa, plus teknologi yang pasca panen yang telah dimiliki. Hal ini akan memperluas lapangan kerja di pedesaan
Dan sub sistem yang keempat adalah pemasaran hasil pertanian. Sub sistem pemasaran dalam sistem agribisnis menempati posisi yang sangat penting dari sub sistem produksi, karena sebagai salah satu bentuk usahatani modern yang komersial. Pemasaran hasil akan sangat menentukan keberhasilan dan kelestarian usahatani yang dikelola. Selain itu, jaminan kontrak pemasaran dan kontinuitas produk juga akan timbul.
Dari empat sub sistem tersebut, ada sedikit catatan. Bahwa sub sistem kelembagaan penunjang kegiatan pertanian dalam bentuk penelitian, penyuluhan, pembiayaan, konstruksi, transportasi dan jasa lainnya.
Catatan lainnya, sub sistem ke 2 dan sebagian dari sub sistem 1 dan ke 3 merupakan on farm agribusiness.

Baca Juga:  OJK Bersama Pengiat Desa Dirikan BUMDES Center di 434 Kabupaten se-Indonesia

Bersifat Implementatif
Keempat pilar yang terpadu dalam sistem agribisnis ini berpotensi bisa dilaksanakan atau diterapkan dengan kreatifitas dan inovasi. Ada baiknya diperhatikan ungkapan bijak dari Bobbi Depoter dan Mike Hernachi. Dia mengatakan sebagai tindakan “melihat hal yang dilihat orang lain, tetapi memikirkan hal yang tidak dipikirkan orang lain” merupakan bagian dari masa depan. Masa depan kita tidak ditentukan oleh kondisi saat ini tetapi lebih ditentukan oleh impian kita untuk masa depan. Ungkapan bijak lainnya dari Michael Michalko. Dia menyebutkan sebagai tindakan masa depan adalah ketika kita melihat hal yang tidak dilihat orang lain dan memikirkan hal yang tidak dipikirkan orang lain.
Di Indonesia, kreativitas di bidang pertanian meliputi sejumlah kreatifitas, seperti tanaman hias,  kerajinan rotan, kerajinan bambu, kerajinan akar wangi, kerajinan enceng gondok, kuliner, kerajinan kelapa, kerajinan kayu, kerajinan hasil perairan, dan kerajinan tapis. Sedangkan untuk wilayah pedesaan dapat mengembangkan kreatifitasnya sebagai Kampung Adat, Rumah Adat, Alat musik Tradisional, Kesenian tradisional, Kampung Kreatif (OVOP), Kampung Ternak, atau Kampung Buah.
Beberapa model agribisnis kreatif yang bisa dikembangkan di pedesaan antara lain Kreasi berbagai pestisida hayati dan teknologinya bagi pengendalian hama dan penyakit tanaman dan hewan. Kemudian, Kreasi berbagai obat herbal bagi penyembuhan berbagai penyakit dan luka pada manusia, Kreasi berbagai bahan dan teknik pembuatan pupuk organiik, Kreasi berbagai produk makanan olahan dari beras, dan tepung.-tepungan. Kreasi lainnya, kreasi dari pohon industri komoditas, yang dilakukan untuk produk turunan, misalnya dari Singkong pohon aren, batang, ijuk, buah, gula, dan sebagainya. Juga Kreasi komoditas dari ternak dan ikan, seperti dari daging, kulit, tulang tanduk dan lainnya
Catatan penting di sini, kreasi dalam bidang pertanian dan atau agribisnis, tidak hanya dilakukan pada produk utama dan produk ikutan, tetapi juga dapat dilakukan pada proses-proses produksi, pengolahan, distribusi pemasaran, dan modal-modal sosial lainnya.  Bahkan kreasi juga dapat dilakukan terhadap pengolahan lahan pertanian, kandang ternak, kolam pemeliharaan ikan, dan lingkungan. (Usahatani Terpadu)
Sebelum menutup tulisan ini, ada baiknya kita melihat ada yang diungkapkan Thomas Jefferson. “Jika suatu masyarakat  terbelakang  ilmunya, tetapi memimpikan kesejahteraan, maka ia mengharapkan apa yang tidak pernah ada, dan tidak akan pernah ada.” []

2,032 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

BUMDes Irwan Effendi Pedesaan

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan