MPAL Sampaikan 5 Petisi

KOTAAGUNG – Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) Tanggamus menyampaikan lima petisi menjaga kelestarian adat istiadat budaya Lampung saat musyawarah adat di Kelurahan Kuripan, Kecamatan Kotaagung, Selasa (19/12).

Lima petisi itu disampaikan Yurizal Sempeno Gelar Wira Krama itu, yakni agar mengangkat kembali tradisi melawai dibuat pesta besar, pemberian gelar Batin Mangunang dengan RSUD Tanggamus menjadi RSUD Batin Mangunang.

Menggunakan bahasa Lampung Pesisir dengan lembaga pemerintahan Tanggamus dan instansi yang lain serta lembaga pendidikan supaya dilaksanakan sehari dalam seminggu dan dijadikan peraturan daerah (Perda).

Memakai pakaian adat teluk belanga bagi laki laki dan kebaya tapis bagi perempuan supaya dilaksanakan sehari dalam sebulan dan dijadikan perda.

Pemberian nama rumah adat Tanggamus menjadi rumah adat Andan Muakhi Tanggamus, serta penetapan SK tim Formatur MPAL Tanggamus periode 2017-2022.

Baca Juga:  Kemenag Peringati HUT ke-72

“Petisi Berdasarkan surat permohonan dari dewan komite kehormatan Sai Batin Tanggamus 14 November 2017 kepada Bupati Tanggamus dan agar kiranya petisi yang telah saya sampaikan tersebut dijadikan pedoman dan kiranya ditetapkan menjadi peraturan daerah,” jelas Yurizal.

Wakil Bupati Tanggamus Samsul Hadi gelar Pangeran Penata Tanggamus Satu menyambut baik petisi itu. Dalam waktu, akan dibuatkan peraturan bupati (Perbup) terlebih dahulu.

Sedangkan untuk nama rumah sakit telah dibuat peraturan daerah (Perda) dan telah diajukan kepada DPRD. Serta pada 21 Desember nanti akan disahkan.

“Kenapa harus kita ganti namanya menjadi Batin Mangunang karena nama tersebut belum pernah kita gunakan untuk nama apapun, anak-anak kita juga sebagian besar tidak tahu,” ujar bupati.

Baca Juga:  Lampung terpilih sebagai lokasi kegiatan CCCD

Untuk itu nama Batin Mangunang akan digunakan menjadi nama RSUD, ini tujuannya untuk memberikan kebanggaan bahwa dahulunya mempunyai pejuang yang luar biasa.

Kelestarian adat istiadat harus senantiasa dilakukan ini supaya agar adat budaya tidak hilang dan tergerus, untuk mengantisipasi hal itu diperlukan kerjasama antara tokoh adat dan juga Pemkab agar adat istiadat tetap lestari.

Sekarang banyak anak-anak yang mungkin ibu dan bapaknya asli Lampung tapi tidak lagi paham bahasa Lampung, selain itu peninggalan orang tua dan sesepuh kita seperti kesenian juga perlahan tergerus karena pesatnya tekhnologi.

Baca Juga:  Lampung Jadi Sentral TNI AL

“Untuk itu mari kita bersama-sama bagaimana mengenalkan kembali kesenian dan tradisi budaya Lampung, agar anak dan cucu kita memahami dan mempelajarinya,” kata wakil bupati.

Kepala Disbud Tanggamus Gandung Hartadi menyampaikan dasar pelaksanaan kegiatan tersebut yakni DPA Dinas Kebudayaan Tanggamus 2017, serta hasil musyawarah pertama untuk menyampaikan hal-hal yang dipandang perlu dijadikan peraturan daerah sehingga memiliki dasar hukum ke depannya.

Tujuan dilaksanakannya musyawarah ini adalah untuk bersama-sama menjalin silaturahmi dan membangun budaya Tanggamus yang luhur ini agar kedepan Tanggamus lebih agung dan lebih bijaksana.

“Sehingga Tanggamus tidak dipandang sebelah mata oleh kabupaten lainnya, yang mana budaya menjadi pijakan kita semuanya dalam kehidupan sehari-hari,” tandas Gandung Hartadi.(SB/CD)

5 Adat Lampung Majelis MPAL Penyimbang Petisi Sampaikan Tanggamus

Posting Terkait