Miris…10 Ton Kedelai di Lampung Utara Terbengkalai

ist

KOTABUMI—Nasib tragis dialami para petani kedelai di Kabupaten Lampung Utara. Hasil panen mereka diawal tahun ini tak membuahkan keuntungan apa-apa karena tak laku dijual lantaran harga yang sangat rendah.

Ketua Kelompok Tani (Poktan) Sinar Banten, Kecamatan Hulu Sungkai, Sucipto mengatakan, saat ini ada sekitar 10 ton hasil panen kedelai yang menumpuk di gudang petani dan belum terjual. Sejak panen raya akhir Desember 2017, petani kedelai sudah kesulitan menjual hasil panen.

“Harga yang ditawarkan pengepul sangat rendah dan tidak sesuai dengan modal yang dikeluarkan petani,”  kata dia Minggu (7/1).

Dia memaparkan, pihak pengepul hanya menawar dengan harga Rp4.500/kg – Rp5.000/kg. Harga ini sangat tidak sebanding dengan biaya modal dan perawatan selama masa tanam.

“Modal yang harus dikeluarkan petani dari tanam sampai panen di usia 90 hari saja sudah menghabiskan modal baik itu untuk upah tanam, pupuk, pestisida, penyemprotan maupun biaya lain sekitar Rp5 juta/hektare. Petani tidak mendapat keuntungan apapun bahkan cenderung mengalami kerugian,” kata Sucipto.

Untuk itu, pihaknya sangat berharap pemerintah setempat campur tangan pemerintah dalam menstabilkan harga jual kedelai di Lampung Utara.

Kondisi yang dialami para petani kedelai ini tentu kontras dengan semangat Pemerintah Provinsi Lampung yang mengejar swasembada kedelai.

Untuk meningkatkan produksi kedelai, Dinas TPH Lampung bahkan menambah luasan tanam sebesar 50 hektare. Saat ini kebutuhan kedelai Lampung mencapai 100 ribu ton per tahun. Sedangkan produksi Lampung masih berkisar 7.500-10 ribu ton.

Lampung Utara mendapat jatah penanaman kedelai seluas 635 hektare yang tersebar di tujuh kecamatan, yakni Sungkai Utara, Bunga Mayang, Kotabumi Utara, Sungkai Selatan, Sungkai Tengah, Abung Timur dan Hulu Sungkai.

“Kami menargetkan kedelai juga bisa swasembada seperti jagung dan padi. Ini memang tidak mudah, tapi harus kita mulai,” kata dia.

Menurut Edi Yanto, saat ini produktivitas kedelai di Lampung kurang dari satu ton per hektare. Idealnya produksi kedelai paling rendah 1,2 ton/ha. Kelemahan utama swasembada kedelai adalah produksi  dan perbanyakan benih. Kemudian, keterampilan dan keterbatasan jumlah sumber daya manusia.

Ia menyebutkan, pemilihan varietas kurang tepat dengan kondisi lahan di Lampung, juga berpengaruh dalam produksi. Karena itu, para tenaga teknis tersebut ditargetkan mampu memilih varietas yang adaptif sesuai kondisi lahan di Lampung.

“Contohnya, pernah ditanam benih grobokan, ternyata varietas itu tidak cocok di Lampung. Setelah diteliti ternyata varietas yang cenderung cocok untuk kondisi Lampung yaitu anjasmoro, detam, dan gema,” kata dia. (*)

harga kedelai anjlok petani kedelai lampung utara

Posting Terkait