Mengapa Marak Serangan Teror di Kawasan Eropa?

Toni Ervianto

Oleh : Toni Ervianto

Kembali, kawasan Eropa menjadi “sasaran empuk” serangan kelompok teroris. Setidaknya sejak tahun 2015 sampai saat ini ada beberapa negara Eropa yang menjadi korban atau target utama kelompok teror ISIS.

Beberapa negara Eropa yang menjadi korban serangan teror antara lain Belgia, Inggris, Denmark, Perancis,  Jerman, Rusia, dan Swedia. Serangan teror di Eropa diawali dengan pembantaian mematikan di Paris, Perancis.  Pada 7 Januari 2015, dua saudara yang telah bersumpah setia kepada Al Qaeda menembak mati 12 orang di kantor redaksi majalah satire Charlie Hebdo di Paris. Keesokan harinya, 8 Januari 2015, seorang pria yang terhubung dengan kelompok ISIS menembak dan membunuh seorang polisi wanita di pinggiran kota Paris. Pada 13 November 2015, Perancis kembali mengalami serangan teror terburuk. Pelaku teror di tujuh tempat di Paris membunuh 130 orang. Serangan itu baik berupa bom bunuh diri dan penembakan, yang antara lain terjadi di gedung konser Bataclan, beberapa bar dan restoran di Paris, dan di stadion Stade de France. Pada 14 Juli 2016, tepat pada hari libur nasional, seorang pria menabrakkan truk ke kerumunan massa warga di Nice, kota di tepi laut Mediterania, sehingga 86 orang tewas. Kemudian, aksi teror di Champs-Elysees avenue pada 19 Juni 2017.

Serangan teror juga terjadi di Belgia pada 22 Maret 2016, bom bunuh diri yang diklaim oleh ISIS menewaskan 32 orang dan melukai 230 lainnya di Bandara Zaventem dan stasiun metro Maelbeek, Brussels, Belgia. Dua lokasi itu dekat dengan markas besar Uni Eropa.

Kemudian Inggris, pada 23 Mei 2017, saat konser penyanyi Ariana Grande di Manchester diwarnai aksi pengeboman  yang menewaskan 22 orang. Pelakunya “lone-wolf” dari jaringan teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS). Menurut kelompok intelijen SITE di AS, seperti dikutip Associated Press, kelompok teroris telah mengirimkan pesan melalui internet berbunyi “Semoga mereka merasakan apa yang dialami orang-orang lemah di Mosul dan Raqqa, yang kerap diserang dan dibom,”.

Lima orang meninggal pada 22 Maret 2017, tepat setahun setelah serangan di Brussel, ketika seorang pria menabrakkan mobilnya ke pejalan kaki di Jembatan Westminster, London, Inggris dan kemudian menusuk seorang polisi di luar gedung parlemen.

Di Denmark, pada 14 Februari 2015, seorang pria bersenjata melepaskan tembakan ke sebuah pusat kebudayaan di Kopenhagen, Denmark, yang sedang menggelar pertemuan tentang Islam dan kebebasan berbicara.

Pada 19 Desember 2016, seorang pria membajak sebuah truk dan menyandera pembeli di sebuah pasar Natal di Berlin, menewaskan 12 orang. Penyerang itu ditembak mati oleh polisi di Milan empat hari kemudian. Lagi-lagi, kelompok ISIS mengklaim sebagai otak dari serangan itu. Di Rusia, pada 3 April 2017, lima orang teas saat sebuah bom menghancurkan sebuah kereta bawah tanah di Saint Petersburg, kota terbesar kedua setelah Moskwa.

Di Swedia, pada 7 April 2017, pengendara truk menabrak pembeli di luar sebuah pusat perbelanjaan (department store) yang sedang padat pengunjung Stockholm tengah, Swedia, menewaskan lima orang termasuk seorang gadis berusia 11 tahun.

Mengapa ?

Seorang kolumnis untuk harian The New York Observer, John Schindler, menggunggah komentar lewat akun Twitter-nya tak lama setelah serangan 13 November 2015. Sebelum menyatakan bertanggung jawab atas serangan November, ISIS menyebut Paris sebagai “ibu kota prostitusi dan kemaksiatan”. ISIS juga menyatakan bahwa Perancis dan semua negara yang mengikuti jejaknya, menjadi sasaran utama organisasi itu. Kemungkinan lain yang membuat Perancis menjadi sasaran utama adalah keputusan Presiden Francois Hollande bergabung dengan koalisi anti-ISIS pimpinan AS.

Will McCants, pakar ekstremisme dan penulis buku “The ISIS Apocalypse” menyebutm, serangan November itu bisa jadi merupakan peringatan agar Perancis menghentikan serangannnya di Suriah. “Sebenarnya musuh utama ISIS adalah Amerika Serikat dan pasti AS berada di daftar teratas sasaran ISIS. Namun, ISIS kesulitan memasukkan para simpatisannya ke wilayah AS,” tambah McCants.

Sementara itu, koresponden The New YorkerGeorge  Packer, yang pernah meliput perang Irak, menduga pinggiran kota Paris merupakan lahan subur perekrutan anggota kelompok radikal.

“Perancis memiliki berbagai jenis kawasan pinggiran, tapi ada salah satu istilah yang khusus yaitu banlieus, yang berkonotasi sebagai kawasan kumuh yang didominasi imigran,” tulis Packer dalam artikel berjudul “The Other France”.

“Di dalam banlieues terdapat cités yaitu sebuah bangunan permukiman massal yang didirikan di masa sesudah perang. Ditujukan sebagai permukiman pekerja, kini menjelma sebagai kawasan miskin dan isolasi sosial. Para penghuni cités adalah subyek kecurigaan dan kebencian di Perancis,” tambah Packer.

Para penghuni banlieues ini sebagian besar adalah imigran asal Aljazair yang hingga 1962 merupakan bagian dari Perancis Raya, sebelum merdeka setelah menjalani perang kemerdekaan yang brutal selama delapan tahun.

John R Bowen, profesor ilmu antropoligi dri Universitas Washington di St Louis, AS dalam opininya yang dimuat majalah TIME awal tahun ini, dia mengalisa penyebab kerapnya Perancis menjadi sasaran serangan teror. Bowen menyebut adalah sejarah negeri itu dengan Aljazair dan dunia Islam pada umumnya, mengundang banyak imigran ke negeri tersebut. Mereka ini kebanyakan tinggal di kawasan miskin di Paris, Lyon dan berbagai kota industri di wilayah utara Perancis. Usai masa industri, banyak pabrik ditutup tetapi para pekerja asal Afrika Utara itu tetap tinggal di Perancis dan tetap dianggap bukan warga Perancis sepenuhnya. Keterisolasian dan kemiskinan menjadi bibit kemarahan terpendam sekaligus menjadi ladang subur perekrutan anggota kelompok radikal.

Greg Barton, akademisi dari Univesitas Deakin, menyebut Perancis adalah salah satu negeri demokrasi yang paling multikultur di dunia. Di jantung sistem demokrasi Perancis terdapat apa yang disebut sebagai “laicite” atau sebuah bentuk sekularisme ekstrem. Di satu sisi kebijakan ini ingin memisahkan urusan kenegaraan dan agama, tetapi di sisi lain kebijakan ekstrem ini membuahkan kesulitan tersendiri.

Akibat kebijakan ini, sulit untuk mendata jumlah penduduk keturunan imigran di negeri itu. Sebab sesuai kebijakan “lacite” tak diperkenankan mengumpulkan data berbasis etnis dan agama yang dianut warga.

Namun, diperkirakan sekitar 5 juta warga Perancis memeluk agama Islam atau sekitar 7,5 persen dari total populasi.  Ini menjadikan Perancis adalah negeri Eropa dengan populasi Muslim terbesar. Sayangnya sebagian besar dari mereka hidup miskin dengan angka pengangguran para pemuda keturunan imigran ini mencapai 30 persen. Menurut Barton, penyebab kemiskinan dan pengangguran ini tak lepas dari diskriminasi yang diperoleh warga keturunan beragama Islam ini saat mencari pekerjaan.

Serangan teror di Inggris tampaknya lebih dipicu karena negara kerajaan itu adalah salah satu negara Eropa yang sangat dibenci ISIS karena keterlibatannya dalam berbagai perang melawan terorisme, termasuk berkoalisi dalam serangangan udara AS melawan ISIS di Irak maupun di Suriah.

Sedangkan, serangan teror di berbagai negara lainnya di Eropa sepertinya digunakan sebagai pembuktian bahwa sel tidur ISIS di Eropa sudah sangat berkembang, dan ISIS hanya ingin menebarkan ketakutan di kawasan Eropa. Hal ini seperti diuraikan Kaplan (1981) mengatakan bahwa terorisme dimaksudkan untuk menciptakan situasi pikiran yang sangat menakutkan (fearful state of mind). Lebih jauh lagi, situasi ketakutan ini tidaklah ditujukan kepada para korban teroris melainkan kepada audiens (khalayak) yang bisa jadi tidak ada hubungan dengan para korban. Hal senada juga diungkapkan Oots (1990, p.145) yang menulis bahwa terrorisme dimaksudkan untuk menciptakan “ketakutan yang ekstrim ditengah khalayak yang lebih besar daripada korban langsung.” Terorisme digunakan untuk politik menakut-nakuti (politics of fear). Herman and O’Sullivan (1984) menulis, terorisme telah memberikan  kesempatan bagi para pemimpin di Barat untuk menciptakan ketakutan dan irasionalitas di tengah masyarakat sehingga mereka memberikan kebebasan kepada para pemimpin itu untuk melakukan apa saja. Ketakutan terhadap terorisme efektif untuk memobilisasi massa agar mendukung aksi-aksi militer, dan ini memberikan keuntungan besar bagi industrialis perang. Selanjutnya, ketika suatu negara hancur lebur akibat perang, proyek-proyek rekonstruksi dan eksplorasi minyak pun akan mengisi pundi-pundi para kapitalis Barat, seperti ketakutan Qatar setelah diklam sebagai negara donatur teroris oleh Arab Saudi Cs, kemudian membeli sejumlah jet tempur terbaru dari Amerika Serikat.

Serangan teror ke kawasan Eropa tampaknya tidak akan selesai dalam jangka pendek, karena pasca serangan di Brussels, Belgia, ISIS telah menyiapkan setidaknya 400 orang untuk melakukan gelombang serangan bom bunuh diri di Eropa. Hal ini jelas merupakan keberhasilan ISIS dalam mengembangkan sistem sel teror di Eropa. ISIS memang sangat ingin menyasar “orang Barat”, baik yang berada di bandar udara, stasiun kereta, kantor-kantor pemerintah, dan obyek vital lainya dalam serangan mereka.

Tampaknya, pemimpin Eropa harus memahami pemikiran Durkheim, agar serangan teror ke wilayahnya dapat diminimalisir. Sosiolog Emile Durkheim dalam bukunya Suicide, 1954 mengatakan, seseorang dalam beragama dapat melakukan aktivitas bunuh diri altruistik, sebuah bunuh diri yang dilakukan para penganut agama karena keyakinannya pada paham yang dianutnya.

*) Penulis adalah alumnus pasca sarjana Universitas Indonesia.

619 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan