Membedah Visi Misi

Ismi Ramadhoni
Ketua DPD PGK Way Kanan

Pilkada Waykanan 2020 sudah selesai, hitung cepat rakata institute menunjukan kedigdayaan petahana Raden Adipati Surya dan Ali Rahman yang keluar sebagai pemenang.

15 kecamatan Waykanan disapu bersih oleh pasangan berani pasti aman. Rakata mengklaim bahwa kemenangan Adipati – Ali Rahman sebesar 75,28% sedangkan paslon Juprius – Rina hanya meraup 24,72%.

Pilkada 2015 Adipati – Edward yang berstatus penantang incumbent menyapu kemenangan sebesar 59,75 % dan hanya menyisakan 40,24% untuk Bustami – Adinata yang didukung koalisi gemuk PDI-Perjuangan, Gerindra, PKB, NasDem, dan Golkar.

Berarti 5 tahun berselang dengan mampu membuktikan kinerja dan beragam prestasi, petahana mendongkrak 15,53 % suara dari 2015 ke 2020. Kita tak tahu, apakah RAS sudah cukup puas dalam perolehan kali ini, karena RAS memiliki 38 Anggota DPRD Way Kanan beserta Partai Koalisi Demokrat, NasDem, PKB, PAN, Golkar, PKS, dan Hanura.

Wafatnya Edward Anthony sebelum pendaftaran, membuat RAS dituntut tepat untuk menunjuk Wakil yang akan mendampinginya. Banyak nama yang beredar muncul antara lain Marsidi Hasan, Deni Ribowo, Sekdakab Saipul, Rudi Djoko, Yusee Sogoran dan lain-lain.

Pilihan itu jatuh kepada Ali Rahman, “Anten” sapaannya merupakan salah satu birokrat mumpuni Way Kanan, mengawali karir dari Staff Kecamatan Blambangan Umpu, menjadi Kadis PU di era kepemimpinan Tamanuri, sempat dipercaya Rycko Menoza menjadi Kadis PU Lampung Selatan dan kepiawaiannya memimpin bidang infrastruktur membuat Sjachrooedin ZP kepincut untuk menunjuknya sebagai Kadis Bina Marga Provinsi Lampung.

Geo-politik cukup signifikan berubah, ketika RAS memilih Anten sebagai wakil, banyak yang tak kuasa membendung Ali Rahman effect. Perahu di KM 5 bocor dan lambat laun menenggelamkan kapal yang kadung berlayar, Ali yang juga sempat menunjukan keseriusannya pada Pilkada Waykanan 2015 lebih memilih untuk all out menumpahkan dukungannya pada pasangan Berani saat itu.

Raden Adipati Surya memang politisi ulung yang harus diperhitungkan dalam jajaran Kepala Daerah di Lampung, tidak menutup kemungkinan Adipati mempunyai peluang untuk maju di Pilgub Lampung mendatang, karena RAS cukup ciamik mengelola mesin partai hingga akar rumput.

Sempat di Golkar menjadi Bendahara, hijrah menjadi Ketua DPC Demokrat Way Kanan, berhasil duduk sebagai Anggota DPRD Waykanan 2009-2014 dan mampu memenangkan 7 Kursi Fraksi Demokrat DPRD Waykanan sekaligus menjadikannya Ketua DPRD 2014-2016.

RAS makin menancapkan pengaruh kuatnya di Bumi Ramik Ragom, terbukti pada Pilgub 2018 ia mampu menunjukan kinerjanya memenangkan M. Ridho Ficardo – Bachtiar Basri, padahal ‘Pak Ngah’ Arinal Djunaidi merupakan putera daerah Waykanan asal Negara Batin.

Pileg 2019 perolehan suara Demokrat makin melejit, partai besutan SBY itu menambah 4 anggota DPRD hingga Fraksi Demokrat DPRD Waykanan berjumlah 11 kursi.

Adiknya, Rial Kalbadi menjadi Anggota DPRD Way Kanan 2019-2024 dengan memperoleh suara terbanyak sebesar 5.945 suara, seharusnya Rial Kalbadi juga mempunyai kans menjadi Ketua DPRD Way Kanan, mungkin belum saatnya.

Kemenangan RAS – Ali Rahman adalah kemenangan seluruh masyarakat Waykanan. Kemarin tugas masyarakat mendukung, hari ini tugas kita mengawal janji sebagaimana yang kita saksikan dalam masa kampanye dan tiga kali debat terbuka paslon yang difasilitasi oleh KPU Waykanan.

Adipati – Ali Rahman mengusung visi: Way Kanan Unggul dan Sejahtera, dengan misi pertama, menyelenggarakan pemerintahan yang baik, kedua meningkatkan kualitas sumber daya manusia, ketiga meningkatkan perekonomian daerah didukung ketersediaan infrastruktur yang mantap, terakhir meningkatkan kualitas lingkungan hidup.

Pemerintahan yang baik (good governance) tentu berkaitan dengan keterbukaan informasi dan efesiensi pelayanan publik, sejauh ini di era Adipati – Edward pelayanan publik di Kabupaten Way Kanan cenderung membaik, terbukti dengan diperolehnya penghargaan dari Ombudsman RI untuk Predikat Kepatuhan Tinggi Terhadap Standar Pelayanan Publik Tahun 2019.

Namun perlu menjadi masukan agar prestasi pelayanan publik tersebut juga harus menular ke tingkat Kecamatan hingga ke kampung-kampung, supaya memudahkan masyarakat untuk mengurus berbagai administrasi. Pemerintah Kampung dan Kecamatan harus menjadi jembatan yang baik dan betul-betul responsif dalam melayani masyarakat.

e-governance dengan menerapkan pelayanan publik secara daring melalui internet seperti mengurus izin usaha dan administrasi kependudukan. Dengan catatan bahwa Pemkab Waykanan berupaya untuk memperluas akses jaringan internet yang merata di seluruh pelosok-pelosok agar masyarakat termobilisasi secara baik.

Pemerintahan yang baik pun menyisir tentang akuntabilitas dan transparansi pemerintah dalam menyampaikan informasi publik. Terutama dalam hal keuangan, APBD yang terbatas belum lagi sebagian besar teralokasi pada belanja pegawai, oleh karena itu pasca lahirnya UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa menuntut desa harus memaksimalkan penggunaan dana kampung sehingga menciptakan inovasi dan kemandirian kampung itu sendiri.

Misi kedua tentang meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Dalam angka, Way Kanan berhasil meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM) yang berkaitan erat dengan konsep Sustainable Development Goals (SDGs). Ukuran IPM tersebut mempunyai tiga dimensi dasar yaitu kesehatan, pendidikan, dan ekonomi.

Pada 2015 menurut data BPS angka IPM Kabupaten Waykanan sebesar 65,18 %, 2016 naik 65,74 %, 2017 juga naik sebesar 65,97 % dan 2018 sebesar 66,63 %. Dari 2015-2018 hanya ada peningkatan sebesar 1,45 %.

Angka tersebut dapat lebih meningkat presentasenya jika IPM itu tidak hanya bicara soal pemenuhan pelayanan kesehatan, peningkatan kualitas pendidikan, dan standar perekonomian yang diuji oleh kemampuan Pemda untuk menyediakan lapangan kerja untuk masyarakat.

Jika Ridwan Kamil ketika menjadi Walikota Bandung acapkali menyebutkan indeks kebahagiaan warga Bandung dalam keseharian, maka formulasi yang dapat diperagakan oleh Pemda Waykanan untuk mendukung meningkatnya IPM adalah membangun peradaban dengan cara mengenali Waykanan itu sendiri.

Peradaban manusia harus dibangun dengan mengenal diri sendiri, masyarakat harus meresapi dan menyimpulkan alasan mengapa Kabupaten Waykanan melakukan dimekarkan dari Lampung Utara pada tahun 1999.

Risalah-risalah itu harus sering disampaikan kepada masyarakat sehingga masyarakat mempunyai karakter yang menimbulkan adanya rasa memiliki terhadap daerah itu sendiri.

Peradaban itu harus dibangun melalui pendekatan masyarakat adat, salah satu hal yang mendasari mengapa terbentuknya Kabupaten Waykanan adalah soal histori karena terdapat 5 kebuayan yang menghuni teritorial di Bumi Ramik Ragom.

Deklarasi Kabupaten Waykanan Ilir oleh pemuka adat beberapa bulan lalu menunjukan minimnya perhatian Pemda terhadap masyarakat adat yang ada di Waykanan, sehingga mereka merasa tidak diperhatikan dan stagnan dalam pembangunan.

Masyarakat adat di Waykanan sudah ada bahkan sejak Indonesia belum ada, mereka yang mengilhami tumbuh berkembang menjaga alam dan bercocok tanam dipinggiran aliran sungai Way Besay dan Way Umpu.

Hak-hak konstitusional masyarakat adat harus mulai dijunjung pada periode kedua ini misal melalui Perda, karena peradaban suatu daerah dapat terlihat jelas ketika pengetahuan tentang masyarakat adatnya makin tereksplorasi. Dengan cara itu komunikasi terhadap pemuka-pemuka adat 5 kebuayan harus intens dilakukan, libatkan partisipasi para punyimbang dalam setiap membuat kebijakan, supaya mereka makin tak merasa termarjinalkan.

Misi ketiga meningkatkan perekonomian daerah didukung ketersediaan infrastruktur yang mantap, Adipati – Ali Rahman akan menargetkan 6.000 UMKM untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tingkat lokal.

Seperti contoh, kita sedang menyaksikan meningkatnya produksi kopi 13.355 ton kopi/tahun dengan luas perkebunan rakyat sebesar 25.895 hektare membuat identitas kopi robusta Waykanan harus bersaing ditingkat regional.

Kedai-kedai kopi dan angkringan yang mulai bermunculan di Waykanan juga harus didukung pertumbuhan bisnisnya, Liwa terkenal sebagai surga kopi robusta, namun budaya berkumpul untuk ngopi kurang disana. Waykanan harus membudayakan ngopi dan berdialog, seperti di Aceh, hiburan masyarakat hanya kedai-kedai kopi, berbincang bagi masyarakat Aceh adalah rekreasi setiap hari.

Infrastruktur adalah pendukung bagi efektivitas perekonomian, terutama jalan, namun jangan lupa Waykanan yang mayoritas masyarakatnya petani harus memprioritaskan bidang pertanian agar hasil-hasil perkebunan akan cepat diantar ke pengepul dan pabrik, jika infrastruktur jalan terus dilakukan perbaikan. Seperti pembuatan jalan tol trans Sumatera, dampak yang paling utama adalah mempercepat roda perekonomian.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa jalan di Kabupaten Waykanan memiliki ruas sepanjang 2352,90 km. Jalan negara 81,90 km, jalan pemerintah provinsi sepanjang 261,10 km, dan jalan kabupaten sepanjang 2009,90 km.

Dalam RPJMD Kabupaten Way Kanan yang tertuang dalam Perda Waykanan Nomor 4 Tahun 2016 capaian Pemda melebihi target yang semula 666 km mencapai lebih dari 1000 km jalan yang dibangun.

Terakhir misi terkait peningkatan kualitas lingkungan hidup di Waykanan, menilik data BPS, Waykanan memiliki hutan lindung sebesar 21.947,8 hektare berada di Register 24 Bukit Punggur dan Register 41 Bukit Saka. Waykanan juga memiliki hutan produksi seluas 66.997,32 hektare yang perlu diperhatikan dan dijaga ekosistem hutan yang ada didalamnya. Sehingga terus menuai kebermanfaatan bagi daerah dan masyarakat sekitar hutan. Kelestarian hutan juga akan mempengaruhi kualitas udara yang ada di Kabupaten Waykanan dan daerah serapan air.

Tentu banyak lagi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan oleh Adipati dan Ali Rahman, supaya kepemimpinan mereka dapat meninggalkan legacy yang terus tertanam di hati masyarakat. Nama baik Waykanan lebih besar daripada seorang nama Adipati dan Ali Rahman, masyarakat harus terus mengawal pembangunan dan tentu harus proaktif untuk mendukung Waykanan Unggul dan Sejahtera.

Posting Terkait