Membendung Radikalisme di Kampus

Misbahul Munir (DOKPRI)

Oleh Misbahul Munir

Sekjen Kaukus Penulis Aliansi Kebangsaan dan Mahasiswa Program Magister Ekonomi dan Keuangan FE UII

 

RADIKALISME menyasar dunia kampus. Hal ini yang belakangan menjadi isu hangat diperbincangkan di tanah air. Bahkan ada salah satu universitas negeri yang ada di Yogyakarta, yaitu Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, beberapa waktu lalu mengeluarkan kebijakan kontroversial mengenai pelarangan penggunaan cadar bagi mahasiswi di wilayah kampus. Kebijakan ini dikeluarkan sebagai bentuk preventif dari pihak kampus dalam memitigasi penyebaran ajaran radikalisme di lingkungan kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Walau kemudian kebijakan kontroversial tersebut dicabut lantaran banyak mendapat tanggapan negatif dari berbagai kalangan, namun munculnya kebijakan tersebut tentu tidak berasal dari ruang hampa. Melainkan dari beberapa fakta sehingga pihak kampus merasa perlu untuk mengeluarkan kebijakan tersebut. Alasan terkuat dari pihak kampus dalam mengeluarkan kebijakan tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah tentu untuk membersihkan kampus dari bibit-bibit radikalisme.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah sudah seberapa jauhkah dunia kampus kita terkena serangan virus bernama radikalisme ini? Berdasarkan data dari Lembaga Ilmu Pengatahuan Indonesia (LIPI) pada tahun 2011, telah terjadi peningkatan paham radikalisme di lima kampus besar di Indonesia. Diperkuat dengan hasil studi yang dilakukan oleh Maarif Institut pada tahun 2013 yang menyimpulkan bahwa ekspansi gerakan transnasional yang ingin mendirikan ideologi tertentu dan menolak konsepsi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila sebagai dasar negara, telah menjadikan dunia kampus sebagai wadah dalam menyebarkan paham radikal.

Baca Juga:  Tjahyo Kumolo Ajak Mahasiswa Unila Antisipasi Radikalisme

Berdasarkan beberapa fakta di atas, mengonfirmasi bahwa radikalisme memang sudah menyusup di dunia kampus. Maka, hal ini harus segera ditindak secara tegas. Diperlukan koordinasi dari semua pihak untuk membersihkan kampus dari ajaran radikalisme.

Pertama, pihak kampus harus mampu melakukan deteksi dini apabila ada penyebaran radikalisme di lingkungan kampus. Hal ini bisa dilakukan melalui pengawasan yang ketat terhadap kegiatan dan perilaku mahasiswa. Apabila ada tindakan dari kelompok mahasiswa yang mencurigakan, maka agar dilakukan tindakan tegas. Bila sudah ada yang terbukti mengikuti ajaran radikalisme, segera dilakukan pendampingan secara kusus dan dilakukan pengusutan secara tuntas hingga akar masalahnya.

Baca Juga:  Radicalism Threaten Nations

Kedua, dalam proses seleksi masuk perguruan tinggi, hendaknya dimasukkan materi mengenai pemahaman kebangsaan. Hal ini penting dilakukan sebagai bekal mahasiswa dalam menjalani masa perkuliahan di kampus. Kalau wawasan kebangsaan mahasiswa sudah kuat, maka, misalnya nanti dikemudian hari ada tawaran dari teman untuk masuk pada ajaran ideologi tertentu, bisa dengan mudah menolak sebab sudah mempunyai pemahaman kebangsaan yang mumpuni.

Ketiga, kuatkan pendidikan kebangsaan di perkuliahan, baik secara teori di dalam kelas maupun secara praktik di luar kelas. Belajar dari yang sudah terjadi selama ini, pendidikan wawasan kebangsaan seperti pendidikan Pancasila hanya diberikan secara teori di dalam kelas saja. Sehingga, mahasiswa dalam mempelajarinya hanya sambil lalu saja atau yang penting lulus matakuliah tersebut tanpa ada penerapan dalam kehidupan sehari-sehari.

Fakta berupa penyebaran wabah radikalisme di wilayah kampus juga menjadi semacam lampu kuning bagi program penguatan ideologi Pancasila. Sebab, sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa mahasiswa adalah sosok yang kita harapkan untuk memimpin bangsa di masa yang akan datang.  Para pemimpin bangsa Indonesia di masa depan adalah mereka yang saat ini tengah menjalani pendidikan di perguruan tinggi.

Baca Juga:  Unila Lanjutkan RS Pendidikan dan Bangun Kampus II

Jika para mahasiswa di perguruan tinggi yang nanti kita harapkan mampu memimpin bangsa ini, ternyata kini malah banyak terjangkit wabah radikalisme, maka ini menjadi ancaman yang sangat serius bagi kelangsungan kehidupan bangsa di masa yang akan datang. Maka, sudah saatnya bagi pemerintah untuk segera turun tangan dan segera menyelesaikan masalah ini.

Ini menjadi tugas pemerintah dalam melakukan pembinaan secara mendasar mengenai nilai-nilai kebangsaan. Nilai-nilai kebangsaan tersebut sebagaimana yang telah kita tahu bersama sudah disaring secara singkat dan sangat jelas dalam butir-butir Pancasila. Dengan demikian para mahasiswa harus digembleng secara lebih masif lagi dalam hal pembinaan dan penguatan ideologi Pancasila.

Ke depannya, diharapkan pendidikan wawasan kebangsaan bisa lebih dilakukan dalam tataran praktik, sehingga bisa mengena dalam kehidupan mahasiswa. Dengan adanya wawasan kebangsaan yang mumpuni, diharapkan bisa membersihkan dunia kampus dari ajaran radikalisme. Wallahu ‘alam! []

1,624 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

kampus Radikalisme

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan