‘Mengebiri’ Pelaku Kejahatan Seksual

Bella Cintania (IST)

Bella Cintania

Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

 

KASUS pelecehan seksual yang semakin marak membuat masyarakat terutama perempuan semakin resah. Karena menurut jumlah kasus yang dilakukan, pelaku pelecehan seksual tidak hanya mengincar korban perempuan dewasa ataupun remaja, tetapi juga anak-anak.

Walaupun keberadaan dan kebebasannya perempuan saat ini sudah diakui kesetaraannya dengan laki-laki, tetapi masih banyak terdapat oknum yang menganggap perempuan adalah hanya sebuah alat pemuas untuk nafsu mereka.

Sampai sekarang banyak aktivis dan organisasi juga lembaga yang mengajak masyarakat dan meminta pemerintah untuk lebih melakukan pengawasan dan hukuman yang lebih tegas kepada pelaku kejahatan seksual saat ini. Salah satunya adalah hukuman kebiri. Karena dengan mengebiri pelaku kejahatan seksual, masyarakat menilai ini bisa memberikan efek jera kepada pelaku dan meminimalisir kejahatan seksual di kemudian hari.

Namun hal ini banyak menuai pro dan kontra karena kebiri dinilai tidak hanya menyakiti pelaku secara fisik, tetapi juga secara mental.Atau secara sederhana, zat kimia yang akan dimasukkan ke dalam tubuh akan mengurangi atau bahkan menghilangkan kesempatan bagi mereka untuk melakukan kejahatan yang sama (dikutip dari RUBRIK “Kebiri Kimia”).Kebiri berdampak pada hilangnya nafsu secara seksual atau libido, dampak pada kesehatan fisik yang lain adalah otot berkurang, lemak meningkat, gairah dan semangat hidup berkurang.

Baca Juga:  Banjar Agung Zona Merah Tindak Kejahatan Seksual

 

Pro Hukuman Kebiri

Kejahatan seksual yang marak terjadi adalah pemerkosaan. Pada hal terkait, keperawanan atau virginity adalah suatu mahkota perempuan yang layaknya harus dijaga sebagai bentuk kehormatan diri. Dan keperawanan bukanlah sesuatu yang bisa diambil kembali yang kemudian menyebabkan pemikiran bahwa kebiri adalah suatu hukuman yang tepat karena dianggap setimpal dengan kehilangan dan trauma mental yang dirasakan dan didapat korban. Karena trauma, tidak sedikit korban kejahatan seksual yang memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri daripada harus merasakan ketakutan dan malu seumur hidup. Untuk harus merasakan jera dan tanggung jawab atas kejahatan yang pelaku lakukan, yaitu kejahatan yang dilandasi dengan hawa nafsu, maka dimatikannya alat untuk menyalurkan hawa nafsunya tersebut dianggap setimpal dan bisa menghentikan korban untuk melakukan kejahatan yang sama. Jika pelaku sudah menyelesaikan hukuman lain yang saat ini masih dilakukan aparathukum (bukan dikebiri), pelaku dianggap masih bisa dengan leluasa dan bebas untuk meluncurkan aksinya lagi. Karena ia masih memiliki hawa nafsu dan masih bisa menyalurkan hawa nafsunya tersebut. Hukuman dari aparat hukum diantaranya kurungan penjara dan denda dianggap kurang bahkan tidak efektif, karena tidak menimbulkan efek jera bagi pelaku, sehingga ia masih bisa meluncurkan aksinya lagi untuk melakukan kejahatan seksual di kemudian hari.

Baca Juga:  Polres Lampung Timur Perangi Tindak Kejahatan Seksual

 

Kontra Hukuman Kebiri

Kebiri bukanlah jawaban dari apa yang menjadi pelik masalah kejahatan seksual dimana perempuan yang selalu menjadi korbannya. Kenapa pelaku kejahatan seksual bisa dengan mudah melancarkan aksinya? Itu karena ia memiliki peluang. Ini merupakan salah satu contoh  belum suksesnya pendidikan mental dari orang tua ataupun dari bangku sekolah dan belum meratanya pendidikan seks di Indonesia. Masih banyak laki-laki yang memiliki masalah mental dan psikologi atau “psychology disorder” yang umumnya memiliki tiga faktor penyebab yaitu, faktor biologis, faktor psikologis, dan faktor sosial budaya serta lingkungan. Apakah kejahatan seksual bisa disebut kriminalitas? Jika alat penyalurnya yang dihilangkan, mungkinkah pelaku tidak akan melakukan tindakan kriminalitas yang lain? Kebiri tidak menjamin hal tersebut.

Pelaku kejahatan memiliki masalah mental, masalah jiwa sehingga mudah terpancing pikirannya untuk melakukan kejahatan. Kenapa pemerintah tidak memperhatikan masalah kejiwaan pelaku daripada harus memotong alat genital yang bisa menambah gangguan jiwa yang lain?

Baca Juga:  Polres Lamteng Amankan 10 Pelaku Kejahatan Seksual

Jika kebiri adalah jawaban dari akar permasalahan kejahatan seksual saat ini, kenapa tidak kita bunuh saja pelakunya? Kenapa tidak kita potong saja jiwa dan mentalnya daripada hanya harus memotong alat kelaminnya? Karena bukan itu yang menjadi pemicu perlakuan kejahatan seksual. Contohnya pedofilia, salah satu faktor penyebabnyaadalah kurangnya pengawasan orang tua kepada anak. Jika kebiri adalah hukumannya, akankah orang tua akan semakin peduli dan memperhatikan anaknya lagi karena telah merasa anaknya terlindungi karena hukuman kejahatan yang dianggap sangat berat. Sehingga pelajaran kepada anak tentang pendidikan seks dan pelindungan diri dari ancaman seksual pun tidak akan diberikan secara maksimal. Jika dampak terburuk yang dirasakan korban adalah bunuh diri, bukankah ‘mengebiri’ juga sama saja dengan membunuh pelaku? Shouldn’t we should help others soul? Because all life matters. Not only one who call themselves a victim. []

1,200 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Kebiri Kejahatan Seksual

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan