Menyulap Embung Jadi “Lumbung”, Duet Ulung Pemkam-BUMKam Sidoharjo, Penawartama

Destinasi ekowisata Embung Permai, Kampung Sidoharjo, Kecamatan Penawartama, Tulang Bawang, Lampung. Foto: Istimewa

TULANGBAWANG – Dari, oleh, untuk kampung. Ungkapan ini pas guna mengilustrasikan “jimpitan” semangat membangun dan mengejar pemajuan warga Kampung Sidoharjo, Kecamatan Penawartama, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung.

Kesan mendalam terpatri, tradisi gotong royong, budaya tepo seliro dan solidaritas organik masih relatif kental tertanam dalam rerata keseharian warga kampung yang rutin berswadaya bersih lingkungan tiap Jum’at dan Minggu ini.

Arus deras pembangunan nasional sektor perdesaan sesuai diktum Nawa Cita Presiden Jokowi, membangun Indonesia dari pinggiran, membangun Indonesia dari desa, cukup entas penampakan di kampung 1.155 hektare ini.

Ya, kampung hasil transmigrasi lokal Desember 1985 yang mekar jadi kampung persiapan –masuk wilayah Kecamatan Menggala, Kabupaten Lampung Utara– pada 1986 itu, terus menapak bangun bentang alamnya yang berbatasan dengan Kampung Tri Rejomulyo dan Rejosari di sebelah timur, Sidomulyo dan Sidomakmur di sebelah barat, Sidodadi di selatan, dan Tri Tunggal Jaya di utara, didukung penuh 1.268 kepala keluarga dengan lebih dari 4.119 jiwa penduduknya.

Di kampung bertopografi dataran tinggi dengan ketinggian dua mil di atas permukaan laut (Dpl) yang naik status jadi kampung definitif pada 1998, dan sesuai Perda Tulang Bawang Nomor 27/2004 resmi ikut mekar jadi bagian Kecamatan Penawartama pada 2005 itu, tradisi gotong royong yang mengakar kuat disini terbukti efektif jadi modal sosial tak tertawar.

Termasuk sejak berdirinya Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam) Diponegoro milik kampung yang pada 17 Juli 2018 nanti akan mewakili Kabupaten Tulang Bawang untuk kategori umum dalam perhelatan Lomba BUMDes tingkat Provinsi Lampung 2018.

Baru-baru ini, Kampung Sidoharjo sempat menyita perhatian khalayak ramai di kabupaten sentra agrobisnis tersebut, dengan launching destinasi ekowisata  berbasis embung desa.

Embung Permai, demikian Kepala Kampung (Kakam) Sidoharjo Iwan Santoso mengusulkan namanya pada satu kesempatan rapat dan disepakati bersama pengurus BUMKam.

Kepada redaksi, Kakam Iwan Santoso mengisahkan liku-liku perjuangan kolektifnya bersama warga hingga sukses hasil melalui viralnya destinasi Embung Permai setelah dibuka untuk umum pada 21 Mei 2018 lalu.

Melalui Peraturan Kampung Sidoharjo 12/2016 tentang Pembentukan, Pendirian, Pengelolaan dan Pembubaran BUMKam, dengan modal penyertaan perdana sebesar Rp. 29.305.500,- secara bertahap BUMKam Diponegoro telah bisa memetik hasil dari unit usaha kelolaannya.

Seiring waktu, dengan teratribusinya budaya korporat yang dikembangkan dalam keseharian kerja kelembagaan BUMKam Diponegoro yakni mandiri, sinergis, dan amanah, predikat membanggakan mulai digadang banyak pihak atas capaian hasil nyata BUMKam yang dinahkodai Agus Tri Puryanto itu.

Bagaimana progres program Dana Desa di kampung pekebun karet, petani ubi kayu, dan kelapa sawit, yang dekat dengan lokasi perkebunan kelapa sawit PT. Sumber Indah Perkasa, anak perusahaan Sinar Mas Grup itu?

“Karena Dana Desa sifatnya stimulan, maka harapan kami sebagian Dana Desa yang ada bisa dikelola melalui BUMKam sehingga bisa dapat hasil yang bisa menyumbang Pendapatan Asli Desa (PADes) kami, tak habis begitu saja,” ujar Iwan Santoso berharap, saat dikonfirmasi redaksi melalui jejaring WhatsApp, Sabtu (14/7/2018), siang.

“Pendirian BUMKam Diponegoro dimaksudkan untuk menampung seluruh kegiatan bidang ekonomi dan/atau pelayanan umum yang dikelola kampung dan/atau kerjasama antar kampung. Pembuatan Embung Permai salah satu cara,” kata Iwan, yang juga ketua Forum Kakam se-Kecamatan Penawartama tersebut.

Dipaparkan Iwan, dari delapan tujuan pendirian BUMKam Diponegoro, meliputi peningkatan perekonomian; optimalisasi aset kampung agar bermanfaat untuk kesejahteraan masyarakat; meningkatkan usaha masyarakat dalam pengelolaan potensi ekonomi; dan mengembangkan rencana kerjasama antar kampung dan/atau dengan pihak ketiga.

“Lalu menciptakan peluang dan jaringan pasar yang mendukung kebutuhan layanan warga; membuka lapangan kerja; meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perbaikan layanan umum, pertumbuhan dan pemerataan ekonomi; dan meningkatkan pendapatan masyarakat dan pendapatan asli Kampung Sidoharjo, semua kami jalankan sesuai standar prosedur operasi dan peraturan perundangan yang ada,” papar dia.

Diakui, meski banyak kekurangan fasilitas sarana prasarana penunjang destinasi ekowisata Embung Permai, terus diupayakan pemenuhannya, disisihkan dari pendapatan guna perputaran modal usaha menjanjikan itu.

Pemandangan alami khas embung desa yang lumayan Instagrammable ini, alih-alih sore hari jelang sunset misalnya, memang jadi daya pikat tersendiri bagi siapa pun Anda, Sidang Pembaca, untuk minimal berencana untuk mengunjunginya.

Jarak tempuh dari Menggala sebagai ibu kota kabupaten yang lumayan jauh, sekitar 85 kilometer, pun tak menyurutkan semangat Kakam Sidoharjo. Lagi-lagi dia berharap, terobosan inovatif kampungnya bisa mengangkat derajat ekonomi rakyatnya, dengan serapan tenaga kerja lokal sejak awal hingga ke depannya.

“Embung Permai ini harapan. Kami harap Embung Permai jadi ikon desa kami Pak, jadi ada sesuatu yang menjadi unggulan kami. Kenal Embung Permai, berarti kenal Sidoharjo,” pungkas Iwan Santoso, setengah berpromosi. (*)

467 kali dilihat, 13 kali dilihat hari ini

ekowisata Embung Permai

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan