Mempercepat Industrialisasi Lampung

Iwan Nurdin.

Oleh Iwan Nurdin
Peminat kajian sosial politik dan pembangunan;Ketua Dewan Nasional Konsorsium Pembaruan Agraria
APAKAH tenaga produktif provinsi ini akan terus dipakai lebih banyak menyejahterakan provinsi lain, bahkan negara lain?

Apakah posisi strategis Lampung sebagai pintu gerbang Sumatera, dengan fasilitas infrastruktur yang terus membaik dan membuka peluang besar bagi percepatan industrialisasi telah termanfaatkan?

Lampung, meskipun bukan provinsi kaya sumber daya alam dibanding provinsi Sumatera lainnya, terhitung mempunyai kekayaan raksasa. Tambak udang terbesar di Asia Tenggara (ada yang menyebut dunia) Industri gula utama nasional,  pemasok pangan utama khususnya beras, jagung, sayur mayur, ikan, udang hingga daging sapi.

Dari sisi perkebunan rakyat seperti kakao, karet, lada dan kopi provinsi ini juga pemain utama di kancah nasional. Belum lagi jika perhitungan kita tambah dengan sawit. dan kehutanan.

Dari sisi pariwisata, meskipun belum tergali maksimal, antara alam dan kebudayaannya, telah banyak membuat dunia takjub. Jumlah pengunjung provinsi ini adalah pelancong nasional dan turis asing dengan pengeluaran harian yang tinggi (wisata ekslusif)

Dari sisi sumberdaya manusia. Etnik Lampung dan Jawa yang mayoritas secara umum mempunyai kemampuan intelijensia yang sangat baik. Sejak era kemerdekaan hingga sekarang berseliweran tokoh dari provinsi ini di panggung nasional dan global. Baik pada kategori ekonomi, militer, birokrasi, sosial budaya dan politik.

Relasi antar etnik di provinsi ini tertata secara harmonis, letupan selalu dapat dilokalisir. Bahkan, Lampung telah lama menjadi laboratorium nasional yang penting dalam membangun kebangsaan Indonesia. Ini modal sosial paling penting dalam seluruh aspek pembangunan wilayah.

Dengan situasi makro dan mikro ekonomi yang demikian baik, mengapa tingkat laju kesejahteraan belum melesat dengan cepat?

Ada hal-hal yang terlupakan, bahwa perkembangan sektor pertanian, perikanan, kehutanan dan perikanan darat dan laut meskipun bisa terus ditingkatkan tidak akan mampu menyerap kelebihan tenaga kerja produktif pedesaan dan perkotaan yang terus tumbuh.

Selain itu, ada ketimpangan dalam proses industrialisasi khususnya perkebunan dan pesisir kelautan yang telah ada. Bahkan industrialisasi yang menyimpan konflik dan bara sosial. Masalah ini telah menghasilkan stagnasi di bidang ekonomi rakyat di wilayah tersebut dan instabilitas politik.

Seperti diketahui, Industri gula misalnya memiliki tanah yang sangat luas dan berada dalam bara konflik agraria. Begitu juga sektor perkebunan lain, dan perikanan darat (tambak udang). Masalah agraria yang berlarut-larut semacam telah membawa kerugian besar yang tidak diperhitungkan.

Bisa jadi Industri penyuplai, industri pengolah, juga industri produk turunan lain yang seharusnya ada tidak tumbuh karena analisa konflik sosial ini.

Pemain lama juga tidak ada rencana investasi tambahan untuk memperkaya jenis produk dari bahan baku yang ada. Mungkin karena sibuk mempertahankan industri yang sudah ada.

Singkatnya, dari sisi pemerintah daerah, politisi, akademisi, masyarakat dan pengusaha, energi sosialnya terserap habis dalam pusaran masalah agraria berdekade.

Tentu Lampung butuh industrialisasi di wilayah-wilayah pertanian, perkebunan dan perikanan ini dengan cara yang baru. Industrialisasi pertanian warisan Orde Baru yang menitikberatkan penguasaan lahan-lahan besar dimiliki konglomerat mesti dirancang transformasi menjadi lebih berkeadilan. Tanah-tanah masyarakat yang dirampas harus dikembalikan.

Untuk menjamin pasokan industri tetap, maka tanah-tanah yang dikembalikan tata gunanya harus ditanam dalam komoditi yang sama dengan jaminan harga yang adil.

Cara utama menuju titik ideal tersebut adalah menyelesaikan konflik agraria di wilayah-wilayah ini. Sehingga tidak menjadi makanan basi politisi dan angin surga masyarakat.

Adaptasi Industri

Mengingat jalan tol lintas Sumatera yang sedang dibangun, pelabuhan laut internasional dan bandara yang sudah baik. Pemerintaj harus menyambut dengan peta pembangunan Industri khususnya ke kawasan ini.

Dengan demikian, jaringan energi, transportasi, penyiapan tenaga kerja terampil menjadi fokus utama pekerjaan provinsi Lampung mendatang dalam mensinergikam dengan proyek nasional yang ada.

Penting untuk mempunyai konsep utuh dan dijalankan secara berkesinambungan dari desa, kabupaten kota, hingga provinsi untuk mewujudkan Lampung menjadi provinsi industri yang maju dengan berbasiskan desa-desa yang makmur.

Industri Lampung tidak hanya berpotensi tumbuh dari dalam. Karena secara nasional hingga regional Asia, potensi relokasi industri manufaktur ke Lampung sangat besar.

Untuk mengundang mereka, penting untuk membuat birokrasi Lampung menjadi transparan. Sebenarnya transparansi paling mudah dapat dimulai dengan transparansi pendapatan daerah. Membuka diri dalam teknologi informasi dalam mencatat pendapatan daerah akan membuat proses lainnya terbawa arus dalam transparansi tersebut. []

944 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Industrialisasi Lampung

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan